Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Januari 2019

Mitos cangkir yang sama

Seperti itulah, kita menggulung lembaran kenangan, lalu menguburnya dalam-dalam. Namun pada suatu pagi, selepas mimpi, kita gali-gali sendiri kuburan itu sambil meratapi sepiring sepi dan secangkir kopi.
Dalam tepian cangkirnya, jejak bibir kita bertautan.

Barangkali begini skenarionya: engkau menjejakkan langkahmu pada kebun penuh ilalang dengan sebuah jemari halus dalam genggaman tanganmu. Sementara aku memotret senja dan menangkap setiap gerakan kalian: kamu dan jemari halus yang silih berganti itu melalui mata pena. Diam-diam mata pena itu juga pernah memotret senyum dan matamu yang penuh cinta di siang yang basah. Ketika air hujan kalah lembab oleh air mata di pelataran rumahku.

Atau skenario lain adalah: engkau diam-diam berusaha tak peduli dan pura-pura sibuk menggulung lengan baju dan berlari menuju ke sebuah tempat yang entah. Demi menghindari apapun yang bisa menenggelamkan perasaanmu.

Ah, mungkin aku sedang bermimpi ketika kedua tanganmu menggenggam erat harapan yang kita bagi, bersama dengan adonan air mata dan tawa. Barangkali aku hanya perlu bangun dan melupakan secangkir kopi dan jejak bibir yang bertautan itu. Barangkali, kemelekatan yang diramalkan akibat menikmati kopi dari cangkir yang sama itu hanya sebuah mitos. Sebuah delusi.

Delusi. Seperti cinta.
Selalu diam-diam pergi (atau berbagi).

Minggu, 28 Januari 2018

Kita

Kita memang bukanlah sepasang kekasih, tetapi ingatlah bahwa bukan berarti kita adalah dua lawan.
Dengan tidak sengaja, kita saling menyakiti. Saling menyerang dengan perasaan yang salah. Membabi buta dengan sikap yang tak tentu arah. Memberikan efek kecewa dalam kesedihan dan duka mendalam.

Kita memang bukan kekasih, tetapi.. Tidakkah sebaiknya kita baik-baik saja? Kenapa malah saling termotivasi untuk sama2 melukai?
Aku yakin, dengan tidak sengaja, tanpa kusadari, telah banyak rasa sakit yang tertanam di hatimu karena sikapku. Kekanak-kanakan, keegoisan, kegengsian, kejutekanku membawakanmu perasaan luka.
Kamu juga mungkin tanpa sadar, tidak sengaja telah menjadi sembilu di hatiku. Melambungkanku tinggi, membuatku berharap, membuatku menunggu, kemudian menghilang tanpa jejak langkah yang jelas. Tidak adanya kata perpisahan dan pertanda akan kembali bertandang.

Bersamaan dengan diriku yang kamu kecewakan, dan kesadaranku telah melukaimu, aku jadi membenci dengan menyakiti diriku sendiri. Seakan aku tidak punya lagi kepemilikan atas rasa bahagia untuk hidupku sendiri. Aku membuatnya lebih menderita lagi. Bagaimana denganmu?

Tidakkah kita memilih jalan yang salah?
Bukankah seharusnya kita saling menyemangati dan memberikan dukungan?
Haruskah kita mengakhiri kesalahan ini dengan saling melukai?

Selasa, 19 September 2017

Pengelana








               = Setelah lelah berkelana di luar sana
                  Kamu kembali ke rumah
                  Namun ternyata aku bukanlah tuan rumah yang ramah
                  Sehingga kamu tidak pernah betah
                  Kamu bergegas berkemas untuk melangkah
                  Meninggalkanku yang tak bisa marah *







                                                                                                              .

Minggu, 14 Mei 2017

Dari aku

Dear...

Mungkin aku adalah manusia penakut nan berani. Aku harus berani mengalah, karena begitu takutnya aku dengan kata pisah. Aku harus berani tersakiti, karena sangat takut kamu pergi. Tahukah kamu soal itu?

Sejujurnya aku tidak pernah berharap kita bisa seperti ini, dulunya. Bertemu tidak sengaja untuk kemudian bisa dekat, sebenarnya tidak pernah terpikirkan. Karena kupikir aku bukan tipemu untuk bisa bersama-sama tersenyum. Tapi toh semesta seperti telah merancang pertemuan kita, dan mendukung kita untuk saling bergenggaman tangan.

Sampai hari ini, aku masih sering bingung dengan sikapmu padaku, kadang-kadang baik, kadang-kadang sangat menyebalkan. Oke, ini memang lumrah ada pada diri setiap orang, tetapi yang aku bingungkan, apakah masih tetap sayang, kalau memang akhir-akhir ini kamu sering memarahiku bahkan sampai membentakku? Apakah fatal setiap kesalahanku yang menyulutmu? Bosankah kamu padaku?

Bukannya aku baik-baik saja dengan semuanya. Aku hanya tidak ingin kita menjadi lebih buruk lagi kalau aku memilih melawan dan membela diri. Meskipun diam dan mengalah tidak membuatmu merasa bahwa aku adalah manusia sabar yang pantas kamu pertahankan.

Aku tahu, kamu yang aku kenal memang kaku selama ini. Tidak pernah bermanis-manis padaku, tidak pernah memujiku, kamu aneh kalau mengutarakan betapa kamu berterima kasih padaku. Karena telah mengerti sifatmu begitu, aku tidak pernah paksa dan menuntut kamu untuk lebih romantis lagi padaku. Dan selama ini kita bisa baik-baik saja dengan itu.

Tapi tidak kali ini. Beberapa waktu belakangan yang terasa berat bagiku. Tidak pernah lagi ada waktu untukku sekadar bercerita, oh.. Jangankan bercerita, berbicara denganmu saja sudah sangat sulit rasanya. Tidak pernah lagi kamu mau meluangkan waktumu untuk mengajak aku jalan-jalan sebentar sekadar melepas penat sehabis bekerja. Tidak pernah lagi aku melihat binar kekhawatiran dengan penuh kasih sayang ketika kukatakan bahwa aku sedang tidak enak badan.

Aku cukup tahu, bawa setiap kita pasti mengalami perubahan. Tidak, aku bukanlah orang yang menolak perubahan. Hanya saja, bukan berarti kamu yang kukenal baik dan ramah, bisa begitu drastis menjadi kasar dan temperamental, khususnya hanya padaku. Kulihat, ketika berhadapan dengan yang selain aku, kamu tetap baik dan ramah.

Besarkah kesalahanku? Kenapa kamu terlihat begitu tidak menyukaiku? Lupakah kamu, bahwa kita bersama bukan untuk ribut dan menebar aroma kekesalan? Aku masih bertahan hingga kini, hanya karena tidak sanggupnya aku mengulangi berpisah kembali denganmu. Aku berani tersakiti, karena tidak ingin ketakutanku yang dulu terulangi: kamu tinggal pergi.


-dari aku

Rabu, 08 Maret 2017

Ikhlaskan atau Perjuangkan?

                                     PART 4

Kini, setiap hariku hanya jadi mimpi buruk yang ingin kuhapus perlahan demi hidupku. Ya, aku tidak boleh berhenti berjalan. Seberat apapun rasanya melangkah tanpa ada kamu dalam wujud nyata ataupun sekadar pemberi semangat, aku tidak boleh diam dan tidak memperjuangkan hidupku. Aku harus sadar, semakin aku terpuruk dengan pernikahanmu dan Tiara, semakin aku terlihat menyedihkan dan tiada gunanya. Aku harus kuat!

Tiara, bagaimana kabarnya? Pasti perutnya sudah semakin jelas sekarang. Masihkah kamu mengacuhkannya seperti janjimu padaku? Atau kamu malah mulai belajar menerimanya di hidupmu, seperti saran dan nasihat yang selalu menyertaimu selama ini? Sungguh aku tak kuasa rasanya, apakah harus membiarkanmu menyayangi istrimu, atau malah memintamu untuk tetap berpaling padaku. Aku tidak tahu, sayang.

Sore ini aku akan bertemu dengan klien dari luar kota, laki-laki. Biasanya, kamu akan menemaniku, tapi kali ini aku harus siap menghadapi sendiri. Bagaimanapun, aku harus tetap menjalani kehidupan pekerjaanku meski kini itu tanpamu. Ah, lagi-lagi rasanya canggung sekali sekarang apa-apa harus kulakukan sendiri. Setelan berwarna pastel sudah kukenakan untuk bersiap-siap menuju hotel tempat perjanjian dengan klien. Dengan percaya diri, aku melangkah perlahan keluar dari kantor, meskipun jadwal pertemuan masih satu setengah jam lagi, aku hanya ingin sedikit bersantai dengan datang lebih awal.

Sebelum taxi yang kupesan datang, di seberang jalan aku melihat ada seorang nenek-nenek seperti tengah ribut dengan seseorang, itu menggerakkan hatiku untuk tahu lebih pasti apa yang sedang terjadi. Kuseberangi jalan kemudian mencoba bertanya persoalan yang terjadi. Ternyata si nenek hampir ditabrak oleh pengendara motor tersebut. Kasihan sekali, nenek tua ini kenapa berjalan sendirian di sini? Akhirnya aku mengajak nenek tersebut ikut denganku berteduh di depan lobi kantor. Setelah sekitar sepuluh menit berbincang, akhirnya taxi yang kupesan datang. Aku berpisah dengan membawa semangat yang ditularkan dari nassihat nenek tadi padaku. Bahwa, apapun yang terjadi, aku harus tetap memaksimalkan kualitas diriku. Toh, hingga saat ini, seberat apapun hidupku tanpamu, aku masih tetap baik-baik saja.

Pertemuan dengan si klien berjalan lancar, semua baik-baik saja. Aku bersyukur meskipun selama ini selalu tergantung dengan hadirmu menemaniku, tapi kali ini aku dapat mengambil pelajaran lain yang kutimba bersamamu, bahwa aku bisa melakukan komunikasi yang baik agar klien terkesan denganku dan kerja sama bisa terjalin dengan baik-baik saja. Selesainya aku dari menemui klien, aku memilih untuk jalan-jalan sebentar di grand mall di samping hotel tempat pertemuan tadi. Toh tidak ada salahnya berjalan-jalan sebentar barang sekadar untuk mencuci mata. Namun, apa yang kulihat, bukanya malah membuat suasana hatiku segar, hatiku malah teriris karenanya.


Tangan tegasmu, tengah menggenggam tangan mungil seorang perempuan berperut besar. Tatapanmu lembut mengikuti matanya yang senang melihat-lihat beberapa perlengkapan bayi yang lucu-lucu. Perasaan tidak rela merasukiku. Harusnya aku yang berada di posisi perempuan yang kau genggam dengan tatapan kelembutan itu! Aku ingin, lantai tempatku berpijak segera roboh dan menelanku ke dalamnya agar aku bisa sembunyi saat ini juga dari pemandangan yang membuat mataku panas itu. Namun tak mungkin dan sudah terlambat, seiring mata Tiara mengekori keberadaanku, saat itu juga entah kenapa kakiku berjalan menujumu. Oh tidak! Mengapa langkah kaki ini malah mendekat? Mengapa tak ia pilih untuk menjauh saja?

*bersambung⏩ 

* untuk tahu cerita sebelumnya, silahkan klik ➡ PART 1  PART 2  PART 3

Jumat, 24 Februari 2017

Ikhlaskan atau Perjuangkan?

PART 3

Sayang, sudah sebulan rumah tanggamu. Kamu apa kabar?
Rasanya sulit untuk hidup tanpa kamu. Menjalani hari-hari yang biasanya kita lewati berdua, sendiri. Tuhan memberikan jalan pulang untuk rinduku yang kesepian. Dan aku tak pernah menyangka, bahwa jalan menuju pulang ternyata akan sesulit ini.

Kemarin, aku tidak sengaja melihat adikmu, maksudku istrimu di toko buku. Entahlah, kenapa kejam sekali takdir harus mempertemukan kami? Aku berdiri kaku melihatnya yang tengah tersenyum membaca sebuah komik. Rasanya ada getir di dadaku melihatnya begitu bahagia. Begitukah kamu? Bahagia jugakah kamu? Kupikir, dengan berpura-pura tidak melihatnya, tidak akan terjadi interaksi di antara kami. Namun aku salah, Tiara melihatku dan memanggil namaku. Rasanya, aku ingin menghentikan waktu beberapa detik saja, untuk bisa kabur dari situ secepatnya. Aku hanya menatapnya datar membalas senyumannya yang tidak pernah berubah, seperti tiga tahun lalu kami berkenalan. Tidak banyak yang terjadi, Tiara hanya bertanya kabarku dan kegiatanku sekarang yang kujawab sekadarnya, kemudian aku memilih menjauh.

Entahlah. Entah apa yang dipikirkan Tiara saat pertama kali melihatku sampai ia memilih untuk menegurku, bahkan sampai menanyakan kabar dan kegiatanku saat ini. Aku ingin membencinya karena telah mengambil masa depanku, tapi aku tidak bisa melakukannya. Bagaimanapun juga, aku yakin ini semua bukan keinginan Tiara. Lagi pula, selama ini aku sudah menyayangi Tiara seperti adikku sendiri. Canggung rasanya kalau harus kupaksa hatiku untuk membencinya.

Sayang, aku kangen kamu. Tidakkah kamu juga merasakan hal yang sama? Atau kamu marah padaku yang selalu menolak untuk bertemu? Dingin menyentuh kulitku yang terluka karena kehilangan dengan salam perpisahan ini. Kuselimuti kulitku dengan ngilu yang kupaksakan dari senyuman begitu melihat namamu muncul di layar ponselku. Hallo…

Sore ini akhirnya kita bertemu kembali. Ternyata aku memang tidak sanggup untuk berlama-lama tidak melihat masa depanku yang masih kutitipkan di binar matamu, aku ingin melihatnya lagi kali ini, masihkah ada harapan di sana tertinggal untukku?

Kamu kurusan. Kesan pertama setelah sekian lama kita tidak bersua. Binar lelah juga terpancar dari sorot matamu yang meredup. Apa artinya itu, selama ini kamu tidak bahagia, sayang? Maafkan aku harus menatapmu pilu. Aku tidak tega melihat tubuh di hadapanku dengan kondisi seperti ini. Rasanya ada serpihan yang tertancap di tubuhku, ada debu yang menghinggapi mataku, hingga aku tak kuasa menahan linangan di mataku.

Aku tidak baik-baik saja. Entah apakah ini adalah hukuman bagiku karena telah menyakitimu, atau hukuman lain dari kesalahanku yang tidak kusadari. Aku tidak bahagia. Aku ingin mengakhiri ini semua. Aku tidak bisa jauh darimu. Setiap hari mimpi denganmu selalu menyesaki pijakan-pijakan kakiku. Aku tidak bisa melangkah tanpa menghadirimu di setiap helaan napasku. Berkali aku coba menerima takdirku hari ini, namun ada saja suara-suara yang menyorakiku, mengingatkan akan kamu yang tengah terluka dengan hadirnya Tiara di sampingku. Aku bersalah padamu, sayang. Maafkan aku sampai detik ini masih terus memberikan harapan, namun aku tak tahu dengan cara apa kuwujudkan keinginan itu.

Kita sudah sama-sama membasahi mata kita. Aku merasakan perihnya jalan hidupmu. Ternyata selama ini aku terlalu egois memikirkan takdirku yang ditinggalkan olehmu. Padahal kamu sendiri yang lebih menderita, harus hidup dengan orang lain yang tidak pernah diduga sebelumnya, di samping masih terus memikirkan aku yang kau tinggalkan.

Bagaimana dengan Tiara?

Ia sepertinya sedang berusaha menjadi istri yang baik. Setiap hari ia melayani kebutuhanku, meskipun aku selalu bersikap dingin padanya.

Suaramu tercekat. Kamu pasti merasa tidak enak menceritakan ketidakenakanmu pada usaha Tiara mencoba menjalani takdirnya saat ini. Aku tahu, di satu sisi kamu pasti mulai ingin pasrah dan menerima takdirmu saat ini sebagai suami Tiara, menghargai usahanya yang sudah memberikan yang terbaik untuk rumah tangga kalian. Namun di sisi lain, kamu sudah punya janji denganku.

Lantas aku? Aku harus bagaimana? Ikhlaskan atau perjuangkan?



* untuk tahu cerita sebelumnya, silahkan klik ➡ PART 1  PART 2

Rabu, 25 Januari 2017

Ikhalaskan atau Perjuangkan?

PART 2

Lalu, hujan akhir tahun ini perlahan datang membisikkan. Hal yang paling kita hindari itu datang. Di saat cinta sedang berada di puncak bahagianya. Saat kebahagiaan secara simultan berganti perpisahan yang memuakkan. Mimpi buruk yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
                       
Maafkan aku sayang, orang tuaku menjodohkan aku dengan Tiara.
Kamu tampar aku dengan keras dan sekuat tenaga. Apa maksudnya?
Di dalam kafe yang hangat dengan irama derasnya hujan, jantungku berhenti berdetak, mataku nanar, bibirku terbuka. Sayang, tolong lanjutkan kalimatmu, bilang, kalau kamu hanya bergurau! Tolong…

Namun kamu hanya diam. Ada gelisah dan kekecewaan di raut wajahmu. Apa artinya itu, kamu tidak dapat menolak permintaan orang tuamu? Oh, tidak! Tolong jangan seperti ini, sayang. Aku tidak mungkin membiarkan itu terjadi. Aku tidak mungkin bisa menerimanya. Tidak akan bisa!

Lima menit, sepuluh menit, kita hanya diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Kehabisan kata-kata. Makanan enak di hadapan kita masing-masing terlihat seperti makanan basi yang sangat busuk, tidak enak lagi dimakan. Pikiranku kacau. Aku tidak tahu harus bagaimana. Entah di menit keberapa, aku memutuskan untuk melangkah pergi meninggalkanmu sendirian. Maafkan aku! Aku butuh waktu untuk menenangkan diriku sendiri. Aku butuh waktu menata hatiku yang terberai dengan keputusanmu itu, maafkan aku belum mampu memberikan tatapan pilu padamu.

--

Tiara, gadis yang diangkat anak oleh orang tuamu saat usianya tiga tahun. Gadis pemalu itu tumbuh menjadi saudaramu selama ini. Di antara keluargamu, hanya Tiara yang kau kenalkan padaku di awal hubungan kita. Kita sesekali mengikutsertakan Tiara dalam momen-momen bahagia kita. Bagaimana mungkin aku akan mengkhawatirkannya selama ini? Ternyata aku salah.

Tiga hari setelah kita terakhir menyia-nyiakan makanan di kafe, kamu akhirnya datang menemuiku ke rumah kontrakan sederhanaku. Wajah pilu dan pakaian yang kusut membuatku mempersilahkanmu masuk dan duduk di ruang tamu. Sepuluh menit pertama kita hanya diam, canggung. Sampai kemudian kamu membuka pembicaraan.

Maafkan aku, sayang. Sudah segala cara aku lakukan untuk meyakinkan mama, papa, juga nenek, bahwa aku sudah memiliki kekasih, dan kita akan menikah tahun depan, tetapi tidak ada yang mau mendengarkan aku. Ucapmu

Coba lagi! Kejarku.

Sudah sebulan ini, aku sampai merajuk tidak pulang, tetapi tidak dapat merubah keputusan yang sudah diambil keluargaku.

Apa? satu bulan, katamu? Sepintar itukah kamu menyembunyikan hal ini dariku, sehingga sebulan belakangan aku tidak tahu kalau kamu menyimpannya dariku? Kenapa kamu baru memberitahuku sekarang? Aku tidak kuasa menahan air mataku.

Obrolan panjang kita sore itu, tidak memberikan harapan apa-apa padaku. Hanya keputusasaan yang harus aku rasakan. Keluargamu sudah menyiapkan semuanya untuk pernikahanmu yang ternyata tinggal dua minggu lagi. Aku tahu kamu mencintaiku, tapi… untuk apa? Kalau kamu akhirnya tidak bersama-sama denganku? Entah mimpi buruk apa ini, aku harus kehilangan sebelah sayapku. Aku tidak mampu lagi terbang sendiri.

Sebuah pesan kamu kirimkan padaku malam hari, entah itu adalah sebuah harapan yang coba kamu berikan padaku, atau adalah suara hatimu yang sebenarnya juga tak kuasa melawan kehendak orang tuamu.

Cintaku,
Maafkan aku atas kenyataan yang membuatmu sakit
Maafkan aku atas keputusan yang tidak menyenangkan ini
Maafkan aku atas rencana masa depan yang indah kita harus tercoreng
Bukannya aku menerima keputusan ini karena tidak mencintaimu lagi, tidak!
Aku akan selalu menyimpanmu dalam hatiku
Hanya kamu satu-satunya cinta yang menduduki hatiku
Ada janin dalam rahim Tiara yang membuat malu keluargaku
Aku berjanji, kalau anak itu kelak lahir, aku akan menceraikannya
Dan kembali padamu, untuk menjemput masa depan kita
Kamu bersabar ya, sayang…
Aku berjanji, tidak akan pernah menyentuhnya sedikitpun!
Bagaimana mungkin? Tiara bagaimanapun juga adalah adikku
Sekali lagi maafkan aku

Aku mencintaimu, sampai kapanpun!

air mataku, menetes kembali...

*bersambung⏩ PART 3
______________________________________________________________________________
* untuk tahu cerita sebelumnya, silahkan klik ➡  Part 1

Senin, 23 Januari 2017

Ikhlaskan atau Perjuangkan?

PART 1

Entah waktu yang berjalan terlalu ngebut, atau memang kisah kitalah yang terlalu mengesankan, hingga aku merasa semuanya begitu cepat berlalu, sayang. Kamu hadir membawa banyak perkembangan di hidupku, rasanya sulit, untuk tidak jatuh cinta kepadamu. Setahun waktu yang cukup lama bagimu akhirnya membawaku membuat keputusan menerima sosokmu menemaniku berjalan dan berjuang bersama menulisi setiap detik kehidupan ini, untuk masa depan kita. Dan, kecepatan waktu menghitung sudah tiga tahun lamanya kita hidup bersama dalam sebuah hubungan yang diikat cinta.

Tidak mungkin kamu tidak mengetahui betapa cinta ini setiap saat selalu kujaga dan kupupuk, untukmu. Semenjak hari-hari kita berjuang bersama, bahumu yang kokoh selalu menopang kegundahanku, tanganmu yang lembut selalu membelai kepalaku dengan kasih sayangmu itu, dan, tutur lembutmu yang selalu menenangkanku dengan semangat dan nasihat yang selalu kau kuatkan untukku. Aku perlahan menjadi tergantung padamu, terlebih, aku sangat takut kehilanganmu.

Hidup bersama yang kita ikhlaskan dengan cinta selama tiga tahun lamanya, membuat aku berhenti mencari arti bahagia. Semuanya telah kita miliki. Aku masih ingat, ketika kita membahas mimpi-mimpi kita, tidak pernah namaku absen kau sertakan dalam impian masa depanmu. Aku menunggu itu sayang, aku selalu mendoakan dan mendukungmu untuk bisa meraih mimpimu secepat yang kita mampu.

Aku masih ingat, janjimu. Kamu akan membawaku pada keluargamu, usai lebaran tahun depan. Memperkenalkanku sebagai calon ibu dari anak-anakmu, dan kelak, giliran keluargamu yang akan datang ke orang tuaku. Rasanya, aku ingin waktu ini cepat bergulir. Tidak sabar rasanya aku menjadi istrimu. Setiap pagi menyiapkan sarapan untukmu, menyiapkan perlengkapanmu sebelum engkau berangkat kerja, ah… indah sekali bukan, hari-hari kita nanti?

Rasanya dunia kita terlalu istimewa dan sempurna. Meski sendiri itu baik, ternyata berdua itu jauh lebih mewah, lebih indah. Kita menjadikannya sebagai alasan untuk tetap dalam satu genggaman. Tiada lagi orang lain yang mampu masuk dan mengacau hari-hari kita.


--
Hujan pertama datang. Hujan yang membawa pengharapan bagi insan-insan yang kekeringan dan merasa kepanasan, akhirnya menjadi momen romantis kita. Sederhana, tapi aku suka. Aku ingat, kamu rela kebasahan hanya demi menemuiku di gedung teater tempat biasa aku hangout di sore hari. Aku tahu kamu awam dengan dunia teater sebelum ini, sayang. Tapi demi mau masuk ke dalam duniaku, kamu perlahan mulai mencintai hobiku ini, seiring cintamu yang bertumbuh padaku. Dan aku sangat menghargai itu.

Kenapa kamu datang juga meski hujan? Kuusap lembut keningmu yang basah. Senyum teduhmu meyakinkan aku bahwa kamu tidak merasa terpaksa sedikitpun untuk datang. Sungguh, aku merasa sangat beruntung bisa dipertemukan dengan laki-laki hebat sepertimu. Laki-laki yang senantiasa memberikan kehangatan sederhana padaku, di kala musim hujan sudah tiba.

*bersambung⏩ PART 2

Minggu, 04 Desember 2016

Tiada

Aku takut,
Tuhan mengabulkan doaku dulu tentangmu...

Karena kini, kita bukanlah lagi satu genggaman
hanya bahagian dari orang asing yang berlalu-lalang,
seketika hilang dalam penglihatan.
Menjadi asing dalam semalam, pasca pertengkaran.
tiada lagi kini sapaan akrab,
karena kita sudah selesai dalam kata tamat.

aku ragu,
Doa macam apa yang 'kan ku panjatkan,
agar Tuhan membatalkan doaku yang dulu, pernah kumunajatkan padanya,
Masa depan bahagia yang kuimpikan,
tentangmu,
tentang kita...
yang kini sudah tiada.

Minggu, 28 Agustus 2016

Kepingan Puzzle

Kamu pernah menjadi bagian dari kepingan puzzle hidupku. Ambil bagian penting di beberapa keping, dan beberapa keping lagi menjadi bagian yang kurindukan. Terkadang kamu harus pulang dan hanya ada aku sendirian di kota rantauan kita. Menunggumu di depan pintu sambil sesekali mengecek ponsel, kalau-kalau kamu memberitahu akan datang. Biasanya, tidak lama menunggu, aku sudah bisa tersenyum mendapatimu datang membawa tentengan yang sudah pasti isinya oleh-oleh buatku. Itu biasanya.
Kali ini tidak ada lagi. Tidak pernah lagi: aku menunggumu, dan kamu akan datang. Semua telah berbeda. Sudah setahun. 
Ah... waktu yang memperjelas, atau memang kita yang sudah berubah?

Jarak.
Mengapa dalam jarak yang sudah semakin jauh, Tuhan mengizinkan aku sekali lagi mengingat kenangan bersamamu? Mungkinkah ini seperti memberi harapan bahwa kita mungkin masih saja bisa memperbaiki kolase yang sudah kita sama-sama pecahkan?

Aku tidak menulis untuk membahas penyebab retaknya kepercayaan di masing-masing kita, hanya kuingin memberitahumu, tiada pernah hatiku memberi ruang untuk benci padamu sedikitpun. Kesalahan yang ada padaku, menjauhkanmu. Kesalahan yang ada padamu, mendiamkanku. Namun mengapa kamu langsung pergi menjauh? Mengapa tidak ingin mencoba berbicara, menanangkan hati masing-masing, atau mengulang untuk tertawa bersama, memberi irama pada hati yang mulai beku?

Sudah setahun kamu pergi. Memang tidak ada hal buruk yang terjadi padaku, aku pun masih dapat bernafas. Hanya saja, mungkin kamu lupa, kalau kamu adalah pemegang setengah kepingan puzzle hidupku. Kepingan puzzle yang menjauh demi menghindari keributan antara kita.

Semalam, tetangga kamar kos membeli sebuah puzzle dari toko buku. Kami membuat permainan siapa yang paling cepat menyusun-nyusun kepingan puzzle yang sudah diacak, permainan berjalan lancar, sampai akhirnya tiba giliranku, permainan tidak bisa kuselesaikan, karena salah satu puzzlenya tiba-tiba saja menghilang.

aku jadi teringat akanmu. kapan kamu akan kembalikan kepingan puzzleku?

Senin, 08 Agustus 2016

Sesaat

kita bertemu baru saja. di ambang senja yang mendung, tanpa kehangatan semburat jingga.
kita berpisah baru saja. saat kegelapan dan dentingan suara tetes-tetes air hujan mulai mencuat.
kita bertemu ketika ingin bertemu, dan berpisah dengan terpaksa. bukan karena keinginan. ya, dipaksa keadaan.
...
saat itulah kulihat sinar ceria matamu yang pertama kali kulihat saat kita bertemu meredup.
pipimu, membulat karena tidak suka dengan perpisahan ini. ingin rasanya jemariku membelai lembut pipimu. tapi aku terlalu malu dengan lingkungan.
"kita akan bertemu lagi, nanti, kan?" rajukmu.
aku mengangguk ragu. takut berkata "tidak" demi tak melihat lagi embun di pipimu. sudah cukup rasanya kamu menunggu kesempatan untuk bertemu aku, sudah terlalu banyak air mata yang kau keluarkan untukku. aku tak ingin menambahkannya lagi. namun, untuk berjanji pun, aku terlalu takut.
"hujan, nanti kamu demam. mari kita pulang dulu." hanya itu yang mampu aku utarakan demi melihatmu melangkahkan kaki yang berat itu.
kita berjalan bersisian hanya sepuluh langkah saja, setelah itu, di persimpangan kita berpisah. kamu berbelok ke arah kiri, aku ke kanan.
aku takut menoleh ke belakang, meskipun sangat ingin. namun, aku tak sanggup melihatmu menangis lagi.
*

Minggu, 31 Juli 2016

Pernah

Aku pernah merasakan kehilangan, bahkan belum sempat memiliki sebelumnya.
Rasa yang kuciptakan sendiri dengan tanpa komitmen telah memiliki sakitnya sebelum sempat bersama.
Bodoh memang, namun tak apa. Toh hati tidak pernah minta izin terlebih dahulu ia akan tertarik pada siapa.
Wajar.
Kini kurasakan semua luka itu secukupnya. Sesekali berteriak dan menangis sekencang-kencangnya.
Akan menjadi pengingat diri, bahwa ada beberapa hal seperti itu, bagaimana pun kita berusaha meraihnya, tetap tidak bisa dipaksakan.

Ikhlaskan, Layaknya bunga yang tetap setia bermekaran di musim semi, meski akan tahu musim gugur selalu datang.

Senin, 25 Juli 2016

Kesalahanku

sudah  empat puluh delapan hari semenjak kita bertemu untuk pertama kali setelah setahun lamanya berpisah. Ada rindu yang hanya kubungkus dalam kulum senyumku. Entah kenapa meski sudah tiga tahun lamanya semenjak kita pertama kali bertemu dahulu, aku masih setia menyimpan saja rasaku padamu.
Takut? Mungkin lebih tepatnya aku malu. Malu, bagaimana mungkin seorang gadis lugu memulai pembicaraan terlebih dahulu?

Kalau semesta mengetahui kemampuanku menyimpan beban rasa padamu selama tiga tahun ini, mungkin aku akan memperoleh penghargaan karenanya. Memendam tanpa berani menguak kebenaran yang ada. Menjaga hati seolah-olah ia adalah milikmu saja.

Ah... Aku merindukan empat puluh delapan hari belakangan. Kala kutangkap kau tengah menatap ke arahku cukup lama. Tapi bodohnya aku hanya menunduk dan membuang muka. Takut, malu, aku jadi membuang kesempatan untuk hanya sekadar melempar senyum terbaikku padamu. Aku rindu kala berhadapan denganmu. Bukan berjauhan seperti ini. Sayangnya aku tak punya mesin waktu. Itu artinya, aku tidak akan bisa menjemput kesalahanku di masa itu, hingga kini aku menyesal. Iya, andai saja kala matamu mengekoriku, aku ikut menatapmu, memberi senyum, lalu menyapa dengan hangat. Mungkin kita akan akrab, dan bukan tidak mungkin aku akan mengutarakan maksudku padamu. Ahh...

Hari ini, lelaki yang tak kukenal akan datang ke rumahku untuk bertemu orang tuaku. Kamu tau artinya? Ya, aku takut untuk mengatakannya. Aku tak sanggup membayangkannya. Terlebih, aku tak punya daya menolak orang tuaku. Orang tuaku sudah memberiku waktu tiga tahun untuk mencari sendiri dan membawanya kepada orang tuaku, dan aku sudah menemukannya sejak tiga tahun lalu.  Itu kamu. Tapi... Ah sudahlah... Usiaku 30 tahun di tahun ini, dan orang tuaku semakin renta, aku hanya tidak ingin menambah-nambah beban pikiran mereka di usianya sekarang.

Maafkan aku yang tidak pernah bisa jujur padamu tentang apa yang sudah aku sembunyikan selama tiga tahun ini. Ini kesalahan terbesar dalam hidupku. Dan kini, tinggal menunggu waktu hingga aku harus melepaskan bayang-bayang bersamamuu. Melupakan keinginan membina keluarga denganmu. Aku pasrah.

Rabu, 20 Juli 2016

Rindu

“Kita pernah, —di negeri yang sesak 
oleh jutaan orang ini— menjadi sepasang 
genggaman membelah awan hingga 
menguak rintikan hujan…”

Rindu bukanlah gurauan yang ingin aku lontarkan. Karena merindukanmu adalah pekerjaan paling mudah dan mengandung candu berdosis tinggi. Banyak hal di sekelilingku hampir tak luput untuk tak memberitahu kalau dahulu tangan kita selalu bergenggaman erat. Seperti waktu itu, di suatu sore yang basah, kita berlarian, mengecipakkan air dari hentakan sepatu-sepatu kita yang sudah kuyup. Bukannya meneduh, kita tetap saja menikmati serangan air yang mengerumuni tubuh kita. Kita tertawa seolah-olah hari itu adalah hari paling membahagiakan dalam hidup kita.

Apa kamu tahu?

Rindu begitu mudah mengundang kenangan. Sekali tawa mengingatnya, setelah itu hanya ada dada yang getir mengetahui bahwa hal itu takkan pernah kembali lagi. Selanjutnya, rindu menghantarkan awan yang memberi ruang pada aliran air merosot dari mataku.

Aku di sini sekarang, di suatu sudut di sisian pantai tempat kita pernah bermandikan hujan melepaskan beban. Saling berbagi mimpi kalau persahabatan kita harus setua nenek-nenek kita saat itu. Menikmati sisa hujan sendirian. Pada waktu dan tempat yang sama ketika tubuhmu terlempar pasca disenggol mini bus berwarna orange.

Tenanglah di sana, sahabatku tercinta…
Maafkan aku yang tidak sigap membawamu menghindar dari hantaman si orange itu.
Aku merindukanmu, lagi.


Selasa, 19 Juli 2016

Senja Bersama Ayah

Sesore ini entah mengapa kakiku kembali ingin menemui sebuah tempat kenangan yang mulai jarang kusapa. Mungkin kalau di tidur siangku tadi ia tak memanggil-manggilku, takkan aku datang sore ini. Akankah ia merindukanku? Atau bahkan ia membutuhkan perawatanku? Sepeda yang setia tersandar di bagasi kukeluarkan. Setelah memastikan ban dan rantainya aman, aku mulai mengayuhnya menuju tempat tujuan. Tempat kenangan.
Setelah menjatuhkan standar sepeda, aku terdiam cukup lama dengan mata mengitari setiap inci ruangan terbuka ini, merasakan hawa sejuknya, aroma udaranya, dan suara khas alamnya. Tempat ini… Dari sinilah ayah dulu mengajariku berenang, mengajariku bunyi gemeletar punggung buaya lapar dan kecipak anak-anak ikan kemuring. Di sini juga ayah mendidikku membedakan suara daun dan suara keciap ular manau, yang menyaru suara katak untuk melahapnya. Sering aku dan ayah menyusupi celah-celah nifah, menyelam di bawah gemerisik pelepahnya, saling menguji ketahanan dengan tidak bernafas.
Bunyi gelak, tawa, dan teriakanku kala ayah mulai iseng berpura-pura mendorongku ke air, kini kembali terngiang di telingaku. Bayangan ayah melompat-lompat menjangkau buah jambu di pohonnya yang tidak terlalu tinggi itu sekilas lewat. Cerita-cerita dongeng serta petuahnya yang selalu ayah sempatkan untuk membaginya padaku, perlahan kembali teringat. Ada sebuah batu besar membelakangi pohon jambu, di sana dahulu ayah sering duduk bersila kaki memangkukan tangan kirinya ke bahuku, dan kita bercerita apa saja. Kurasa, wajahku membentuk raut senyum sekarang demi kenangan hangat tersebut.
...Lamunanku buyar ketika telapak kakiku yang mencelup air dikerumuni ikan nari dan batu tempat aku duduk tidak tersinari lantaran matahari hampir tenggelam. Kulengahkan kepalaku menuju barat demi menikmati hangatnya senja. Jingga warnanya meronakan pipiku yang sudah mengaliri air mata. Sudah setahun semenjak penyakit kronis itu merebut ayah dariku. Tidak pernah mata ini alfa dari air mata setiap mengingatnya. Sosok gagah yang sangat aku banggakan itu kini pasti sudah beristirahat dengan tenang tanpa pernah lagi merasakan sakit yang bertahun menghimpitnya. “Ayah, aku merindukanmu. Begitu banyak beban yang ingin kubagi padamu, kini entah siapa lagi yang dapat menggantikanmu memberikan petuah kehidupan padaku. Yang tenang di sana yah…”

Langit semakin gelap, kuseka air mata dengan punggung pipi yang mulai dingin. Angin mulai usil memainkan ujung rok dan rambutku. Perlahan berjalan meninggalkan tempat penuh kenanganku bersama ayah. Sebelum sepeda kukayuhkan menuju rumah, kepalaku sekali lagi ingin melihat alam indah ini. Tempat terindah dengan penuh kenangan indah bersama lelakiku. Bibirku tersenyum sebelum akhirnya sepeda kukayuhkan dan benar-benar meninggalkan tempat itu.