Tampilkan postingan dengan label cuap-cuap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cuap-cuap. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 April 2018

Rasanya Wajar,

Rasanya wajar, aku mengingatmu lagi sekarang.
Kamu yang dulunya selalu menemaniku saat aku memulai semuanya.
Kamu yang mendukung dan menyemangati aku menjalani ini semua.
Kamu yang membersamaiku berjuang dari awal.
Tempat membuang keluhku, tempat menertawakan kekeliruanku, tempat mendukung aktivitasku.
Kamu selalu ada waktu terpuruk terparah sekalipun di kehidupanku. Kamu selalu hadir di masa-masa sulit aku merangkak menyelesaikan ini semua. Menemani begadang, menemani kala bosan menunggu, menghibur kala yang aku selesaikan ternyata harus diperbaiki lagi, dan lagi.
Saat aku mulai bosan dan ingin menyerah? Kamu pun yang mengingatkan aku untuk tidak berhenti di tengah jalan.
Aku selalu ingat itu, hingga saat mengetik tulisan ini, dan mungkin sampai nanti tulisan ini masih bisa dibaca ulang berkali-kali.
Kamu masih ingat? Kurasa kamu pun tidak mudah melupakannya. Karena waktu yang kita lalui bersama itu tidaklah singkat; panjang dan penuh liku.

Rasanya wajar, aku mengingatmu lagi sekarang.
Kamu yang tiba-tiba menjadi asing.
Kamu yang kemudian menjauh, perlahan menghindar, dan pergi tanpa salam perpisahan.
Memang kamu tidak menemaniku sampai perjuangan terakhirku di sini. Kamu sudah menyerah lebih dulu sebelum aku menyelesaikannya. Namun tentu saja hasil yang kudapat sekarang ini, tidak terlepas dari peranmu di awal perjalanan dulu.
Ada yang asing rasanya ketika aku selesai, tanpa memberitahukanmu cerita melegakan ini. Aku ingin mengabarimu, tapi aku tak tahu harus bagaimana.
Ada yang kurang rasanya, dari sederet orang yang menyalamiku, tidak kutemukan kamu yang dulu mengulurkan tangannya menarikku yang terpeleset.

Orang yang menemaniku berjuang dari awal, sekarang tidak bisa merangkulku lagi, di kala aku telah berhasil menyelesaikannya. Rasanya wajar, aku mengingatmu lagi sekarang. Kamu masih temanku, kamu masih sahabatku, kamu masih orang yang berarti bagiku.

Jumat, 16 Februari 2018

Aku Maafkan Janjimu Dulu

Aku hanyalah tepian yang berdiri memandangi aliran sungai dan menikmati semilir angin. Diam, dan sendiri.
Kemudian beberapa orang datang, kamu salah satunya.
Kamu datang dengan menawarkan sebuah masa depan yang indah di saat aku sedang berusaha ingin fokus dengan pendidikanku. Mengganggu konsentrasiku? Tidak bisa di “judge” begitu, tapi tidak kupungkiri juga kalau tawaran itu sedikit mengusikku. Ya, sederhananya, perempuan mana yang tidak “terpikirkan” ketika ada seorang yang dengan serius menawarkan komitmen −Bukan hal main-main− padanya?
Pernah kamu berkata bahwa perempuan sepertikulah yang kamu inginkan menjadi ibu anak-anakmu, bagaimana itu tidak sebuah pujian untukku?
Namun aku yang sedang tidak memiliki kemampuan ini memberikan isyarat bahwa aku belum mampu dalam hal kesiapan saat itu, aku tidak memintamu menunggu, namun kalau kamu ingin memilih menungguku, itu hakmu. Dan dengan gagah saat itu kamu berkata “Aku tetap menginginkan perempuan sepertimu yang mendidik anak-anakku, jadi aku akan menunggumu siap, meskipun bukan atas permintaan dan keinginanmu.”
Yah, aku hanya mengingat itu sebagai sebuah janji, mungkin? Namun memang setelah itu kita tidak pernah lagi berkomunikasi, menjaga jarak dari fitnah yang mungkin mengelilingi kita. Sampai suatu waktu, belum lama ini, kamu kembali bertanya “bersediakah kamu melengkapi separuh agamaku, saat ini?” hingga saat itu kamu masih memegang janjimu. Namun tetap, aku masih belum bisa memberikan jawaban seperti keinginanmu, dan kamu kembali berjanji akan menungguku tahun depan (tahun ini) karena studiku akan selesai di tahun ini.
Dan, di saat aku sedang menikmati kesibukanku menyelesaikan pendidikan, kamu tiba-tiba kembali menyapaku, bertanya apakah undangan pernikahanmu sudah sampai padaku? 

***
Aku mempercayai Allah, adalah pengatur yang baik di atas hidup kita. Allah telah memisahkan kita dengan caranya, cara yang baik sekali. Aku yakini memang kita bukanlah berjodoh. Sehingga, kamu mendahuluiku, dipertemukan dengan jodohmu di waktu yang tepat. Kecewakah aku? Tidak sama sekali, karena keyakinanku akan Allah seperti pasrahku atas kehendakNya mengatur hidupku selama ini.
Untukmu, selamat menempuh status baru, menjadi imam dalam keluarga barumu, pergaulilah dengan baik bidadarimu, sayangi ia, bimbing ia dengan kelembutan, semoga kalian berada dalam bahtera yang sakinah, mawaddah, wa rahmah... berbahagialah...
Untuk janjimu kepadaku sebelum ini, telah kumaafkan dan sudah kulupakan.

Kamis, 09 November 2017

Jadilah si "Tidak Peduli" daripada Pembenci

Seberapa banyak kita memiliki orang lain di hati kita, masuk dalam kategori orang-orang yang tidak kita sukai? Kurang dari 5? Lebih dari 5? 10? 20? Tahu persiskah kita apa alasan kita menempatkan mereka pada golongan orang yang kita tidak sukai? Logiskah alasan itu?

Kehidupan seperti apapun, tentu ada saja konflik dan masalah yang terjadi, meskipun dengan bersusah payah kita hindari untuk bermasalah dengan orang lain. Namun, pilihan kita untuk menempatkan perasaan kita pada orang tersebut. Apakah kita harus membencinya atau tidak? Kadar kebenciannya tinggi atau tidak? 

Ada saja, seseorang yang baru mendengar nama orang yang dibenci saja sudah langsung badmood. Ada juga, walaupun bertemu dengan orang yang tidak disukai, ia masih bisa bersikap normal dan biasa saja, memperlihatkan seolah hatinya berdamai dengan orang tersebut.

Jadilah si tidak peduli daripada pembenci. Sengaja tulisan ini ditulis hari ini. Barusan, ada kejadian di samping saya, seseorang yang di hatinya menyimpan kebencian yang dalam terhadap seseorang, mencak-mencak begitu mengetahui yang dibenci tengah berbahagia, padahal tidak membuatnya terlukai sedikitpun. Namun, hati yang membenci, tetap mencari celah untuk tidak menyukai. Hampir setiap hari peduli, mencari tahu, tentang orang yang tidak disukai. Dapat apa? Hati yang semakin keras dengan kebenciannya. Lelah dengan kebencian yang menguras kalori, tidak kenyang.

Untuk apa kita terlalu peduli? Bukankah lebih baik kita tak acuh dengan orang yang tidak kita sukai, ketimbang menyediakan waktu kita untuk memperhatikan hidupnya? Jadilah tidak peduli daripada pembenci, karena lebih aman, tentram, dan mengurangi potensi dosa.

Selasa, 31 Oktober 2017

Hey! Kamu...

Hey! Kamu...
Sudah berapa lama hingga saat ini? Kepura-puraan yag nyaris tanpa cela, terlihat begitu sempurna dan natural.
Kurasa, kita adalah pelakon yang baik. Melakoni peran kita masing-masing seperti mereka yang sangat baik-baik saja. Tapi, aku yakin, kita tidak baik-baik saja, kan? Paling tidak, aku tahu, kalau bukan hanya aku yang merasakannya. Tentu kamu juga merasakan keanehan atas image kita ini. Benar begitu, kan?

Hey! Kamu...
Seseorang yang "mereka" anggap adalah bagian dari hidupku. Apakah kamu tahu dan peduli, sedikit saja dengan aku, seperti kelihatannya? Ya, kelihatan dari luar kita adalah wujud sempurna dari kepedulian dua kutub. Namun, kurasa, kita sangat berbeda dari kelihatannya, kan?
Apakah kamu pernah mendukungku? Kurasa tidak. Yah.. Walaupun aku pernah berpura-pura menjadi pendukungmu yang tulus, rasanya tidak sekalipun kamu memotivasi langkahku yang sering terseok. Kamu hanya diam. Di saat mereka bertanya, kamu melemparkan kesalahan padaku, bahwa aku tidak ingin dicampuri urusannya. Benar begitu, kan?
Nyatanya selama ini, aku selalu berjalan dengan kakiku, kamu melangkah dengan rodamu.


Hey! Kamu...
Sejujurnya aku pernah mencoba untuk menjadi separuhmu. Hanya saja, hmm... Tidakkah kamu merasa ada kecanggungan di antara kita? Rasa kikuk yang seringkali kurasakn bila memainkan peran sebagai perempuan terbaikmu. Oke, aku adalah seorang yang kaku, namun kakunya aku berbeda dari rasa canggung yang mengelilingi kita.

Hey! Kamu...
Aku tidak paham dengan diriku sendiri, masih rela dan bertahan dengan kepura-puraan yang tidak nyaman ini. Padahal aku tahu, seringkali aku gelisah bila berada di dekatmu. Tidak jarang aku risih pura-pura peduli padamu. Kuharap semoga kamu masih bisa memahami dirimu setidaknya, jangan seperti aku yang payah ini. Jangan!

Hey! Kamu yang semestinya sering aku banggakan, seharusnya selalu membuatku bersemangat bila bersamamu, jika saja kita dipertemukan kembali, ingin aku bertemu dalam rasa yang damai, menerimamu menjadi bagian dariku, menyayangimu setulus yang aku mampu.

Sabtu, 19 Agustus 2017

Sebuah pesan

Ada apa kita? Tidak ada...
Aku berani menegaskan karena memang belum ada ikatan yang menyatakan ada apa-apa di antara kita.
Tentang perasaan yang sama-sama kita jaga, biarlah hanya kita ungkapkan lewat doa, kita tunjukkan pada pemilik hati semata.
Tentang akan bagaimana kelanjutannya setelah ini? Mengapa tidak kita pasrahkan saja padaNya?
Usahlah kita mencoba memanjat dinding pembatas yang memang seharusnya menjaga kita dari praduga untuk tau akhirmya.
Karena... Memang tidak ada yang benar-benar tau, akan seperti apa jadinya sebuah perjalanan akan bermuara ke mana. Hati? Siapa yang bisa menjamin akan bisa menetap pada rasanya saat ini? Wallahu a'lam...


Rabu, 16 Agustus 2017

Kelak, Suatu Hari...

Bening pantulan silau mentari dari luar, mengenai pipimu yang sedikit gembul menutupi mata. Namun, mungkin karena silaunya lumayan mengganggu, akhirnya mata bulat bening itu membuka perlahan diiringi gerakan meregangkan badan khasmu di setiap terjaga. Setelah itu? Tentu saja tangan mungilmu akan merangkulku sambil berkata "Assalamualaikum, Mi... Selamat pagi..." dan akan kuciumi kepalamu dengan lembut dan penuh cinta. "Waalaikumussalam sayang, selamat pagi!" kemudian tanganmu akan kugenggam erat, menuntunmu masuk ke kamar mandi.

Sedang di meja makan...

Nampak hidangan mengepul asap dengan aroma yang sangat lezat telah kuhidangkan. Duduk di pinggir meja paling kanan seorang lelaki berbaju rapi sedang menikmati minuman pagi harinya, yang tentunya sudah kusiapkan terlebih dahulu. Begitu melihatmu sudah rapi dan wangi, ia akan meletakkan cangkirnya, kemudian menggendong dan menciumimu penuh cinta. "Assalamualaikum... Masya Allah... Anak ayah sudah wangi". Pemandangan yang tentu saja akan kutemui di setiap rutinitas pagi kita, dear keluarga kecilku, suatu hari nanti...

***

Senin, 17 Juli 2017

p e m b e l a j a r a n

Dari apa-apa yang hilang, sungguh kumenyesali telah kehilangan selera. Bukan, bukan selera makan, tetapi selera untuk kembali memulai menyapa muka-muka lugu yang bertatapan semu dengan lugu.
Benar penyebabnya adalah raibnya sebuah harapan yang pernah kugantungkan pada malam yang membawa kita menyusuri satelit untuk dapat saling menerima dan mengirimkan sinyal itu.
Telah lama setelah kita menjalani hidup masing-masing. Mungkin malam ini kau tengah tersenyum bahkan tertawa bersamanya, yang memilih menetap di hatimu. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana tawa khasmu yang mengandung kelembutan. Sedang tawaku di sini hanya singkat tanpa irama, terkadang seperti tersedak. Benar, ada sesuatu yang mengganjal tentang tiadanya penjelasan yang membuatku terpaksa membiarkanmu memilih mundur.

Sempat, sesaat setelah menyadari benar-benar kepergianmu, aku mempertanyai Tuhan, tentang mengapa kita harus diperkenalkan sampai bahkan bisa seakrab bisa bercanda ringan satu sama lain, kalau Ia akhirnya memperbolehkanmu menjauh dariku? Mengapa aku diizinkan bisa menjadi diriku sendiri tanpa beban bila berhadapan denganmu? Namun, perlahan aku tersadarkan akan satu hal, bahwa waktu bisa lebih manis menjelaskan semuanya. Walau sempat khawatir tentang hari-hari yang baru, Tuhan membawa kakiku melangkah bersamanya, agar aku tidak lagi takut merasa sendiri. entah itu benar atau tidak, yang kutahu, setiap yang pernah singgah menemaniku, mereka adalah pembelajaran yang dititipkan Tuhan padaku, agar aku bisa lebih menghargai dan menjaga sesuatu ketika ia masih bersama denganku.

Selasa, 30 Mei 2017

Berbicara

Dikelilingi banyak kaum hawa, sedikitnya bisa membuatku mengambil kesimpulan tentang karakter alamiahnya mereka, ditambah lagi begitu banyaknya artikel bahkan meme, berseliweran yang terkadang iseng kubaca menambah pengetahuan tentang perempuan. Mengapa butuh artikel dan pengamatan? Karena sejatinya memang perempuan itu sulit dimengerti, iya, aku pun sering tidak bisa memahami bagaimana perempuan itu sesungguhnya, apa yang ada di pikiran mereka, apa yang sebenarnya diinginkan, dan bagaimana mereka bisa merasa senang ataupun nyaman.

Dari sekian pengetahuan yang kudapat dari hasil pengamatan, ada satu hal yang menarik untuk ditulis: berbicara. Jujur aku baru sadar bahwa perempuan itu ternyata memang suka sekali berbicara. Baik yang memang terlihat dari luar adalah ia yang “aktif” ataupun yang terlihat pendiam sekalipun. Pokoknya berbicara adalah kebutuhan pokok seorang perempuan.

Mama, perempuan pertama yang menjadi objek pengamatanku. Baru disadari, ternyata mama sangat sering berbicara kepada kami di rumah (meskipun mungkin di luar mama tidak begitu suka berbicara). Sepulang dari mengajar, apa yang terjadi di sekolah, mama langsung bercerita dengan tanpa diminta dan tidak perlu tanggapan. Lain hari, ketika ada masalah di sekolah, mama langsung mengadu pada papa dan meminta solusi dari apa yang terjadi di sekolah. Ketika sedang memasak, mama dengan “cerewet” akan menceramahiku ini dan itu. Petuah hidup lah, pengalaman jadi ibu rumah tangga lah, sampai cara mengupas buah pun, mama menggunakan “mulutnya”. Kalimat sakti mama kalau tengah mengajari hal-hal kecil di dapur adalah, “Ini terlihat sepele, tapi tidak akan kamu dapatkan ilmu ini di sekolah, tidak akan pernah gurumu mengajari ini.” Dan yaa.. itu memang benar.

Kakak, saudara tertua yang memang terlihat paling menonjol soal urusan berbicara. Memang sudah terlihat dari luar kalau kakak sangat “hobi” berbicara. Tidak jauh berbeda dengan mama, sepulang sekolah, aku sudah harus mempersiapkan diri mendengarkan cerita-cerita yang sudah pasti dibawa dan disiapkan kakak sepanjang perjalanan menuju rumah. Terkadang, kakak dan keponakanku −yang juga perempuan, berebut untuk bercerita dan ingin didengar terlebih dahulu olehku. Dulu, sebelum kakak berumah tangga pun, kecerewetannya sudah terkenal seantero rumah.

Mbak Ika, yang saat ini paling sering menghabiskan waktu denganku kalau di Padang, tidak kalah terampil soal urusan berbicara. Tidak akan pernah ditemui masa-masa kami berdua di kosan, terasa hening dan canggung. Never! Mustahil. Selalu ada saja bahan untuk dibicarakan, selalu ada saja yang ingin dikatakan dan diceritakan, meskipun mungkin kami sudah hampir seharian bersama, entah kenapa bahan obrolan tidak pernah habis. Ya, mulai dari hanya sekadar bercerita tanpa butuh tanggapan, atau memang curhat yang mulai butuh solusi. Pernah suatu ketika Mbak Ika sedang asyik bercerita dan aku sedang membalas pesan dari teman, ia langsung protes “Dengerin mbak dulu, Ci.” Oke. Aku paham, perempuan bercerita, butuh fokus kita mendengarkannya.

Ternyata, memang dengan berbicara itulah, cara seorang perempuan untuk dipahami. Ia merasa, dengan apa yang telah diutarakannya, orang-orang yang berada di sekelilingnya bisa memahami dirinya dan kondisinya. Memang tidak berbicara ke semua orang, tetapi, pasti dengan orang terdekat, yang sudah membuatnya nyaman, ia akan leluasa bercerita, apa saja yang dirasakannya. Dengan begitu, tentu orang-orang sekelilingnya sedikit-banyaknya bisa memahami tentang si perempuan tersebut.

Tapi... entah berbeda dari mana, rasanya tidak begitu denganku. Ada pengecualian tersediri. Aku yang mungkin terlihat dari luar adalah orang yang suka bercerita dan cerewet, justru sangat susah untuk mulai berbicara dengan orang-orang sekitar. Entah apalah penyebabnya, rasanya sangat sulit untuk bisa mengutarakan isi hati, untuk memberitahu apa yang kuinginkan, kurasakan, meskipun itu kepada orang terdekat. Ternyata, meskipun ketika waktu kuliah dulu, di mata kuliah keterampilan berbicara aku mendapat nilai sempurna (baca:A), namun ternyata tidak semudah itu mengaplikasikannya. Aku baru merasakan perbedaan itu karena akhir-akhir ini mulai sering mendapat kalimat yang senada, “Kamu sih, tidak ngomong, jadi gimana orang bisa tahu?” baru setelah kuingat-ingat, memang benar aku sulit berbicara kalau itu sudah menyangkut diri sendiri. Beda cerita kalau itu menyangkut orang lain di sekitarku, aku mungkin jadi orang paling cerewet dan bawel. Kalimat seperti “Makan dulu, baru tidur.” “Jangan lupa sholat” “Minumnya pakai tangan kanan, jangan sambil berdiri” dan kalimat-kalimat nyinyir lainnya, sering kali aku utarakan sehingga mendapat predikat “mak tiri yang bawel” dari teman-temanku.

mungkin, kenapa aku lebih nyaman menghabiskan waktu sendiri untuk menulis adalah sebagai bentuk "pelarian" karena tidak terampilnya aku bercerita tentang diriku pada orang lain. dibaca atau tidak, paling tidak aku sudah mengeluarkan apa yang tersimpan di dalam sini.

😊



Minggu, 23 April 2017

Hey!

Hey!
Mungkin kita tidak sedang berada di suasana yang sama saat ini. Aku dengan kekhawatiranku, kamu dengan kesibukanmu (sehingga tak sempat untuk merasakan kekhawatiran).
Bilamana kesibukan adalah mata pencaharianmu, maka khawatir adalah selimut di tidurku. Tapi tenanglah, bukan khawatir ini membawaku menjadi buruk. Justru, ia akan membawaku semakin sering lagi berdoa padaNya untukmu. Ya, tentu saja untukmu, yang mungkin, karena kesibukanmu, jangankan untuk mendoakanku, bahkan mengingatku saja mungkin tidak. Tak apa. Kita sudah berada di porsi kita masing-masing. Tinggal kita jalani saja peran, apakah sebagai perindu, atau sebagai yang menghilang dan mengabaikan.

Hey!
Aku tidak apa-apa di sini. Hanya sedikit merasa sepi. Tapi semoga ini tidak berlangsung lama. Sebentar lagi juga aku akan lupa, atau mulai terbiasa. Jadi tidak perlu memaksakan diri berobah menjadi peduli. Justru itu akan asing sekali. Akan terlihat, itu bukanlah kamu yang hanya 'kan membuatku risih.

Hey!
Memang kita masih di negeri yang sama meski beda kota. Semoga suatu ketika, ada kebaikan semesta yang menemukan jalan kita kembali bersua, meski tidak untuk bersama.

Jumat, 31 Maret 2017

Stop Komen!

Self reminder.
Sesuatu yg bukan kapasitas kita, mending tidak usah dicampuri, dikomentari, apalagi kalau tidak ada yg meminta pendapat kita.
Memang sepertinya sudah jadi kebiasaan manusia, apa-apa dikomentari, di-sok tahu-i.

Dulu, dulu sekali, saya menganggap orang-orang yang "trauma" akan sesuatu itu seperti orang lebay alias berlebihan.
Misalnya, mendengar bunyi ambulans lewat, langsung tutup kuping dan bersembunyi. Komentar saya: lebay.
Misalnya lagi, tiap ada mobil besar lewat yang menghasilkan bunyi gemuruh dan getaran ringan ada yg langsung panik karena menyangka itu gempa. Komentar saya: lebay.
Sekarang, semakin bertambahnya usia dan pengalaman, jadi mengerti apa itu trauma. Saya sendiri pun mengalaminya. Setiap kali mendengar bunyi keran air yang dibuka besar, bunyi airnya menyambar-nyambar, air yang keluar bak tsunami yang menghantam daratan (oke ini lebay), saya langsung tidak nyaman, bahkan bisa sampai gelisah dan keluar keringat dingin.
Itu terjadi karena satu kata: trauma.

Yah... Kita memang belum benar-benar akan mengerti apa yang dirasakan seseorang, sebelum kita mengalaminya sendiri. Setelah mengalaminya langsung? Baru mengerti dan menyisakan sesal di hati.

Kini saya mengerti, tidak ada trauma yg dibuat-buat, tidak ada juga yang ingin punya trauma. Mengetahui ini saya jadi banyak merasa bersalah, pada siswa saya, tetangga, teman-teman di kampus, teman-teman di kosan, atau di mana pun, saya benar2 bersalah sudah men-cap mereka lebay.

Pelajarannya: tidak usah sok tahu! Mengomentari apa-apa yang menimpa orang lain, seolah-olah kita tahu segalanya, bahkan sampai memberi cap yang tidak mengenakkan pada orang lain. Ini mungkin hal sepele, tapi terkadang hal sepele itulah yang bisa merusak perasaan seseorang, hingga mungkin mempengaruhi hubungan baik. Betapa banyak hal sepele di sekitar kita yang kita remehkan, seolah-olah tidak apa-apa kalau kita cela. Padahal, kita tidak pernah tahu, bisa jadi hal sepele yang menjadi kesalahan kita itulah yang akan membawa kita pada azabNya. Na'uzubillahimindzalik. Sebaliknya, hal sepele dalam kebaikan, mana tau bisa menghantarkan kita pada rahmatNya, (termasuk membagikan tulisan ini, mungkin? Hehehe).
Oke, kurang-kurangi mengira-ngira dan mengomentari kehidupan orang lain saja mulai dari sekarang, tidak ada yang tau apa yang tersimpan di palung hati orang, bahkan orang yang punya indera keenam sekalipun, tidak pernah tahu dalamnya hati seseorang.

Teruntuk Kekasih Sahabatku

Sejujurnya, aku masih tidak begitu yakin, apakah yang kuinginkan itu, tulisan ini bisa bertemu dengan panca inderamu atau tidak, tetapi jemariku rasanya greget ingin menulisnya beberapa waktu belakangan, jadi ya... kutulis saja, jadi biar semesta yang menentukan, apakah tulisan ini akan sampai padamu, atau tidak.

Aku tahu, bahwa dari segi penampilan wajah, aku ini adalah sosok antagonis yang mungkin ingin dihindari sebagian besar orang. Ya, anggaplah aku memang perempuan yang tidak baik bagimu di hidupmu, tapi tunggu, kurasa tidak begitu bagi sahabatku, setidaknya, jauh sebelum ia mengenalmu.

Belakangan, jujur tentangmu sedikit banyaknya sudah mengganggu pikiranku. Betapa tidak, hampir setiap hari aku mendapatkan pengaduan yang rasanya membuatku mual ingin memuntahkan amarahku, tapi entah mendapatkan kesejukan dari mana, aku yang sejatinya adalah seorang yang emosional, masih bisa menahan gejolak ingin berontakku. Aku beruntung masih bisa diam ketika harus berhadapan denganmu, tapi tidak di depan sahabatku.

Wahai laki-laki yang baru saja berhubungan dengan sahabatku.
Kamu tahu? Gara-gara kamu akhir-akhir ini aku jadi sering memarahi sahabatku. Betapa bodohnya ia, sungguh! kukatakan ia sangat bodoh. Kamu yang masih seumur jagung dekat dengan sahabatku, tetapi sudah lebih dari seorang bapak. Kamu berlebihan kalau semua yang dilakukan sahabatku harus berdasarkan izin darimu. Kamu berlebihan kalau lama-lama kamu jadi melarang sahabatku menemuiku. Kamu berlebihan karena kamu membuat kami para sahabatnya jadi orang asing bahkan di saat kami berkumpul bersama. Kuingatkan, kamu keterlaluan, sungguh!

Aku bersalah, memang. Seharusnya aku marah padamu, aku tidak meluapkan kekesalanku atas kesalahan hubungan kalian ini padanya yang sangat lemah, yang apa-apa hanya bisa menangis. Padahal selama ini, ia adalah perempuan yang tegar. Bahkan ketika ibunya meninggalkannya untuk selama-lamanya, walaupun dengan berat, tapi ia bisa menjalani semua itu, dengan kami selalu berada di sampingnya. Kini? Dia harus menangis, setelah kau marahi hanya karena dia pergi ke pasar denganku, kamu memarahinya, di dekatku, kamu memarahinya? Dia hanya pergi denganku, sahabatnya yang jauh sebelum kalian kenal kami sudah menjadi saudara. Bukan pergi dengan laki-laki lain. Bahkan ketika salah seorang dari kami membicarakan ini padamu, kamu membela diri dengan memfitnahku! oh, sorry... tolong jangan bawa-bawa kerudungku ke dalam masalah ini, apalagi ini hanya kalimat fitnah yang kau lontarkan.

Wahai laki-laki yang menduduki peringkat teratas di hati sahabatku kini.
Tidak apa kalau kalian memang sebentar lagi akan menikah. Aku justru senang jika sahabatku yang baru saja diwisuda akan menikah. Izinkan aku memberitahumu sesuatu yang mungkin kamu tidak mengerti bagaimana terlukanya kami, para sahabat kekasihmu melihat dia terus-terusan menangis setiap kali selesai kau hardik. "Bahwa perempuan sejatinya hanya ingin disayang, diperlakukan lembut. Marahlah dengan bijak kalau memang sahabatku memiliki kesalahan, tidak haruslah kau menghardiknya sampai membuatnya memompa matanya sampai bengkak. Semoga status Magister Pendidikanmu yang baru saja kau peroleh bisa membuatmu lebih dewasa secara emosional, sebagai calon kepala rumah tangga. Kalau memang kau berjodoh dengan sahabatku, aku hanya bisa mendoakan semoga sahabatku bahagia dan menjadi istri yang baik untuk suaminya, tapi tolong, jangan beri jurang pemisah antara kami dengan dia, karena... semenjak ibunya tiada, kepada siapa lagi ia akan bercerita kalau tidak kepada kami sahabat perempuannya?"



Kamis, 12 Januari 2017

Hati-hati!

Pernah terkadang tanpa sadar, kita berbicara apakah itu kepada teman, sahabat, 
kenalan, senior, junior, atau siapa pun itu, susah untuk mengontrol omongan kita.
Kita hanya berusaha apa adanya, cuap-cuap mengeluarkan isi hati, tanpa memikirkan
terlebih dahulu bagaimana kondisi si lawan bicara.

Kadang juga, mengutarakan pertanyaan yang menurut kita itu adalah wajar, karena
sebagai teman kita menunjukkan kepedulian. Tapi, kadang kita hanya terlihat sekadar
ingin tahu atau bertanya hanya karena untuk berbasa-basi.
Oke, apapun itu niat kita untuk bertanya, apakah murni hanya karena kepo, apa memang
karena kita adalah orang yang peduli dengan orang dekat kita, tetap saja kita harus 
hati-hati mengeluarkan suara.

Beberapa hari lalu, ada seseorang yang kutemui di kampus (mungkin setelah satu
semester belakangan tidak pernah bertemu), seorang junior yang kupikir sudah wisuda.
Asyik bertanya kabar, akhirnya aku mulai bertanya perihal keperluannya ke kampus. 
Sebuah kalimat singkat dan standar kuutarakan, "Ada perlu apa ke kampus?" akhirnya
membuatnya bercerita panjang lebar mengenai tugas akhirnya yang 'ternyata' belum selesai.
Bak sudah lama ingin curhat, mumpung ada yang bertanya sebagai 'pemancing', akhirnya
si junior itu mengeluarkan uneg-unegnya padaku (sampai-sampai melewatkan waktunya
sendiri untuk bimbingan).

Sekitar kurang lebih setengah jam ia bercerita, akhirnya sampailah pada kalimat terakhir 
penutupnya, yang entah kenapa terdengar cukup sinis di telingaku. "Nah, kakak sendiri,
kenapa belum wisuda juga? Padahal aku aja udah telat wisuda, berarti kakak lebih telat lagi
dong, ya?" dan ia menyelipkan tawa di akhir kalimatnya. Ya, seperti pertanyaan-pertanyaan
senada yang sering kuterima belakangan, aku langsung menjawab sama, "Ya, belum rejekinya
berpisah dari kampus. hehe" Kupikir, ia akan berhenti di situ, ternyata tidak. Aku bahkan 
harus mendengar kalimat yang lebih pedas lagi. "Lah, emang ngapain aja selama ini? Itu tesis dibawa tidur? Ga dikerja-kerjain, ya?" percayalah, meski itu hanya serentetan kalimat biasa, mungkin terkesan berseloroh, tapi aku benar-benar tersingung mendengarnya.

kupikir lagi, apakah kalimat tanyaku sebelumnya, juga membuatnya tersinggung, —sampai akupun mendapat pertanyaan ini darinya. Entahlah, meski kupikir tidak ada yang salah dengan pertanyaanku, kan mungkin saja ia tersinggung dengan pertanyaanku sebelumnya.

Ingin sekali aku juga curhat padanya tentang kondisiku bagaimana, tetapi aku berpikir, tidak semua kesulitan kita harus diceritakan pada setiap orang yang bertanya, karena terkadang yang bertanya bukannya peduli, tapi hanya sekadar ingin tahu.

Aku terlahir sebagai anak perempuan terkecil di keluargaku. Ayah dan ibuku sudah tua dan sering sakit-sakitan. Terkadang ketika sudah ada jadwal bimbingan, aku harus meninggalkan kampus karena tiba-tiba ibuku atau ayahku sakit, jadi aku harus pulang (selama kuliah aku ngekos, tidak tinggal dengan orang tua yang jarak rumahnya cukup jauh ke kampus), dan itu terjadi acapkali, berulang kali, (harus kuakui, lumayan mengganggu konsentrasiku, dan lumayan menyita waktuku untuk revisi). Sesekali aku membantu kakak tertuaku yang tinggal di luar provinsi untuk menjaga anaknya (ini untuk detailnya, aku tidak bisa bercerita) aku bisa meninggalkan kampus selama sebulan kalau sudah pergi ke tempat kakakku, dan itu terjadi acapkali, berulang kali.

Hari ini, saat waktu sudah sangat genting untuk bisa mengejar target wisuda periode Maret, aku masih harus berkejar-kejaran dengan deadline. Adikku (yang pulang kampung karena libur semester) tengah sakit. Siapa lagi kalau bukan aku yang menjaganya di rumah sakit? Dan, jadwal operasinya yang harusnya kemarin dilaksanakan, harus tertunda karena berdasarkan pemeriksaan praoperasi, ditemukan ada gangguna jantung, jadi ia harus dibawa lagi ke Rumah Sakit Umum Pusat untuk pemeriksaan lebih lanjut. Ya Allah, masih terkejarkah aku untuk bisa wisuda periode ini?

Hari ini aku mendapat satu pelajaran. Apapun niat baik kita, terkadang apabila caranya tidak tepat, tetap saja itu tidaklah bisa dinilai kebaikan. filosofinya, ketika kita melihat ada nyamuk di kening teman kita, dan kita dengan niat yang tulus ingin membantunya terhindar dari gigitan nyamuk, menggunakan batu untuk memukul nyamuk tersebut, bagaimana? Pasti akan terlihat seperti kita hendak melukai teman kita. Jadi, niat yang tulus saja tidak cukup, kita juga harus memikirkan "alat dan cara" yang tepat untuk membuat niat baik itu menjadi perbuatan baik. Maka berhati-hatilah... J

Selasa, 27 Desember 2016

Sepuluh Hari

Sepuluh hari yang lalu, aku mimpi bertemu denganmu di sebuah tempat yang asing. Katamu di dalam mimpi, itu adalah tempat favoritmu. Aku heran, kenapa mimpi membawaku ke sana bersamamu? Oh, aku tau, sepertinya kamu sedang rindu padaku, ya? Curang! seharusnya kalau kamu merindukanku, kamu bisa mengabariku, kamu bisa menghubungiku saja, bukannya datang di mimpiku seperti ini!

Hari ini, sepuluh hari semenjak kamu menyapaku di mimpi. Awalnya aku ingin tidak teralalu ambil pusing soal urusan mimpi, toh cuma mimpi. Namun tetap saja, beberapa saat yang lalu memori mengingatmu kembali membangunkanku di tengah kesibukanku, membujukku paling tidak untuk menuliskan bahwa aku pernah memimpikanmu, sepuluh hari yang lalu (karena pasti berat untuk memberitahumu bahwa semalam kita sudah bertemu untuk pertama kalinya, di alam mimpi). Ya, paling tidak, dengan menulis aku bisa menyimpannya untuk suatu saat akan kubaca, kalau nada suara lembutmu yang membuatku hanya menerka-nerka seperti apa rasanya berada dekat denganmu, telah kutemui di mimpiku.

Aku lupa tepatnya kapan kita mulai akrab. Sungguh keren dunia maya, mempertemukan kita dalam sebuah diskusi ringan, yang membawa kita akhirnya bisa saling berteman akrab. ah.. kapan tepatnya itu terjadi? Yang jelas, beberapa saat sebelum sepuluh hari itu, menjadi hari yang berat bagiku. Entah apa yang menjadi penyebabnya, sepertinya mulutku yang suka sembarangan ini telah menyinggung perasaanmu, hingga membuatmu mundur dari pertemanan dunia maya ini denganku. Mungkin selama ini aku masih belum menyadari betapa berbahayanya memiliki mulut yang sembarangan. Namun belakangan aku sudah mulai disadarkan, betapa aku harus lebih berhati-hati lagi mengontrol apa saja yang keluar dari mulutku, kalau aku tidak ingin ditinggalkan lagi.

Sepuluh hari yang lalu. Mimpiku memungutku di sebuah tempat yang ramai oleh suara air. Sekelilingku hanya ada pohon-pohon dan rumput liar. Sunyi. Sepertinya tidak ada siapa-siapa selain aku di sana. Lama aku terdiam sampai sebuah suara memanggil namaku. Aku menoleh heran. Orang itu siapa? Mengapa ia mengenaliku? Kemudian ia berbicara, "Ini tempat favoritku, akhirnya aku bisa ke sini ditemani perempuan favoritku." Tawanya yang lembut membuatku teringat suara yang pernah aku dengar di seberang telepon. Oh... Kamu.

Minggu, 11 Desember 2016

welcome back!

Aku percaya, kita yang telah berpisah bisa dipertemukan kembali dengan cara yang hanya Tuhan yang tahu. Dan itu, terjadi akhir pekan ini.

Di awal perkuliahan, aku dipertemukan Tuhan dengan tiga orang sahabat. Mereka adalah Ante Linda, Mbak Ika, dan Uni Elsa. Iya, aku paling kecil antara kami berempat.
Di semester 1 perkuliahan, kami berempat amat kompak, kemana-mana selalu berempat. Kami memiliki perbedaan, namun saling melengkapi. Ada yang pintar masak, beres-beres, cekatan kalau ada yang membutuhkan, jago merayu polisi bila di jalan kena razia, dan pintar dalam studi. Banyak lagi deh pokoknya.

Btw, nih foto kita pas ngumpul di kampus sama kosan Mbak Ika.
   



   

Namun, pertengahan semester 2 sesuatu terjadi. Salah satu di antara kami, Eca mengalami musibah, sehingga ia memutuskan untuk berhenti kuliah, dan setelah itu kami mengalami masa-masa diuji untuk kelangsungan hubungan kami. Termasuk Salah satu mimpi kami, untuk bisa wisuda berempat sama-sama pun akhirnya kandas.

Ketika kami hanya tinggal bertiga:



 (monmaap kualitas gambarnya jelek. Cuma punya foto yang ini, abisan kita udah mulai jarang foto bertiga sih 😞)

Entahlah, banyak saja yang terjadi. Mama Linda meninggal, IP Mbak Ika turun, Mbak Ika punya pacar baru, Linda putus, aku yang katanya “direbut” oleh Rici dari pertemanan (sebenernya aku sih, dekat sama semua teman sekelas, Cuma ya… yang nyambung n sering ngumpul ya sama mereka), dan hal-hal sepele yang sering jadi bahan kami berselisih.

Meskipun kami sering berselisih, tidak pernah terlalu berlarut-larut. Karena memang kami saling membutuhkan. Kalau tidak ada salah satu dari kami, rasanya ada yang kurang. Ditambah, tidak hadirnya Eca di antara kami, menambah deretan panjang kerinduan. Ngumpul pun jadi tidak seru lagi, karena Eca dengan suara cemprengnya yang selalu bikin heboh kosan Mbak Ika, basecamp kami, sudah tidak pernah muncul lagi semenjak pergi tanpa salam perpisahan. Ya, Eca perlahan menarik diri dari kampus, berangsur jadi susah ditemui, berangsur jadi tidak bisa dihubungi, dan putus komunikasi sama sekali. Siapa yang paling merana? Aku! Karena kalau Eca nggak ada, akulah yang dapat bagian kena bully aku memang paling sering direpotkan dengan urusan Eca. Rasanya canggung begitu Eca tidak lagi ada. Teman-teman pun jadi sering menertawakanku, “Kamu sudah kayak orang ditinggal mati suami, tahu nggak!” saking aku galaunya ditinggal Eca. Lebay.

Singkat cerita, Eca yang sudah bertahun-tahun menghilang, akhirnya keluar dari sarangnya berkat pancingan Mbak Ika. Hebat banget itu orang sumpah! Aku yang deket sama Eca aja nggak pernah dibalas pesan atau diangkat teleponnya. Mbak Ika, cuma sekali sms (sebelum ditelpon), langsung teleponnya diangkat dan mau datang. Saking ingin tahunya dengan trik yang dipakai Mbak Ika, aku lacak smsnya yang membuatku ternganga.
Emm… begini…???




 (kenapa harus pake alasan diriku sakit sih mbak 😭😭)

Oke, alhasil si Eca keluar dari sarangnya, datang dengan kerudung kuning, baju hitam, sepatu merah. Aku langsung peluk sampai kurus, ga mau tau pokoknya pengen luapin rasa kangen. Anaknya cuma ketawa-ketawa bahagia gitu. Ga ada yang berubah dari Eca (selain ia tambah manis), cemprengnya ga berubah, seenaknya belagak bos di kosan orang-nya juga ga berubah, makan gapernah abisnya ga berubah, suka nyama-nyamain aku sama dia (dia suka banget bilang kita mirip) juga ga berubah.. hahaha

Oke.. welcome back to our circle Eca. Kupikir kisah kita telah usai, namun Tuhan masih memberikan kesempatan kita kembali berkumpul, meski dengan cara yang, ah sudahlah… alhamdulillah kembali dipersatukan. we love Eca, and I love them so much! 😘😘

Bonus nih, foto kita jalan kemarin J

Kamis, 24 November 2016

Musim yang Canggung

Tahun ini, pesta olahraga sedang digelar di Sumbar. Gelaran olahraga bergengsi sekelas PORPROV yang diselenggarakan tanggal 19-29 November ini, membuat Kota Padang yang biasanya tidak ramai dengan spanduk dan baliho, kali ini semarak dengan ucapan "Selamat Datang Kontingen (nama daerah) di Kota Padang". Biasanya, aku ikut merasakan disambut dengan kalimat di baliho tersebut. Tapi musim ini tidak lagi, semenjak musim PORPROV sebelumnya aku memutuskan "Ini pertandingan terakhirku" atau bahasa lainnya, aku memutuskan untuk pensiun.

Oke, meskipun memilih untuk berhenti, sejatinya aku tidak bisa benar-benar memalingkan wajahku dari dunia yang membesarkan namaku ini (Lebay banget, pake bahasa membesarkan nama segala, padahal yang kenal aku juga teman sekelas, tetangga, sama teman2 kosan doang). Jadi, sudah lebih kurang tiga bulan ini aku memiliki adik didik. Emm... bukan aku tok yang ngelatih sih, aku cuma jadi asisten pelatihnya papa (pelatihku dulu) aja sih, tapi ya, jadilah, buat nyombong! ehe~

Nah, kembali ke gelaran PORPROV Sumbar yang kebetulan musim ini tuan rumahnya adalah Kota Padang (Kota tempatku sekarang menetap untuk kuliah), jadi aku menyempatkan diri untuk bisa ikutan nonton, dan, yaaa... tentu saja aku menonton dengan style yang sudah jadi jati diriku sekarang (Tidak lagi pakai training dan sepatu olahraga, tetapi pakai rok dan kerudung lebar ☺️). Pokoknya, beda lah, dari penampilanku biasanya. Buktinya, banyak teman-teman atlet dan para wasit (wasitnya kita di sini selalu itu-itu aja dari zaman SD dulu, jadi udah pada kenal) yang nggak kenal lagi sama aku ðŸ˜­

oke, ini nggak point dari cerita ini sih.

Aku datang biasanya selalu siang, ba'da dzuhur gitu laah, karena pagi aku ke kampus dulu. Jadi, sampai sana awalnya aku cuma berdiri aja di depan pintu. sumpah, canggung! Gitu asyik celingak-celinguk bego meratiin yang lagi tanding, namaku di panggil (Alhamdulillah, ada juga yang kenal) begitu aku menoleh, ternyata itu Uni Aulia, partnerku sejak jaman main pake baju putih merah dulu (jelas aja dia kenal, kan di kampus kita juga ketemu. Sialan, gagal Geer deh!). Jadi, langsung aja aku gabung sama dia dan suaminya. Uni Aulia ini pengantin baru.

"Uni ga nyangka dedek ikutan nonton, tau gitu, tadi ngajakin pergi bareng"
"Iya, dedek juga nggak nyangka uni datang, kan udah sibuk jadi bu dosen sekarang"
lalu kita ber-hehe-ria

beberapa saat kami saling diam, karena pandangan mata asyik menatap ke lapangan pertandingan. yang mataku ikuti saat itu pertandingan beregu antara Sawahlunto vs Dharmasraya. Dan, yaa... meskipun memang tidak ikutsertanya aku dalam pertandingan ini adalah inginku sendiri, rasanya canggung banget! :((

"Sedih Juga ya, kita cuma jadi penonton." seolah tengah membaca pikiranku, Uni Aulia membisikiku, aku hanya mengangguk sambil tersenyum. kemudian, datanglah Keke, atlet asal Padang yang musim ini turun membela Kab. 50 Kota

"Kakak, kok nggak main?"

"Hehe" cuma itu yang bisa kujawab.

"Sayang loh, prestasi lagi di atas, tapi berenti gitu aja."

Makjleb! Keke! plis lah, nggak usah bikin aku gamang gini sama keputusanku sendiri dong...

"Karena udah hijrah ya kak?" aku senyum saja menanggapi.

"Eh, tapi kan, musim kemarin, kakak udah hijrah juga, masih tetap ikutan tanding kok."

"Iya, ya."

Uni Aulia akhirnya ikutan menimpali, "KONI Solok lagi bermasalah kemarin Ke, jadi kami nggak bisa berangkat. Tapi iya sih, Si Lusi ini udah ditelponin, bilangnya nggak mau turun. Padahal kan sayang."

"Oh, ada masalah, tapi, besok-besok masih main kan, Kak?" Keke mengejarku dengan pertanyaan lagi.

"Masih ragu, Ke. Niatnya emang yang kemarin itu terakhir kakak main, tapi nggak tau juga. hehe"

"Jangan dong, kak. Kan sayang. Apa nggak canggung, cuma jadi penonton sekarang?"

Iya ke, semakin lama ngobrolin ini, aku jadi pengen main lagi.

***
Hari ini, pertandingan tunggal semi final, dilanjut final akan digelar, sebelum kemudian dilanjut dengan double dan mixed double. jadi teringat, dulu pernah berada di fase ini. ah... canggung sekali rasanya, aku jadi pengen megang bet lagi ðŸ˜¢




Rabu, 16 November 2016

Aku menyadarkan diriku

Dengan apa lagi kusembunyikan raut wajah kecewaku kala mendapati pernyataan menyakitkan datang dari orang lain, mengulang kalimat pedasmu yang melebihi silet itu?
Sudah kutarik ujung bibir untuk dapat membuat senyum, tapi masam. Jatuhnya malah lebih menyeramkan.

Memang rasanya adalah sebuah kesalahan besar mempersatukan kita dalam satu petak yang sama, kamu jadi sering terlihat, dan –mau tidak mau bercengkerama. Kenapa tidak menolak? Hey! Sudah berupaya kulakukan. Tetapi tetap saja bukan aku yang berkuasa di sini.

Aku masih ingat dengan jelas bagaimana aku mencoba meyakinkan, bahwa kita memang lebih baik tidak bersama. Tetapi membuang kaloriku. Semua tidak berhasil. Sudah lebih 10 bulan lamanya menjalani hidup bagaikan dalam neraka. Semua sungguh tidak mudah untuk berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Karena memang tidak pernah sebaik yang kutampilkan. Aku tertindas di sini.

Tapi satu hal yang tetap kupastikan. Tiada satu kata pun mau kubagi dengan siapapun, tentang keluhanku selama ini padamu. Biarlah, kusimpan semua yang tidak menyenangkan ini. Aku lebih memilih mengalah, dari pada menambah-nambah masalah.

Tapi apa yang baru saja kudengar? Cacian yang tidak seharusnya kau ucapkan kepada mereka-mereka yang tidak mengerti kita. Membuatku terlihat begitu hina. Kamu membongkar keseharian kita yang entah kenapa itu tak sesuai fakta, tentang kerusakan yang aku lakukan padamu, yang bahkan aku lupa, memang apa yang kulakukan?
Dan, ini bukan untuk yang pertama kalinya kamu lakukan.
Dengan seringnya mendengarkan kalimat seriusmu tentangku, mereka pasti bilang, aku ini monster bertopeng setan. Busuk dan menyeramkan!

Ternyata seperti ini hidup yang tengah kita jalani.

Aku menyadarkan diriku sekali lagi, bahwa tidak akan mungkin 
memiliki hidup yang benar-benar sempurna. 
Dan kalimat “Semuanya baik-baik saja” tidak pernah benar-benar ada.

Minggu, 13 November 2016

Dear...

Dear…
Gadis lugu berwajah sinis
Apa kabarmu? Sudah lama sekali kamu menghilang dari pandanganku,
Tidak, mungkin memang secara langsung aku tak dapat menatapmu, tetapi aku tahu, dari foto yang barusan kulihat, kamu sedang beristirahat di pangkuan selimut saat ini
Yah, meski kamu menghilang dari pandanganku, kamu tetap hidup dan sehat dalam sanubariku

Ada hal apa, sayang, sampai kamu memilih untuk tidak kembali ke kota kecil ini dalam waktu yang tidak singkat? Baik-baikkah kamu di sana?
Semoga saja kecemasanku tidak pernah terjadi, walau sejentikpun rasa sakit itu.
Kamu mau tahu?
Banyak hal berubah di sini semenjak kamu memilih diam bersembunyi
Aku dan satu lagi sahabat kita, hampir mati berjuang berhadapan dengan monster. Hebat bukan? Monster!
Di tengah-tengah napas tersengal, kami pasti berandai, “Andai gadis jutek itu ada di sini, kita tidak akan dibiarkannya mati seperti ini.”
Yah, kami memang sangat tergantung padamu.

Kamu tau? Gedung tempat mengadu nasib terakhir kita, sudah banyak kemajuan.
Terakhir, kamu hanya tau ada tiang-tiang yang didirikan, kan?
Sekarang sudah ada dindingnya, sebagian juga sudah punya atap. Duh… aku jadi membayangkan, kita dapat menelusup nanti ke ruangan beraroma khas bangunan baru, untuk hunting foto,nanti kita beri caption “Si penyusup gedung sang petinggi!” keren ya?
Makanya, kamu cepat ke sini, jangan sampai ada orang lain yang mendahului kita ‘membismillahi’ gedung itu!

Dear cintaku…
Gadis sombong berhati lembut
Marahkah kamu padaku?
Sudahlah, perbincangan kita tempo hari tidak usah menjadi wacana panjang dalam benakmu
Aku tahu kamu membenci kalimatku, tapi aku hanya kasihan padamu, oh maaf, bukan kasihan, aku terlanjur sayang padamu.
Bukan maksudku meremehkan statusmuu. Bukan sama sekali!
Aku hanya ingin kamu bisa mengenal sosok bernama laki-laki.
Tentu, ada secuil laki-laki baik di dunia ini, yang aku yakini dia adalah salah satunya.
Kenapa tak kamu coba mengenalnya dahulu? Mungkin kamu bisa menilainya menyenangkan?

Dear sayangku…
Gadis aneh si penyendiri
Maafkan aku, orang yang menamai dirinya sahabatmu
Jangan pergi karena marah padaku, karena banyak teman-temanmu di sini mencarimu,
Mereka membutuhkanmu…
Keluarlah dari persembunyianmu, kembalilah ke kota kecil kita ini,
Ingat! Dosen pembimbing menagih tesismu yang belum kelar. Hehehe

Cepat balik, cerewet!


*surat elektronik dari seseorang, yang merasa bersalah begitu diriku tiba-tiba tidak kembali selama lebih satu bulan. Ditulis ulang dalam bahasa yang lebih dramatis, biar lebih manis dibaca (karena bahasa aslinya kasar banget, ya Allah 😭😭)