Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Februari 2019

Bingkai Buram Senja

Dingin. Tetes-tetes sisa hujan yang menghuni serat dedaunan pohon raksasa itu menjentik kepalanya yang sudah basah kuyup. Ujung-ujung rambutnya yang ikut meneteskan air menambah dingin tubuhnya. Badannya menggigil, berkali-kali suara bersin terdengar, sesering ia menghembuskan ingusnya. Badan yang ia dudukkan di atas batang pohon tumbang itu dipeluk erat oleh kedua tangan mungilnya, sekedar berusaha menahan rasa dinginnya. Bibirnya pucat, geliginya bergemeletuk, karena bersinggungan satu sama lain. Matanya yang berair liar menatapi setiap orang yang lewat dengan berlari kecil menutupi kepala dengan tangan. Ia terlihat tengah menunggu seseorang, yang mungkin akan menjemputnya.
Sahut menyahut nyanyian petir menggelegar membelah angkasa. Langit seakan rapuh dan menyerah untuk bertahan. Namun tampaknya itu gemaan terakhirnya. Petang yang harusnya hangat itu tidak lagi romantis oleh lukisan alam senja. Tidak tampak jingganya langit yang biasanya menghias kepergian senja menjemput gelapnya malam. Hanya terbingkai kelam dan berkabut.
Setapak kemudian, lelakinya datang dengan tergesa. Tubuhnya lembab –tidak sampai basah– rambutnya yang panjang terurai berlari kecil seirama langkah kakinya yang jenjang. Kharismanya masih seperti pangeran dengan kedua tangannya membawa handuk dan sebuah botol, sepertinya itu kopi hangat.
“Kamu nggak papa?” tangannya yang memegang handuk sudah melingkari handuk ke tubuh perempuannya, tangan satu lagi menyodorkan kopi hangat itu. Dan tangan yang terbebas mulai memegang dahi perempuannya dengan lembut, penuh cinta, untuk memastikan tidak ada tanda-tanda perempuannya akan demam.
“Kamu kenapa cemas banget sih, aku nggak apa-apa kok. Ini baru basah karena hujan. Never mind.” Jawabnya dengan suara serak bergemetar sambil meminum kopi hangatnya.
“Jelas saja aku cemas, setiap kali turun hujan pasti dingin akan selalu melanda, dan setiap itu pula tubuhmu akan menggigil kedinginan dan flumu pun akan kambuh.” Dirabanya kantong celana untuk menemukan beberapa bungkus tisu yang juga telah ia siapkan.
“Biar aku saja.” Diambilnya cepat tisu dari tangan lelakinya itu. Ia memang tidak ingin terlalu dimanja. Lelakinya datang untuk membawakan ini semua saja sudah membuatnya merasa tidak enak, karena diperlakukan seperti ratu. Ia tidak ingin orang-orang berpikiran macam-macam. Ia tidak ingin orang-orang berpikiran kalau lelakinya adalah budaknya.
“Kamu jangan keluar hujan-hujan lagi, ya.” Tangannya kini mulai beralih memegang handuk dan mengusap-usap lembut kepala perempuannya. Mengeringkan rambutnya yang basah. Tangan perempuan itu meraih tangan lelakinya. Seketika pekerjaan tangan laki-laki itu terhenti.
“Aku nggak mungkin juga bakal keluar kalau hujan. Tapi hujan kali ini kan mendadak banget datangnya. Aku aja hampir nggak bisa nyariin tempat berteduh tadi. Kamu bisa liat, di sekitar sini tempat yang paling bisa buat berteduh ya cuman di bawah pohon yang gede ini doang.” Lelaki itu kembali menyuguhi perempuannya dengan senyuman.
“Iya, tapi andai aja tadi kamu mau aku jemput lebih awal, kan nggak bakal gini juga kejadiannya sayang.” Perempuan kemudian mengangkat wajahnya, mencoba melakukan pembelaan.
“Ya, udah terlanjur, mau digimanain lagi coba? Kan kita sama-sama nggak tau kalau sore ini bakal turun hujan, orang tadi siang panasnya terik banget.” lelaki itu hanya mengangguk maklum sambil kembali tersenyum. Dilanjutkannya mengusap-usap rambut ikal perempuannya yang melurus karena air hujan.
“Kamu nggak papa kan?” suara yang mulai serak itu tampak ikut mengkhawatirkan sosok di hadapannya itu.
“Jelas aku nggak papa.” Senyum keduanya beradu melalui pandangan mata penuh cinta.
“Tapi kamu kan juga basah.” Tangannya spontan memegang ujung lengan baju lelaki tersebut.
“Basahnya aku nggak kuyup. Nggak separah kamu. Lagian aku kan nggak papa kalau kena hujan. Nggak bakal bersin-bersin kayak gini nih”. Lelakinya tertawa renyah begitu perempuannya kembali bersin-bersin, tiada henti.
“Makasih, sayang. Untuk semuanya. Aku sayang kamu.” Perempuan itu akhirnya mengalah dari perdebatan, bersin berkali-kali seperti menguras tenaganya. Lelaki itu tersenyum sangat puas. Mungkin kalimat itulah yang ingin didengarnya sedari tadi. Refleks, dipeluknya perempuannya erat. Kepala yang rambutnya basah itu diciuminya berkali-kali.
“Aku juga sayang banget sama kamu. Ini semua aku lakuin buat ngasih apapun yang bisa aku kasih.” Ia terdiam sejenak mengatur napasnya yang mulai diburu emosi, kemudian melanjutkan. “Mungkin aku emang nggak bakalan selalu bisa bikin kamu ketawa, tapi selagi aku bisa, aku akan usahain akan selalu ada buat kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu, sayang.” Pelukan itu kembali erat. Segala rasa cinta membaur di dalamnya. Jelas tampak dari kedua mata berseri itu, mereka sungguh bahagia. Seakan dunia mereka berdua yang menghuninya.

Sedangkan, tidak jauh dari sana…
Kuambil tisuku yang terakhir. Aku baru sadar, tisuku sudah habis untuk mengelap ingusku. Kutatap lagi lelakiku yang dulu itu. Sungguh ia tak pernah tampak sekhawatir itu padaku dulu. Padahal badanku juga akan gemetar, dan flu ku juga akan kambuh setiap kali hujan menghujam.
Tidak ada yang kutunggu di sini. Tidak ada juga yang akan datang menjemputku dan membawakan segelintir perhatian padaku.
Kubuang tisu terakhirku, kemudian perlahan mencoba bangkit dari tempat dudukku yang dingin. Sebelum benar-benar beranjak, kuarahkan pandanganku ke sana, kupastikan sekali lagi. Lelakiku dulu sangat bahagia dengan perempuannya yang sekarang. Jadi aku harus bisa yakinkan diriku untuk tidak lagi berharap padanya, untuk tidak lagi diam-diam masih menyimpan harapan dan cinta padanya.

Jumat, 19 Januari 2018

,








   Maaf, aku bosan. Dan mulai terpikirkan untuk menyerah.

Jumat, 15 Desember 2017

Hari Ibu

Siapa sih yang nyiptain tanggal 22 sebagai hari ibu? Andai tidak pernah ada tanggal yang dikhususkan untuk merayakan hari ibu. Tentu air mata ini tidak keluar lagi –seperti tahun-tahun lalu–.
*
Aku merunduk mencari sendalku di tumpukan rak sepatu. Pagi itu aku ingin keluar membeli gula. Persediaan gulaku sudah habis. Sedangkan hasrat untuk ngopi tidak terbendung lagi. Di warung aku bertemu anak-anak tetangga yang tengah asyik bercakap-cakap.
“Jadi nanti malam kamu bakal ngajak mama kamu makan di restoran sama papa kamu?”
“Iya dong. Kalau kamu? Bakal ngerayain hari ibu ke mana?”
“Aku sih cuma di rumah sambil potong kue dan berfoto bersama, tidak lupa berdoa untuk ibu. Trus, kamu kasih kado apa buat mamamu?”
“Aku sama papa beliin mama baju. Hehe… kalau ibumu?”
“Foto kami sekeluarga bersama ibu, kubingkai dalam bingkai yang besar sekali. Nah… itulah kado spesialku untuk ibu.” Keduanya tertawa bersama. Kemudian mereka mulai sadar kehadiran mataku yang tak lepas menatap mereka. Seketika mereka terdiam. Seperti salah tingkah, dan tak lama memutuskan untuk pergi. Aku hanya menghela nafas.
Tidak hanya di warung, di seluruh akun jejaring sosial, setiap aku membuka halaman home, selalu terbaca “Selamat hari ibu. Hari perempuan hebat yang cintanya tak pernah palsu.” Begitulah kira-kira kalimatnya. Entah kenapa, rasanya aku (lagi-lagi) merasa tersindir dan tersisih sendiri.
*
“Dinda, ada orang tua kaya ingin bertemu kamu. Mungkin kali ini giliranmu.” Aku bangkit dengan ogah-ogahan memenuhi panggilan Kak Fatimah, kakak yang menjadi kakak anak-anak di panti ini. Meski giliran yang ia maksud adalah impian sebagian besar anak di panti ini, tapi aku merupakan salah satu anak yang enggan untuk diadopsi.
Ketika aku sampai di ruang tamu, kedua suami-istri muda itu menatapku sambil tersenyum, membalas wajah cemberutku.
“Dinda berapa umurnya?”
“13” jawabku jutek. Perempuan yang lebih pantas kupanggil kakak itu bertanya lagi.
“Dinda sekolah di mana?” sebelum menjawab, kualihkan pandangan ke arah Bu Siti, meminta penjelasan kenapa aku yang dipanggil ke ruang tamu ini, namun Bu Siti hanya diam menatapku.
“SMP Pamungkas”
“Juara ya, di sekolah?” aku hanya mengangguk dan menunduk. Khawatir kalau memang suami-istri muda ini menginginkan aku sebagai anak angkatnya.
“Dinda, tau, ini hari apa?”
“Minggu.” Jawabku. Keduanya tertawa.
“Iya, tapi ada peristiwa apa yang diperingati di hari ini?” sudah pasti maksudnya adalah hari ibu. Tapi aku enggan menjawab.
“Gini sayang, bunda sama ayah mau ngajak Dinda jalan-jalan buat memperingati hari ibu. Bu Siti udah ngizinin. Dinda mau ya?” aku menatap mata perempuan yang menamai dirinya bunda itu. Terlihat tulus. Atau memang disetting begitu oleh riasan tebalnya? Entah… kemudian kulihat Bu Siti mengangguk. Aku kembali tertunduk. Kemudian memutuskan…
*
Ibu? Mama? Atau siapapun panggilan untuk perempuan yang melahirkan anak itu. Sama sekali aku tidak pernah tau sosoknya. Kelam. Tak ada gambaran. Tapi yang jelas, yang kutahu hanyalah…
Perempuan itu telah membuangku. Perempuan itu tidak menginginkan aku menemani hari-harinya. Perempuan itu… tidak mengakui aku.
Jadi, bagaimana bisa aku mengucapkan selamat hari ibu untuk perempuan yang entah di mana itu?
Iya. Aku cemburu dan sangat iri pada setiap kali ada pemandangan ibu menggandeng tangan anaknya atau ibu mencium kening anaknya, tapi hatiku selalu berpaling dari setiap kalimat setiap teman sekolahku.
“Ibu itu orang yang selalu ada untukmu bahkan ketika seluruh dunia berpaling darimu.” Kurasa mereka memang sangat mengagungkan sosok ibu mereka. Tapi mereka lupa. Pada setiap helaan kalimat pujiaan pada ibu mereka, ada hatiku yang teriris. Aku cemburu. Aku iri. Aku juga ingin merasakan hangatnya kasih ibu seperti mereka. Tetapi, di mana ibu kandungku saat ini saja aku tidak tahu. Mendapatkan pelukannya saja aku belum pernah, bagaimana kau bisa merindukan rasa pelukan yang tidak pernah ada?
Kuhapus tetesan terakhir air mataku. Kemudian meneruskan melipat baju bagus yang baru saja kukenakan untuk jalan-jalan dengan ayah dan bunda tadi.

Selasa, 20 September 2016

Si Cantik di Kepulan Asap

Nyaman. Aku masih menikmati kesendirianku di kedai kopi langgananku, tempat aku selalu melepas penat sepulang kerja, –sebelum  kembali ke rumah. Apa yang membuatku menjadikan tempat ini kunjungan wajib di sore hari? Aroma intim dan kelana rasa nikmat dari atmosfernya telah memberi rasa nyamanku mengadukan penat seharian dengan rutinitas kantor yang terkadang membawa stres bersarang di kepalaku. Melepaskannya seiring kepulan asap menguap dari cangkir kopi. Terlebih dari aroma dan atmosfer kedai kopi ini, furnitur dan ornamen kedai kopi ini cocok untuk menarik minat setiap pengunjung berlama-lama dan santai dengan kopi mereka masing-masing. Meski mereka datang sendiri, –sepertiku yang selalu begitu, pengunjung tidak akan pernah merasa bosan. Ada beberapa buku kuno bernuansa filosofi kopi, atau novel-novel modern yang juga memuat cerita senada. Kurasa, pemilik kedai kopi ini sudah menghabiskan banyak waktu untuk mengoleksi semua ini, dan tentu ia adalah pecinta kopi sejati.
Tidak hanya sekadar kedai kopi biasa, di sini, kopinya berbeda. Tidak kutemukan di seduhan kopi yang coba kubuat sendiri di rumah, atau dari kopi di tempat-tempat makan biasa. Kopi yang enak dan pas untuk penikmat kopi. Kedai kopi ini tidak terlalu ramai, tetapi selalu ada pengunjungnya. Sudut-sudut favoritnya tidak pernah kosong.
Ada secangkir kopi hitam hangat yang sudah tinggal seperempat dan kentang goreng yang tinggal beberapa biji di atas meja. Ku arahkan pandangan ke luar jendela yang berembun terkena tempias hujan. Langit kotaku sedang sendu semenjak siang tadi. Untung tidak sampai banjir.
Kusapu embun yang mengaburkan pandanganku ke luar. Kedai kopi yang berada di perempatan jalan, menghadap ke sisi persimpangan yang identik dengan perhentian dan perjalanan kembali kendaraan., identik dengan lampu lalu-lintas. Aku melihat seorang perempuan dengan payung berwarna hitam berjalan menuju sisi trotoar, mungkin ia hendak menyeberang. Iseng, kuamati gerak-gerik perempuan itu. Wajahnya pucat, kuramalkan karena di luar begitu dingin dan ia lupa memakai riasan walau sekadar lipstik. Sungguh pun demikian, wajahnya tetap menarik dan cantik. Ah, mungkinkah kecantikannya yang membuatku tertarik memerhatikannya berlama-lama? Kuperhatikan lagi perempuan yang mengenakan baju terusan sebetis itu hanya diam di samping lampu merah. Mata indahnya terlihat kosong, apakah yang sedang dipikirkannya? Entahlah.
Kuseruput kopi terakhirku dan meraup seluruh kentang goreng ke dalam mulutku. Hujan sudah mulai mereda. Aku harus segera pulang, kalau tidak ingin hujan kembali mengurungku di sini. Kuletakkan kembali buku yang tadi sempat kubaca di tempatnya semula. Kulupakan sejenak perempuan yang masih berdiri di samping tiang lampu lalu lintas itu. Kutinggalkan bersama cangkir kopiku yang sudah kosong.
Keesokan harinya, –seperti rutinitasku biasa, aku kembali ke kedai kopi. Rasanya menyenangkan menghabiskan sisa soreku untuk duduk berlama-lama menikmati kopi sambil memperhatikan kehidupan lalu lintas di sekitarku. Sesekali menghisap satu-dua batang rokok pelepas suntuk.
Aku kembali memilih tempat duduk favoritku, –di samping meja yang tepat mengarah ke arah jalan, kebetulan tempat itu selalu kosong di jam-jam segini. Seolah-olah seluruh pelanggan di kedai kopi itu sudah mematenkan tempat ini adalah milikku kalau sudah sore di ambang senja begini. Setelah pesananku datang, aku tidak langsung menikmatinya, karena kopinya masih terlalu panas, asapnya mengepul di bibir cangkir. Kutelusuri asapnya, sambil meluruskan pandanganku ke luar jendela. Samar-samar, wajah cantik itu tampak dari balik kepulan asap. Kutinggalkan sebentar meja dan santapan soreku untuk membersihkan ujung kemeja dan celanaku yang tadi terkena cipratan hujan ketika mencari parkir motor.
Di dalam toilet aku bertemu dengan dua orang lelaki yang sepertinya tengah membahas sesuatu. Sambil berpura-pura khusyuk membersihkan pakaianku, dengan iseng kubagi pendengaranku dengan obrolan mereka
“Kamu melihat perempuan cantik itu lagi, kan?” tanya si pemilik baju berwarna merah. Ah, meskipun bajunya merah, tetap saja hari ini kembali hujan.
“Iya, seperti biasa, ia hanya berdiri dengan tatapan kosong di sana.”
Mengetahui topik pembicaraan mereka, kupertajam pendengaranku.
“Ternyata bukan cuma aku yang tertarik dengan kecantikannya, kau memerhatikannya juga?” si baju merah menyeringai lebar, sepertinya senang mengetahui bukan ia satu-satunya yang suka memperhatikan perempuan di bawah tiang lampu lalu-lintas itu.
“Iya, karena tiap hari ia berdiri di sana, aku pun jadi tertarik memerhatikannya. Kamu?”
“Ya… selain karena ia memang cantik, aku lumayan penasaan dengan ekspresi yang selalu kutangkap dari wajahnya. Penuh misteri dan mengundang rasa ingin tahu.”
“Kamu kepo juga, ya!” Keduanya kemudian tertawa bersama.
Setelah beberapa saat terdiam, “Apa yang ia lakukan?”
“Menjemput anaknya.”
“Anaknya yang mana? Kemarin gue lihat dia cuma mematung di sana, nggak ada anak-anak, tuh.” Kejar si baju merah makin penasaran.
“Anaknya sudah meninggal setahun lalu.”
“Ha?”
“Iya, kudengar anaknya meninggal karena tertabrak mini bus tahun lalu. Ketika itu ia terlambat menjemput anaknya pulang dari sekolah. Dan entah kenapa, anaknya pulang saja sendiri dan mencoba menyeberang di depan sana. Mungkin ia sangat menyesal karena tak memprioritaskan anaknya yang harusnya ia jemput ketika itu. Makanya, ia menghabiskan waktu untuk berdiri di sana. Menunggu anaknya datang.”
“Yaampun.”
Tidak ada perbincangan lagi. Kedua lelaki itu menyudahi percakapannya dan meninggalkanku di toilet sendirian. Aku pun beranjak keluar beberapa saat setelahnya. Teringat kopiku pasti sudah tidak panas lagi menunggu di samping jendela.
Aku terduduk cukup lama menatap kopiku. Masih terngiang percakapan dua orang di toilet tadi. Entah kenapa hatiku ikut perih. Sambil menikmati kopiku yang sudah hampir dingin, aku kembali melihat perempuan itu, perempuan manis berwajah pucat yang berdiri di samping tiang lampu lalu lintas di seberang jalan. Terusan sebetisnya sudah basah terkena tempias hujan yang jatuh dari payungnya ke genangan air. Hujan turun sangat deras sore itu.
Tiba-tiba perempuan itu menjatuhkan payungnya, terlihat tubuhnya mulai goyah. Rintikan hujan tiada ampun merajam tubuhnya. Melihat pemandangan itu, aku bersiap-siap demi memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Tidak lama tubuhnya terduduk lesu.  Aku keluar kedai kopi sambil berlari menuju perempuan itu. Tak kupedulikan bunyi klakson dan teriakan marah pengendara begitu aku menyeberang seenaknya.
“Bangunlah…” aku mendekap perempuan lemah itu. Dari dekat, baru bisa kulihat mata bening dan indahnya berkaca-kaca dipenuhi air mata. Banyak duka dan derita tersorot dari sana, yang sudah ia simpan selama setahun belakangan.
Kudekap makin erat tubuh yang dingin itu, “Kak, bangunlah… ayo kita pulang, Jasmine tidak akan kembali lagi.”
Mulut beberapa orang yang mungkin juga selalu memerhatikan sosok kakakku satu-satunya dalam beberapa bulan belakangan, terbuka begitu mendengar kalimatku. Ada kalimat bisikan yang kudengar, “Jadi dia adiknya?” ada lagi kalimat lain seperti “Loh, bukannya setiap sore dia selalu memerhatikan perempuan itu? tetapi malah diam saja, ternyata adiknya?”

Kuangkat dan kugendong kakakku untuk menyetop taksi yang lewat. Aku ingin segera membawanya pergi dari sana, tubuhnya mulai menggigil, geliginya bergemeletuk dan menyeracau tidak jelas. Kusandarkan kepalanya ke badanku demi menyembunyikan air mataku yang mulai menitik dari balik kepalanya.


Selasa, 19 Juli 2016

Senja Bersama Ayah

Sesore ini entah mengapa kakiku kembali ingin menemui sebuah tempat kenangan yang mulai jarang kusapa. Mungkin kalau di tidur siangku tadi ia tak memanggil-manggilku, takkan aku datang sore ini. Akankah ia merindukanku? Atau bahkan ia membutuhkan perawatanku? Sepeda yang setia tersandar di bagasi kukeluarkan. Setelah memastikan ban dan rantainya aman, aku mulai mengayuhnya menuju tempat tujuan. Tempat kenangan.
Setelah menjatuhkan standar sepeda, aku terdiam cukup lama dengan mata mengitari setiap inci ruangan terbuka ini, merasakan hawa sejuknya, aroma udaranya, dan suara khas alamnya. Tempat ini… Dari sinilah ayah dulu mengajariku berenang, mengajariku bunyi gemeletar punggung buaya lapar dan kecipak anak-anak ikan kemuring. Di sini juga ayah mendidikku membedakan suara daun dan suara keciap ular manau, yang menyaru suara katak untuk melahapnya. Sering aku dan ayah menyusupi celah-celah nifah, menyelam di bawah gemerisik pelepahnya, saling menguji ketahanan dengan tidak bernafas.
Bunyi gelak, tawa, dan teriakanku kala ayah mulai iseng berpura-pura mendorongku ke air, kini kembali terngiang di telingaku. Bayangan ayah melompat-lompat menjangkau buah jambu di pohonnya yang tidak terlalu tinggi itu sekilas lewat. Cerita-cerita dongeng serta petuahnya yang selalu ayah sempatkan untuk membaginya padaku, perlahan kembali teringat. Ada sebuah batu besar membelakangi pohon jambu, di sana dahulu ayah sering duduk bersila kaki memangkukan tangan kirinya ke bahuku, dan kita bercerita apa saja. Kurasa, wajahku membentuk raut senyum sekarang demi kenangan hangat tersebut.
...Lamunanku buyar ketika telapak kakiku yang mencelup air dikerumuni ikan nari dan batu tempat aku duduk tidak tersinari lantaran matahari hampir tenggelam. Kulengahkan kepalaku menuju barat demi menikmati hangatnya senja. Jingga warnanya meronakan pipiku yang sudah mengaliri air mata. Sudah setahun semenjak penyakit kronis itu merebut ayah dariku. Tidak pernah mata ini alfa dari air mata setiap mengingatnya. Sosok gagah yang sangat aku banggakan itu kini pasti sudah beristirahat dengan tenang tanpa pernah lagi merasakan sakit yang bertahun menghimpitnya. “Ayah, aku merindukanmu. Begitu banyak beban yang ingin kubagi padamu, kini entah siapa lagi yang dapat menggantikanmu memberikan petuah kehidupan padaku. Yang tenang di sana yah…”

Langit semakin gelap, kuseka air mata dengan punggung pipi yang mulai dingin. Angin mulai usil memainkan ujung rok dan rambutku. Perlahan berjalan meninggalkan tempat penuh kenanganku bersama ayah. Sebelum sepeda kukayuhkan menuju rumah, kepalaku sekali lagi ingin melihat alam indah ini. Tempat terindah dengan penuh kenangan indah bersama lelakiku. Bibirku tersenyum sebelum akhirnya sepeda kukayuhkan dan benar-benar meninggalkan tempat itu.

Balada Teh

Siang itu panas begitu terik. Matahari yang ketika itu tepat berada di ubun-ubun memeras keringat bercucuran. Tampak dua anak sedang berjalan di bawah pancaran silaunya. Tetapi mereka tidak berjalan bersisian. Yang satu berjalan dengan langkah cepat, yang satu, kaki-kaki kecilnya berusaha untuk berlari.
Renata menatap kesal ke belakang, dilihatnya lelaki kecil itu tergopoh berusaha mengejar dan mengimbangi langkahnya. Renata berbalik dan kembali menata langkahnya, seolah tidak peduli dengan kesulitan bocah kecil yang mengejarnya dengan kesusahan di belakangnya. Renata tetap dengan muka ditekuk dan bibir manyunnya.
“Ayo cepetan, dasar lelet!” dengusnya kasar, sedangkan anak lelaki itu hanya diam menurut seraya berlari.
“Minta duit aja susahnya minta ampun, malah disuruh nemenin lu jajan dulu, capek tau. Dasar ibu pilih kasih.” Renata ngomel-ngomel
“Kakak nggak boleh gitu sama ibu, kan nanti mau dikasih duit.”
“Diem lu! Mau gue cubit, ha?” Renata mengacungkan tangannya hendak mencubiti adiknya itu.
“Ampun kaaaak” anak itu berlari ketakutan, Renata segera mengejarnya, takut kalau-kalau ia sampai di rumah langsung mengadu, pastilah ibu akan menghukumnya lagi baru akan memberikan uang yang dimintanya untuk membayar kerusakan sepeda teman yang dipinjamnya tempo hari. Jelas saja ia tak menginginkan itu. Renata sudah merasa tidak enak hati dengan ibu temannya. Karena sudah seminggu lebih ia belum juga membayarkan uangnya itu.
Kehidupan Renata memang berubah semenjak kepergian ayahnya dua tahun lalu, tepatnya ketika Renata masih berusia 9 tahun dan adiknya berusia 1 tahun. Ibunya yang seorang guru SD lumayan merasa kewalahan dengan beban hidup yang ditanggungnya. Renata menjadi harus prihatin dengan hidupnya. Kalau menginginkan sesuatu, ia pasti harus bekerja dulu untuk bisa mendapatkannya.
Renata tidak pernah menyukai adiknya, karena baginya semenjak adiknya lahir, kasih sayang yang didapat dari almarhum ayah dan ibunya menjadi terbagi. Mungkin karena Renata cemburu. Meski memang seharusnya adiknya yang kecil mendapat perhatian khusus untuk merawatnya, tetapi Renata tidak menyukai itu.
Setibanya di rumah.
“Ibu, Re udah tepatin janji bawa Ivan main, nemenin dia jajan, sekarang Re udah bisa dapetin uangnya? Ayolah bu, Re mau ganti uang perbaikan sepeda Venny yang Re rusakin. Ga enak lama-lama, bu.” Ibunya kemudian memberikan uang yang diminta Renata, ia bersorak kegirangan dan melambai-lambaikan uang itu ke hadapan adiknya tanpa peduli tatapan menghiba di wajah adiknya. Renata kemudian beranjak pergi, hendak menuju rumah temannya. Adiknya yang merasa kesepian dan masih ingin bermain dengan kakaknya hendak menyusul, Rena jelas tidak suka adiknya mengikutinya, langsung menghardiknya.
“Nggak boleh ikut! Tinggal aja di rumah! Nyebelin banget sih, lu!” Renata mendorong kasar adiknya seraya terus berjalan sampai ke rumah temannya, tanpa peduli wajah mengiba adiknya.
Setibanya di rumah Venny.
“Ini uangnya Ven, maaf ya rada telat ngasihnya, tadi disuruh ibu nemenin adekku yang resek dulu.”
“Oke, nggak apa kok Re. makasih, ya. Oiya, aku mau Tanya sesuatu deh, sama kamu.”
“Apa, Ven?”
“Gini, ngomong-ngomong, kok kamu benci banget sih sama adikmu itu? Padahal dia anaknya baik, nurut lagi, nggak bandel kayak adikku. Adikku yang bandel aja aku sayang banget sama dia. Karena kan emang harusnya gitu. Kita harus sayang sama adik kita sendiri.” Renata hanya diam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Venny yang juga sering ditanyakan orang-orang kepadanya. Ujungnya Renata hanya tersenyum menjawab pertanyaan Venny tersebut.
Setibanya di rumah, Renata mendapati adiknya yang sedang tidur. Ditatapnya wajah polos itu, tidak terdapat raut menjengkelkan di sana, hanya wajah manis dan lucu yang ditangkapnya. Raut yang mirip dengan raut ayah ketika sedang tidur. Tetapi entah kenapa Renata masih saja enggan untuk sekedar berbaik hati padanya.
*
Keremangan cahaya lampu di ruang makan itu tidak mampu menyembunyikan kehangatan yang terpancar dari keluarga kecil Renata. Perempuan yang teramat dicintainya sedang menyendokkan nasi ke piringnya. Raut wajah keibuannya mulai membentuk garis-garis halus, menandakan betapa kerasnya hidup yang telah ia lewati tanpa suami.
“Makasih, ya bu.” Renata tersenyum, ibunya juga ikut tersenyum. Kemudian Renata melanjutkan. “Makasih, ibu masih kuat sampai sekarang menjadi ibu terhebat yang pernah Re kenal. Ibu nggak pernah ngeluh, ibu nggak pernah berenti menebarkan cinta kasih ibu, demi anak ibu. Re sayaaaang banget sama ibu.” Air mata perempuan keibuan itu mengalir perlahan. Tangan siempunya beralih dari sendok nasi ke kepala anak sulungnya.
“Ibu juga sayang banget sama kamu, sama Ivan. Kalian lah sumber kekuatan ibu, nak.” Cepat tangannya menepis air mata itu.
“Ibu, nggak boleh cengeng, kan? Kakak nggak boleh bikin ibu nangis lagi, ya.” Dengan polos Ivan yang melihat air mata keluar dari sudut mata ibunya menegur kakaknya. Renata hanya diam. Agaknya ia tidak begitu berselera untuk merusak keharmonisan malam itu dengan keributan.
Dalam hati Renata sangat bersyukur. Meski ditinggal terlalu cepat oleh ayahnya, tetapi sama sekali tidak pernah ia kekurangan. Terutama kekurangan kasih sayang. Meski sering kesal dengan kehadiran Ivan di tengah ia dan orang tuanya, tetapi Renata tetap merasa dirinya beruntung ia diperbolehkan terlahir dari keluarga yang sederhana ini.
*
Kamar yang dengan ukuran tidak begitu besar itu tampak berantakan. Tas sekolah yang tergeletak di atas kasur menyembulkan beberapa buku, jelas ia seperti telah dilempar oleh pemiliknya. Di atas meja tergeletak jam tangan dan telepon genggam serta beberapa komik yang berserakan. Di bawah kaki kasur, setengah kayu kertas karton, penggaris, pensil, pensil warna, spidol, dan atlas bertebaran. Renata dengan serius menggaris-garis di atas kertas karton. Tak lama kemudian adiknya dengan mainan pesawat di tangan, muka sedikit cemong oleh coklat datang menghampiri dan bertanya.
“Kak Ena lagi apa?”
“Bikin peta!” jawabnya ketus. Ivan yang sedang memegang mainan sejenak asik memainkan mainannya. Kemudian, ia tiba-tiba bertanya kembali,
“Kaaak.” Tak ada jawaban. Kemudian ia mengulang, dengan nada suara yang lebih manja.
“Kakak, kaaaaak.”
“Ih, apaan sih?” Renata merasa terganggu dengan adiknya, mulai kesal dan meninggikan nada suaranya.
“Kak, kakak cayang nggak cama Ipan? Ipan cayang banget lo ama kakak” Renata menoleh heran.
“Kenapa sih lu?” kemudian Renata tidak ambil pusing pertanyaan Ivan dan kembali melanjutkan pekerjaan rumahnya.
“Iya loh kak, walaupun kakak celing malah-malah, tapi Ipan tetep cayang Kak Ena.” Renata tetap diam, meskipun ia sedikit tersindir oleh perkataan polos adiknya itu. Ivan kembali asik dengan pesawat yang dipegangnya, menerbangkannya mengitari kamar Renata yang setengah berantakan, membalik-balik halam komik dengan asal. Kemudian ia kembali mendekati Renata.
“Kakak mau minum? Ipan ambilin yah?” Renata hanya menganggukkan sedikit kepalanya, nyaris tak terlihat.
“Terserah lu aja!” Kemudian Ivan keluar dari kamar Renata, berjalan ke dapur, dan kembali dengan membawakannya segelas teh manis, namun karena gelasnya yang besar, teh tersebut tumpah ke kertas karton yang hamper selesai digaris-garis oleh Renata.
“Aaaah! Ivan!” Renata marah besar, dipukulnya adiknya itu dengan pukulan yang bertubi-tubi.
“Kurang ajar kamu! Selalu saja membuat orang susah, liat! Ini udah hampir selesai digaris tau! Ah… ngulang lagi deh, ngerepotin! itulah kenapa aku benci sama kamu!” Pukulan demi pukulan mendarat di tubuh Ivan. Disaat mendengar jeritan yang menyayat hati, ibunya datang untuk melerai. Renata langsung didorongnya kuat dan memeluk anak lelakinya yang sudah menangis kesakitan. Matanya menatap tajam dan penuh amarah ke arah Renata, tidak menyangka Renata akan menyakiti adiknya yang masih kecil.
“Kenapa kamu Re? Mana perasaanmu? Adikmu masih kecil dan kamu menyiksanya begini? Apa salah dia sama kamu? Kenapa kamu begitu membenci adikmu sendiri? Ibu kecewa sama kamu, ibu nggak suka kamu kayak gini, Re.” Renata hanya terdiam terpojok. Kemudian ibunya pergi membawa adiknya yang masih menangis entah kemana.
Renata masih terduduk lesu, peristiwa itu terjadi dan berlalu begitu cepat. Tapi jantungnya masih belum normal berdetak. Perlahan Renata mencoba bangkit dan meraih kertas karton yang sudah basah, kini rasa sesal dan kesal bercampur aduk di benaknya. Dipaksanya tubuhnya untuk berdiri. Diambilnya kertas karton baru yang setengah kayu lagi dari atas kasur. Mencoba mengulang kembali menggar-garisi kertas kartonnya dengan meneteskan air mata.
*
Peta yang sudah jadi dan diberi tali itu dipampangnya di dinding kamar. Meski dibuat dengan suasana hati yang tengah tidak baik, tapi Renata cukup puas melihat hasilnya. Ia keluar dari kamar, rumah itu masih sepi. Disusurinya setiap sudut rumah itu. Nihil. Kamar ibu juga kosong, dapur juga masih sama seperti keadaan tadi siang. Renata menatap jam dinding berkali-kali, sudah pukul 20.00 tetapi ibunya belum juga kembali, apakah ibu segitu marahnya padaku sampai ibu tega meninggalkanku? Lagi-lagi ini terasa tidak adil, mengapa hanya aku yang disalahkan, padahal dia yang memulai. Renata meratap, karena perasaannya semakin tidak enak, Renata berjalan ke luar rumah mencari jejak sosok ibu dan adiknya, tetapi nihil. Ia hanya bertemu dengan tetangga yang kemudian menegurnya.
“Rena, ibumu sudah pulang? Gimana Ivan?” Renata hanya mengerutkan dahinya, memangnya ibu kemana? Kenapa tante ini bertanya seperti itu? Batinnya.
“Ng… Ibu belum pulang tante, memangnya tadi ibu bilang kemana?” jawabnya ragu-ragu. Ia khawatir dengan pemikiran tetangganya dengan ketidaktahuan dirinya.
“Lho, kamu gimana sih? Adikmu kan dilarikan ke rumah sakit tadi siang! Katanya adikmu sakit step” Renata langsung kaget tidak percaya, apakah sakit itu dikarenakan perbuatannya? Ya Tuhan. Maafkan aku, aku tidak berniat membuatnya sakit. Ivan, maafin kak Re, kakak sayang kok sama Ivan. Renata membatin. Teringat pertanyaan Ivan tadi siang yang belum sempat dijawabnya. Kini ia menyadari, tangisnya yang meledak tadi siang itu bukan tangis kesal, melainkan tangis sesal. Dan ia baru menyadari betapa ia menyimpan sayang yang teramat besar kepada adiknya, ia bahkan takut kehilangan adiknya. Kini ia masih menunggu penuh harap kedatangan ibu dan adiknya ke rumah dengan membawa berita gembira dan memberikan maaf untuknya. Ia tulus dan benar-benar merasa bersalah.

Cinta Tak 'kan Salah

D
erunya memekakkan sekali, menjentik gendang telinga, jalanan yang berbatu-batu jadi menambah kesan angker dan memilukan keadaannya yang sudah reyot, ditambah lagi bau pesing yang menyengat menyayat indera penciuman. Salsa yang baru saja sembuh dari sakitnya berasa ingin muntah. Berapa lama lagi aku harus menderita? Aku sudah tidak kuat. Salsa merintih sendiri.
Tiba-tiba bus berhenti mendadak, membuat Salsa hampir terlempar ke kaca depan. Supir yang tidak tahu arah jalannya ke mana, menunggu panitia yang akan memandu perjalanan ini. Huh! Dengus Salsa kesal.
Sial sekali rasanya Salsa hari itu, melakukan perjalanan studi tour tetapi harus berpisah bus dengan teman-temannya, padahal empat temannya bisa satu bus. Tetapi kenapa Salsa harus terpisah sendiri? Hanya orang asing yang bersamanya sekarang, ditambah lagi Salsa dalam keadaan belum fit betul dari sakitnya. Salsa membutuhkan teman selama perjalanan. Tetapi panitia melarangnya berpindah bus karena kelompoknya memang berbeda jauh dari kelompok teman-temannya.
Perjalanan dengan bus tua, jalanan rusak, bau pesing, duduk sempit serta membuatnya mual benar-benar menjadi hukuman bagi Salsa selama perjalanan. Teman sebangkunya yang aneh tidak sedikit pun mengeluarkan suara. Entahlah, orang-orang yang berpenampilan seperti perempuan itu memang mempercayai suara itu adalah aurat, diam itu adalah emas, dan Salsa tidak pernah merasa mengerti dengan alasan itu.
Begitu lepas dan keluar dari besi reyot dan tua itu, Salsa berlari mencari-cari kamar kecil, Salsa benar-benar tidak tahan pengen muntah. Anggra yang melihat sahabatnya itu langsung menghampiri.
“Kamu kenapa Ca?”
“Mual, aku kepengen muntah! Sumpah nggak enak banget”
“Yasudah, muntahin di sini aja, sepertinya tidak ada kamar kecil di sekitar sini, lagian ini hanya semak-semak, tidak akan ada yang marah kalau kamu muntah di sini” Anggra yang kasihan melihat wajah Salsa yang pucat pasi menahan muntahnya jadi tidak tega. Dan tiba-tiba. Huek..huek.. cairan itu akhirnya keluar juga.
*                      *                      *
Hamparan hijau segar yang terpampang jelas di depan matanya tak mengusik kegalauan Salsa. Padahal burung-burung telah bernyanyi meneriakkan kegembiraan. Namun Salsa tetap setia dengan bibir manyunnya.
“Andai saja dari awal aku tahu kalau kegiatannya seperti ini, membosankan dan tak ada asiknya! Aku tak akan ikut, ditambah lagi kondisi badanku yg belum sembuh.” Salsa meratap lagi, sedangkan perempuan yang berada di sampingnya hanya menoleh sebentar dan diam lagi. Mana anak di sebelah ini kaku banget lagi, nggak asik banget dapet teman sekelompok pada pendiem semua. Salsa mengerlingkan matanya sebentar menatap teman-teman kelompoknya yang sudah tampak lelah seperti dirinya. Tiba-tiba getaran dari dalam kantong almamaternya mengagetkan Salsa, Ayu meneleponnya.
“Ya, Ayu, ada apa?”
“Ca, gimana kelompokmu? Wah... kelompokku asik-asik orangnya, kami kompak banget deh, walau baru kenal, aku suka.” Salsa hanya terdiam mendengar ocehan Ayu.
“Kenapa Ca? Kok diem aja? Kamu nggak papa kan?”
“Iya Yu, nggak papa, aku hanya capek, selamat ya, kamu seneng banget ya kayaknya”
“Ada apa sih Ca? Gimana kelompokmu?” Salsa berjalan agak menjauh dari teman-teman kelompoknya, kemudian menjawab.
“Sama sekali tidak asik dan tidak seenak posisimu Yu, teman kelompokku hanya satu perempuan, dan dia sangat kaku, yang laki-laki pun begitu, pada pendiam semua. Pokoknya aku ngerasa menyesal udah ikut hari ini. Sumpah nyesel!” Meski menekan volume suaranya tetapi jelas Salsa benar-benar kesal.
“Wah, maaf ya say, aku nggak tau kalau posisimu lagi nggak enak gini. Aku malah cerita-cerita sama kamu.”
“Nggak papa kok Yu. Selamat bersenang-senang aja ya sama teman kelompokmu!”
“yaudah deh Ca, hati-hati aja ya, mudah-mudahan kita cepet ngumpul lagi biar kita ketemu. Kasihan aku sama kamu” Ayu menutup teleponnya. Salsa hanya tersenyum pahit dan kembali berjalan mendekati rombongan kelompok kakunya. Membosankan.
*                      *                      *

“Itu dia busnya!” Seru Ari sambil menunjuk ke arah barat. Serentak semua kaget dan menoleh ke arah datangnya bus tersebut. Akhirnya Salsa mendengar juga suaranya. Anggota kelompok termuda itu memang hanya diam saja dari tadi. Hampir Salsa beranggapan kalau anak itu tidak bisa bicara. Tetapi hal yang terpenting sekarang adalah Salsa sudah berada dalam bus dan sebentar lagi akan bertemu dengan teman-temannya yang terbagi ke dalam kelompok yang berbeda-beda.
Sesampainya di pinggir pantai yang menjadi pelabuhan terakhir sebelum kepulangan ke kampus, Salsa segera mencari-cari empat orang temannya. Mana sih mereka? pikirnya. Tiba-tiba ada seorang lelaki memukul pundaknya dari belakang.
“Hai kakak, nyari siapa sih dari tadi?” Salsa ternganga, tidak menyangka bertemu dengan bocah usil itu di sini.
“Nyari teman-temanku. Kamu lihat mereka?”
“Mereka? Temannya ada banyak ya? Kupikir hanya satu, yang Anggra itu, kalian sering terlihat berdua”
“Bukan, kita ikut organisasi ini berlima. Sudah, kasih tahu saja, kamu lihat dia atau tidak?”
“Saya tidak tahu kakak, mungkin belum datang, atau lebih tepatnya belum dijemput bus.” Salsa cemberut lagi, kepalanya sudah sangat pusing, tetapi teman-temannya belum juga terlihat. Bagaimana kalau aku pingsan dan tidak ada yang peduli? Lelaki tadi masih memperhatikannya,
“Kakak kenapa sih? Pucat sepertinya.”
“Jangan panggil saya kakak lagi! Saya tidak suka dipanggil kakak sama kamu!” Salsa tiba-tiba jutek. Pria itu hanya tertawa.
“Yasudah, maaf deh. Oya, kenapa musti tunggu teman-temanmu? Apakah teman-teman di sini yang begitu banyak tidak bisa menjadi temanmu? Nggak boleh gitulah, masak hanya mau temenan sama teman sejurusan saja?” Salsa menoleh lagi dengan mata sedikit melotot.
“Bukan begitu, tetapi aku butuh mereka sekarang”
“Apakah aku tidak bisa membantu?”
“Tidak. Karena kamu laki-laki”
“Oh... masalah perempuan ya ternyata? Tetapi walau bagaimanapun, kakak eh Salsa istirahatlah dulu, semakin pucat kelihatannya” pria itu mengajak Salsa duduk di dekat rombongan kelompoknya. Salsa menurut saja, setidaknya dia sudah mengenal siapa pria itu. Untuk sementara bisalah menemaninya sampai Anggra dan yang lainnya datang.
*                     *                      *

“Kamu ikut bus dua aja Ca, biar bisa sama-sama kami.” Anggra berbisik,
“Tapi kan Ya, nanti kalau diabsensi panitia dan akunya nggak ada gimana?”
“Ah, sudahlah, nggak usah pikirin. Yang penting kan kamu bisa nyaman sama aku, nanti kalau pusing di busmu itu dan nggak ada yang peduli gimana? Ingat Ca, kepalamu masih sangat pusing kan?” Salsa mengangguk dan ikut saja apa kata Anggra.
Selesai acara penutupan, Anggra langsung menarik tangan Salsa dan menuntunnya menuju bus dua, dengan mengendap-endap mereka menaiki bus. Ayu, Septi, dan Indah menyusul di belakang mereka.
Salsa langsung merebahkan kepalanya begitu sampai di dalam bus. Benar-benar penat tubuh mungilnya seharian melakukan perjalanan yang menyebalkan, sampai-sampai Salsa tidak menyadari dari tadi ada yang memperhatikannya. Anggra menyikut Salsa yang menoleh ke luar jendela bus.
“Ada apa sih Ya? Ganggu deh”
“Sst... liat tuh! Diperhatiin mulu dari tadi sama dia” Salsa langsung menatap ke arah Diego, si junior yang selalu menyapanya itu.
“Ada apa?” Salsa spontan bertanya, Diego hanya tersenyum manis dan mendekati tempat duduk Salsa dan Anggra.
“Tidak apa-apa, hanya heran saja kenapa ada penghuni haram di bus ini” Diego dan Anggra langsung tersenyum, Salsa hanya manyun dan meminta Anggra yang menjelaskannya.
“Aku yang minta tadi Go, Ca lagi sakit.”
“Oh... kamu sakit Sa? Sakit apa? Kenapa nggak bilang?” Salsa melotot
“Kenapa musti bilang kalau kamunya nggak nanya? Aku sudah sembuh kok, hanya saja masih sedikit pusing.”
Diego hanya tersenyum dan tidak berkata-kata lagi dalam waktu yang lama. Namun, tiba-tiba dia menyodorkan permen pada Salsa ketika Salsa  hampir saja tertidur melihat Anggra sudah tidur.
“Apa ini?” kata Salsa dengan nada berbisik
“Baca saja” Diego menjawab. Salsa membalik permen yang bertuliskan I need you itu. Salsa kaget. Tidak mengerti apa maksudnya? Dia butuh aku? Tapi kenapa? Kita kan baru kenal. Salsa hanya diam menyembunyikan kebingungannya. Dan selama perjalanan mereka hanya saling terdiam.
Setibanya di Sekretariat, lima sekawan langsung mencari posisi enak untuk istirahat sejenak sebelum pulang.
“Ca, kamu dekat dengan berondong itu?” Ayu yang memang penasaran dari tadi tidak tahan untuk bertanya. Salsa terdiam untuk beberapa lama. Septi menyikutnya
“Ayo donk Ca, jawab!”
“Aku nggak deket kok sama dia, hanya saja sejak kenalan dulu dia jadi sering menyapaku setiap ketemu,. Bahkan dari jauh pun dia selalu memanggilku, ya... terkesan SKSD sih. Aku juga nggak ngerti. Udah ah, jangan tanya-tanya lagi” Salsa masih bingung, terutama dengan sikap Diego, untuk apa Diego memberikan permen bertuliskan I need you kepadanya?
*                      *                      *

Bila sinar surya terang menerangi kita, kukan mendekapmu erat takkan kulepaskan, walau kini engkau telah memilih dirinya, kukan selalu berharap, kukan selalu menanti, untuk cinta...
Salsa tertegun begitu mendengar beberapa bait lagu tersebut, ada kerinduan merasuk dalam raganya, tidak terasa sudah empat tahun Salsa tidak pernah lagi punya pacar semenjak pacarnya membawa kabur orang lain dan sekarang tidak tahu entah kemana. Salsa menjadi trauma untuk kembali menjalin hubungan. Dan Diego yang sekarang sedikit mencuri hatinya membuatnya galau. Apakah iya Diego menyukainya? Mengingat Diego selalu saja mencuri-curi perhatiannya, dan pernah memberikan permen bertuliskan I need you padanya, ditambah lagi sekarang mereka semakin sering berkomunikasi lewat sms. Diego anak yang baik, dia ramah kepada siapa saja terutama pada setiap perempuan. Diego juga sangat perhatian pada Salsa. Tetapi bagi Salsa ini terlalu cepat, perkenalan mereka baru tiga bulan dan mereka baru dekat sekitar dua bulan. Salsa tidak ingin gegabah dan salah pilih lagi, Salsa sudah sangat trauma dengan kejadian di masa lalunya. Apalagi usianya yang lebih tua satu tahun di atas Diego.
Sebenarnya semua itu tidak begitu dipersoalkannya, toh Salsa hanya akan menjalani saja hubungannya dengan Diego. Namun yang menjadi permasalahannya, Anggra ternyata juga menaruh hati pada Diego, bahkan dari awal kenal dengan diego, sebelum Salsa menyukai Diego. Tetapi Anggra tidak pernah mengungkapkannya kepada Salsa, Anggra merasa minder karena Salsa lebih cantik dan lebih populer, ditambah lagi Diego memang memiliki perhatian lebih pada Salsa daripada Anggra.
Salsa pernah bertanya pada Anggra persoalan Diego, namun sayang Anggra tidak mau jujur pada Salsa.
“Ya, kita temenan udah lama, dari kita pertama kuliah, jadi kuharap kamu tidak menyembunyikan apapun dari aku.”
“Apa sih Ca?”
“Aku mau kamu jujur sama aku, kamu suka kan sama Diego?” Anggra langsung kaget mendengar pertanyaan Salsa. Anggra jadi salah tingkah.
“Pertanyaan aneh! Jelas-jelas dia sukanya sama kamu, bukan sama aku Ca”
“Aku nanya kamu, bukan nanya dia Ya” Anggra diam saja, Salsa menyambung lagi
“Bukan apa-apa sih Ya, aku tau kamu luar dalam, dan aku tau kamu suka perhatiin dia. Aku Cuma nggak mau aja antara kita nanti ada salah paham. Kalau memang kamu suka, mungkin aku bisa lebih menjaga jarak dengannya. Dan jujur saja aku memang mulai suka sama dia.” Salsa terdiam, menunggu reaksi dari Anggra, namun Anggra masih tetap membisu. Salsa memegang tangan Anggra.
“Bagaimana menurutmu Ya? Kamu mau aku mengalah? Atau mau kita bertiga berteman saja? Atau bahkan kita berdua berjuang masing-masing secara sportif?”
“Ambil saja untukmu Ca, aku tidak suka padanya, tidak sadarkah kamu selama ini aku selalu mendukungmu dan dia? Kenapa kamu sampai berpikiran kalau aku suka? Enggak Ca, enggak.” Salsa tau Anggra berbohong, dari tatapan matanya dan dari raut wajahnya. Kenapa Anggra tidak mau jujur padanya padahal dirinya sudah berusaha jujur pada Anggra?
“Yaudahlah Ya, maaf ya kalo aku salah sangka. Kamu nggak akan berubah sama aku kan?”
“Haha... kamu ada-ada aja Ca, nggak lah...” Anggra kemudian menoleh membelakangi Salsa dan mencibirkan mulutnya.

Tiba-tiba Diego meneleponnya, Salsa yang masih berada di alam fatamorgana kaget dan tidak langsung mengangkat telepon dari Diego, karena ini pertama kalinya Diego meneleponnya. Salsa meraih hapenya dan dengan ragu menjawab,
“Ya Go, ada apa?”
“Lagi apa Sa? Ganggu nggak?”
“Nggak ganggu kok Go, Ca Cuma lagi santai aja dengerin musik. Hem, tumben nelpon? Kangen ya? hehe”
“Widih... tau aja kalo aku kangen? Hehe... kamu besok ke sekre kan? Ikut acara organisasi?”
“Iya, aku ikut kok. Kamu sendiri?”
“Ya, ikut juga karna kamu ikut! Yaudah ya Sa, sampai besok di sekre.” Telepon diputus Diego. Salsa nampak girang dan tampak lebih bersemangat. Dimatikannya musik melow yang tadi sudah beberapa kali diputarnya berganti musik yang lebih bersemangat.
Hari yang indah, terutama bagi Salsa yang sudah tidak sabar menunggu datangnya hari ini, sudah seminggu tidak bertemu Diego membuatnya kangen setengah hidup. Hari ini aku akan bertemu Diego lagi, ucapnya. Salsa kemudian melangkah mantap menyusuri padang ilalang yang dihiasi bunga-bunga cinta yang tumbuh di hatinya. Jalanan kampus yang biasa saja menjadi seolah berada di puncak yang sejuk dan penuh dengan bunga. Salsa menikmati perjalanannya pagi itu. Diego sudah menunggunya di sekretariat.
“Cerah banget hari ini kakak!” Salsa cemberut lantaran Diego menggodanya dengan panggilan kakak. Diego tertawa melihat reaksi Salsa.
“Jangan cemberut dong ah, nanti cantiknya luntur” Diego berusaha membujuk, Salsa hanya tersenyum mendengarnya. Tidak lama semua teman-temannya datang. Salsa langsung menjauh dari Diego agar tidak membuat Anggra cemburu.
Aska, sang fotografer organisasi datang dan diserbu saja oleh semua anggota organisasi. Mereka rebutan minta dijadikan objek potret Aska. Salsa diam saja, dia memang tidak terlalu narsis untuk difoto. Namun ketika semua sudah puas difoto, Diego tiba-tiba saja mengajak Salsa untuk foto bersama, berdua. Salsa tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan itu.
Usai acara di sekretariat, Salsa diajak pulang bareng oleh Diego yang kebetulan searah dengan tempat tinggalnya. Anehnya, Diego yang biasanya selalu bersama dua orang temannya, meminta temannya untuk duluan. Salsa jadi geer kalau Diego memang sengaja untuk berduaan dengannya. Mereka berdua begitu menikmati perjalanannya. Salsa sangat senang, Diego bercerita banyak tentang dirinya dan bertanya banyak tentang Salsa. Sepertinya memang hubungan ini akan berlanjut.
*                      *                      *

Lihatlah pelangi yang sengaja muncul direda hujan itu Ca, kamu tahu artinya? Artinya kita tidak boleh selalu bersedih. Karena keindahan itu akan ditampakkan setelah hujan itu berhenti. Jadi kamu tidak boleh selalu murung bahkan menangis. Kata-kata dari Sam sahabatnya sejak SMA itu terngiang-ngiang di telinga Salsa. Salsa kembali menghentakkan kakinya berkali-kali ke lantai. Dia kesal Diego sudah lima hari ini tidak ada kabar, padahal dia sudah menghubungi Diego terlebih dahulu, tetapi diego tidak pernah lagi membalas smsnya. Di sekretariat pun tidak pernah bertemu. Ada apa denganmu Go? Kenapa kau berubah? Kenapa sekarang menjauhiku? Salsa tidak habis pikir dengan sikap Diego. Padahal terakhir hubungan mereka baik-baik saja bahkan Salsa sangat bahagia ketika enam hari yang lalu bersama Diego. Salsa tidak menyangka kalau itu adalah rasa senang terakhir yang diberikan Diego padanya. Diego benar-benar menghilang dan tidak pernah memberinya kabar. Pernah Salsa bertanya kepada Anton di sekretariat perihal Diego, Anton hanya menjawab Diego sibuk dengan kuliahnya dan belum sempat mampir ke sekre. Salsa tentu tidak puas dengan jawaban Anton, tetapi untuk bertanya lebih jauh lagi, Salsa merasa gengsi.
Seminggu sudah Salsa penuh tanda tanya, dan hari ini kembali organisasi mengadakan acara. Salsa datang lebih pagi dari biasanya hanya untuk menunggu kedatangan Diego. Salsa benar-benar berharap hari ini Diego bisa datang dan mereka bisa berbicara.
Silih berganti anggota organisasi baik junior maupun senior sudah berdatangan, namun Diego dan kawan-kawannya belum juga tampak. Salsa jelas kecewa, ternyata Diego benar tidak akan datang, bahkan sampai acara sudah dimulai pun Diego tidak datang-datang juga meskipun Anton dan Lian temannya sudah datang. Salsa yang tadinya sibuk melihat ke arah pintu gerbang dengan penuh harap pun kini tidak lagi menoleh sedikitpun.
Di tengah-tengah acara Salsa merasa ingin ke belakang, Salsa kemudian mohon izin dan beranjak ke kamar kecil. Keluar dari kamar kecil, Salsa kaget mendapati Diego yang tengah berjalan menuju sekretariat, kenapa baru datang? Dia sudah telat sejam.Namun tidak ingin melepas kesempatan itu, kebetulan mereka hanya berdua di sana, Salsa langsung memanggil Diego, Diego menghampirinya.
“Ngapain di sini Sa? Kok nggak masuk?” Diego bertanya dengan gayanya yang santai.
“Kamu kenapa telat? Aku tadi abis dari kamar kecil”
“Ada keperluan bentar tadi, aku sudah minta izin kok sama panitia”
“Bisa kita ngomong bentar?”
“Kamu mau nanya apa?”
“Kenapa kamu nyuekin aku Go? Aku ada salah sama kamu?” Diego hanya diam dan menunduk, Salsa semakin heran dengan sikap Diego. Apakah Diego lagi ada masalah?
“Ayo Go, jawab! Kenapa kamu jahat sama aku?”
“Jahat?” Diego mengangkat wajahnya
“Iya, kamu deketin aku dan abis itu kamu ninggalin aku gitu aja. Padahal aku yakin kalau aku nggak punya salah sama kamu. Tapi kenapa Go? Kamu emang jahat! Kamu nggak punya hati!” Salsa tidak bisa mengontrol emosinya, Diego kembali menunduk, tidak dapat menjawab pertanyaan Salsa yang tak terduga.
“Maafin aku Sa, udah nyakitin kamu. That’s why I...”
“Apa? Kenapa? Karena kamu emang nggak pernah punya niat sama aku kan? Nyesel aku udah ngerusak hubungan aku sama dia tapi kamu juga gini sama aku!” Salsa sengaja tidak menyebut nama Anggra, tetapi Diego mengerti apa maksud Salsa.
“Aku nggak tau kalau semuanya akan jadi kayak gini, maaf kalau aku bikin hubungan kamu tidak sedekat dulu lagi dengan sahabatmu.” Diego lalu pergi, namun tidak jadi masuk ke gerbang sekretariat, Diego malah menuju parkiran dan kemudian melajukan motornya ngebut.
“Mati aja deh lo! Nyesel gue kenal sama lo!” Salsa berteriak sebelum Diego benar-benar menjauh. Diego mendengar jelas suara Salsa yang memang lantang itu menambah kecepatan laju motornya dan tak tahu arah. Salsa langsung kembali ke sekretariat dengan perasaan menyesal. Kenapa sih kamu Ca? Kenapa kasar banget sama Diego? Maafin aku Go
Setibanya di sekretariat dua orang teman Diego bertanya pada Salsa, apakah tadi bertemu di luar karena Diego tadi berkata akan sampai di sekretariat. Salsa jujur saja kalau memang tadi Diego ada tetapi balik lagi karena mereka sempat ribut. Anton dan Lian saling berpandangan sebelum akhirnya Anton angkat bicara.
“Ribut? Kalian ribut kenapa?”
“Ng... tadi, hm... eh, kamu tanya sendiri ya sama Diegonya, susah aku jelasinnya.” Salsa menjadi gugup karena merasa bersalah. Dua teman Diego hanya diam dan saling pandang. Ada sesuatu yang aneh dari pandangan mereka, entahlah, Salsa juga tidak mengerti.
*                      *                      *

Salsa membuka jendela kamarnya, menatap sendu pada aliran air hujan yang mulai menggenangi halaman. Angin berlari-lari menerpa wajah dan menerbangkan helaian rambutnya. Dadanya terasa sesak, Salsa memikirkan Diego dan pertengkarannya tadi pagi. Firasat buruk merasuki relung jiwanya, Salsa mencemaskan Diego yang sekarang entah di mana. Tidak terasa embun panas mengalir lembut menerpa pipi Salsa, kegundahannya mencair melalui kristal-kristal air matanya. Angin di luar semakin ribut, dan Salsa segera menutup jendela kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk kemudian membasuh mukanya, meluruhkan bekas luka di wajahnya agar tidak diketahui orang lain. kemudian Salsa berkutat degan laptopnya untuk menyelesaikan tugas.
Rrrrt... rrrt... hape Salsa bergetar, Anton meneleponnya. Serrrr, darah Salsa berdesir, dadanya berguncang hebat. Pukul 19.00, ada apa Anton meneleponnya jam segini?
“Hallo, ada apa Anton?”
“Kamu di mana Sa? Aku mau jemput kamu!”
“Ada apa Ton? Jangan bikin aku bingung!” Salsa langsung pucat, pikirannya langsung membayangkan hal yang buruk-buruk.
“Kamu tidak tahu? Nanti saja, kamu pasti akan tahu, ikut aku mau ya? Kujemput sekarang.” Tuuuut... tuut... telepon terputus. Salsa segera berlari menuju lemari, mengganti bajunya dan segera menyambar payung untuk segera keluar menunggu Anton. Begitu Anton datang, mereka langsung berangkat menerjang hujan. Tidak ada interaksi antara keduanya, hanya saling diam dan terhanyut dalam perasaan masing-masing.
“Rumah sakit? Anton? Diego.... dia?” Salsa bertanya panik.
“Masuk lah Sa, kamu akan tau apa yang terjadi” Salsa langsung berlari ke dalam, menerobos orang-orang yang terasa menghalanginya. Sampai di depan kamar perawatan Diego, Salsa mendapati sudah banyak teman-teman Diego yang menangis.
“Bisakah aku masuk?”
“Tunggulah sebentar, masih ada orang di dalam, tidak boleh masuk lebih dari satu.” Salsa terdiam, dihitungnya semua teman Diego, lengkap. Siapa yang di dalam? Apa iya orang tua Diego datang secepat itu? Tiba-tiba ada seorang perempuan yang dikenalnya keluar dari ruangan dengan wajah sudah sembab. Dia kaget begitu melihat Salsa ada di sana. Anggra.
“Anggra? Kamu bisa ada di sini? Kenapa kamu nggak kasih tau aku?” Salsa bertanya dengan sedikit emosi. Anggra hanya terus menangis. Salsa kemudian masuk ke dalam dan sudah mendapati Diego terbujur kaku dengan mata terbuka.
“Go, kamu kenapa?” Salsa berbicara dengan suara bergetar dan langsung meneteskan air mata. Diego hanya tersenyum getir pada Salsa.
“Go, aku minta maaf udah berkata kasar sama kamu, aku benar-benar minta maaf dan menyesal udah jahat sama kamu” Diego kembali tersenyum dan tidak bisa menjawab. Salsa semakin mendekat, digenggamnya tangan Diego dengan erat, mencoba memberi aliran kehidupan dalam cinta yang telah tumbuh dalam taman jiwanya.
“Aku sayang kamu Go, maaf aku nggak bisa boong, aku terlanjur terbiasa dekat denganmu, aku benar-benar mulai menyukaimu sejak kita mulai dekat.” Diego mengerjapkan matanya dan menggerakkan tangannya yang digenggam Salsa dengan maksud mengatakan hal yang sama, namun Salsa tidak mengerti maksudnya.
Tiba-tiba Diego kejang-kejang, Salsa panik, berteriak sekeras mungkin. Perawat masuk dan menyeret Salsa yang lepas kontrol keluar dengan paksa. Setiba di luar Salsa segera menuju Anggra untuk memeluknya, tetapi Anggra enggan. Anton dan Lian mendekatinya, mencoba menenangkan Salsa. Anggra menerawang, dia hanya ingin Salsa juga mengerti perasaannya. Bagaimanapun dia sangat menyayangi Diego, bagaimanapun dia sangat merasa takut kehilangan Diego, bukan hanya Salsa. Tidak peduli apakah Anton dan Lian sebagai sahabat terdekat Diego akan membencinya, tetapi itulah cintanya terhadap Diego yang merasukinya semenjak kenal Diego, sebelum Salsa menyukai Diego, bahkan semenjak Diego selalu mencuri-curi perhatian Salsa yang selalu mengacuhkannya. Anggra merasa benar dengan perasaannya. Jadi ia tidak perlu takut.
*                      *                      *

            Salsa kembali melipat surat berwarna merah jambu itu. Air matanya tak berhenti mengalir meski sudah menyembabkan matanya. Salsa menerawang, mengulang-ulang kalimat yang sudah puluhan kali dibacanya barusan. Haruskah dia menyalahkan dirinya? Tiba-tiba Salsa teringat Diego, di mana dia sekarang? Apakah dia kedinginan? Apakah dia merindukannya? Salsa kembali menghela nafas. Anggra benar, cinta tak pernah salah. Meski cinta telah membuatnya kehilangan dua orang yang disayanginya dan membuatnya harus cuti kuliah karena depresi berat yang membawanya ke rumah sakit jiwa. Salsa merasa kondisinya sudah sangat baik sekarang, Salsa sudah bisa berfikir jernih dan sudah ada keinginan untuk kembali kuliah.
Tiba-tiba pintu kamar melati itu terkuak, ada yang masuk. Salsa menoleh kemudian tersenyum, manis sekali senyuman itu. Kehadiran dua sosok itulah yang ditunggu-tunggunya dari tadi. Anton dan Lian sudah berjanji akan menjemput dan menemaninya ke pemakaman Diego.
“Surat apa itu Sa, eh Ca?” Anton tersenyum, berusaha menggoda Salsa.
“Anggra! Aku baru sempat membacanya. Kalau kalian mau tau, bukalah” Ujar Salsa sambil menyodorkan kertas merah jambu itu dan tak hentinya tersenyum.
... mungkin kamu benar sahabatku, aku adalah orang yang tidak terbuka. Tapi kamu harus menerima alasanku. Tidak lain adalah kamu! Kenapa aku tak pernah mau bilang tentang perasaan ini padamu. Karena kutau kamu sudah mulai menyukainya. Cinta tak pernah salah Ca, kitalah yang salah menyikapinya. Dan ini udah keputusanku, aku nggak sanggup bila terus lama-lama di sini. Karena kamu juga udah mulai membanciku kan? If you still love me, please dont cry when you remember about us dear. Aku akan kangen banget sama kamu, kalo jodoh, kita ketemu lagi ya....
Oya, cepet sembuh. :)
Alan kembali melipat rapi surat dari Anggra. Kemudian menatap sendu ke arah Salsa yang masih terlihat manis meski sekarang dalam kondisi kejiwaan yang terganggu dan badan yang kurang terurus, tetapi inner beautynya tetap terpancar. Tidak mau berlama-lama larut dalam keharuan, Lian mengingatkan bahwa mereka harus berangkat sekarang.