Tampilkan postingan dengan label Tentang Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Hati. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Februari 2021

Orang Asing yang Datang

 Hai..

Kamu yang sedari tadi duduk menekuri layar kecil yang sinarnya memantul di wajahmu, orang asing yang entah kenapa kini ada di satu ruangan bersamaku. Kutatap lamat-wajah yang di beberapa titiknya mulai tergaris kerutan halus bukti kerasnya hidup di masa lalu yang sudah kau lewati. Ah... Apakah masa depanmu kelak akan menjadi penambah kerutan di wajahmu, atau bisa mengubahnya menjadi sedikit terawat?

Tuan, beberapa waktu lalu kamu adalah orang asing bagiku. Datang entah dari mana dan untuk keperluan apa, mengetuk pintu dan mempersembahkan sebait senyuman. Hatiku yang sedang gersang hanya acuh dan membiarkanmu membuka obrolan dengan lelaki tua si pemilik rumah. Di dalam kamar aku masih asyik menulis surat cinta kesekian untuknya yang sudah 7 bulan kabur membawa mimpiku menjadi mataharinya.

Tuan, waktu begitu cepat memutar balik keadaan, bukan? Cangkir yang dingin bekas kecupan rindu telah kau basuh hingga luka yang basah perlahan mengering. Kau tata ia bersama piring yang kau olesi madu teman mengopi di petang yang hangat. 

Kamu si orang asing yang masih kuamati cara kerja otakmu, bagaimana kamu bisa tersesat di tandus rumahku? Dengan sabar memupuk dan menyiramnya setiap hari, repetisi yang katamu suatu saat akan menghasilkan madu. Ah... Kamu begitu suka dengan madu, Tuan.

Hai, kamu beralih menatap mataku. Layar ponsel sudah mati. Tanganmu berpindah meyentuh jemariku. Tatapanmu masih penuh binar dengan senyuman yang kembali membhat garis halus di setiap titik wajahmu. Jemariku mulai kau genggam hangat. detik setelahnya dadaku berdebar dan badanku dingin. Kamu ini apa? Kenapa bisa mengaliri hangat dan dingin bersamaan? 

Bibirmu kemudian berkata kalimat sederhana yang tanpa basa basi namun tegas. 

Tuan, sampai hari ini pun kita masih saling belajar, mencoba mengenal lebih dalam, menyatukan bawel dan usil, menyelaraskan perbedaan budaya, berusaha bahagia dan membahagiakan.

Aku berharap, kerutan masa lalumu tidak bertambah karena tingkahku yang memusingkan. Biarlah ia tampak setiap kali kita menertawakan hidup dan takdir yang tsrkadang lucu ini. Izinkan aku membersamaimu hingga ending yang bahagia.



Kamis, 31 Januari 2019

Mitos cangkir yang sama

Seperti itulah, kita menggulung lembaran kenangan, lalu menguburnya dalam-dalam. Namun pada suatu pagi, selepas mimpi, kita gali-gali sendiri kuburan itu sambil meratapi sepiring sepi dan secangkir kopi.
Dalam tepian cangkirnya, jejak bibir kita bertautan.

Barangkali begini skenarionya: engkau menjejakkan langkahmu pada kebun penuh ilalang dengan sebuah jemari halus dalam genggaman tanganmu. Sementara aku memotret senja dan menangkap setiap gerakan kalian: kamu dan jemari halus yang silih berganti itu melalui mata pena. Diam-diam mata pena itu juga pernah memotret senyum dan matamu yang penuh cinta di siang yang basah. Ketika air hujan kalah lembab oleh air mata di pelataran rumahku.

Atau skenario lain adalah: engkau diam-diam berusaha tak peduli dan pura-pura sibuk menggulung lengan baju dan berlari menuju ke sebuah tempat yang entah. Demi menghindari apapun yang bisa menenggelamkan perasaanmu.

Ah, mungkin aku sedang bermimpi ketika kedua tanganmu menggenggam erat harapan yang kita bagi, bersama dengan adonan air mata dan tawa. Barangkali aku hanya perlu bangun dan melupakan secangkir kopi dan jejak bibir yang bertautan itu. Barangkali, kemelekatan yang diramalkan akibat menikmati kopi dari cangkir yang sama itu hanya sebuah mitos. Sebuah delusi.

Delusi. Seperti cinta.
Selalu diam-diam pergi (atau berbagi).

Kamis, 05 April 2018

Rasanya Wajar,

Rasanya wajar, aku mengingatmu lagi sekarang.
Kamu yang dulunya selalu menemaniku saat aku memulai semuanya.
Kamu yang mendukung dan menyemangati aku menjalani ini semua.
Kamu yang membersamaiku berjuang dari awal.
Tempat membuang keluhku, tempat menertawakan kekeliruanku, tempat mendukung aktivitasku.
Kamu selalu ada waktu terpuruk terparah sekalipun di kehidupanku. Kamu selalu hadir di masa-masa sulit aku merangkak menyelesaikan ini semua. Menemani begadang, menemani kala bosan menunggu, menghibur kala yang aku selesaikan ternyata harus diperbaiki lagi, dan lagi.
Saat aku mulai bosan dan ingin menyerah? Kamu pun yang mengingatkan aku untuk tidak berhenti di tengah jalan.
Aku selalu ingat itu, hingga saat mengetik tulisan ini, dan mungkin sampai nanti tulisan ini masih bisa dibaca ulang berkali-kali.
Kamu masih ingat? Kurasa kamu pun tidak mudah melupakannya. Karena waktu yang kita lalui bersama itu tidaklah singkat; panjang dan penuh liku.

Rasanya wajar, aku mengingatmu lagi sekarang.
Kamu yang tiba-tiba menjadi asing.
Kamu yang kemudian menjauh, perlahan menghindar, dan pergi tanpa salam perpisahan.
Memang kamu tidak menemaniku sampai perjuangan terakhirku di sini. Kamu sudah menyerah lebih dulu sebelum aku menyelesaikannya. Namun tentu saja hasil yang kudapat sekarang ini, tidak terlepas dari peranmu di awal perjalanan dulu.
Ada yang asing rasanya ketika aku selesai, tanpa memberitahukanmu cerita melegakan ini. Aku ingin mengabarimu, tapi aku tak tahu harus bagaimana.
Ada yang kurang rasanya, dari sederet orang yang menyalamiku, tidak kutemukan kamu yang dulu mengulurkan tangannya menarikku yang terpeleset.

Orang yang menemaniku berjuang dari awal, sekarang tidak bisa merangkulku lagi, di kala aku telah berhasil menyelesaikannya. Rasanya wajar, aku mengingatmu lagi sekarang. Kamu masih temanku, kamu masih sahabatku, kamu masih orang yang berarti bagiku.

Rabu, 11 Oktober 2017

Lembaran

Aku sedang menikmati pagi, menikmati setiap lembar buku yang kubolak-balik sesekali. Sesekali menyeruput teh hangat di atas meja. Hari yang berbeda, waktu yang berbeda, namun tetap dengan hati yang masih sama. Santai menunggu ucapan "selamat pagi" di layar ponselku yang akan menambah semangat pagi hariku. Tetapi kali ini tidak lagi ada.

Lembaran terakhir buku yang masih kupegang sudah selesai kubaca. Aku jadi tertegun sambil mengingat isi buku yang baru saja kuakhiri. Hidup ternyata seperti membaca buku. Kita harus menyelesaikan lembarannya, untuk bisa lanjut ke halaman selanjutnya, jika tidak? Maka tidak akan ada kemajuan. Stagnan. Namun entah rasanya hidupku tidak seperti sedang membaca buku. Tidak ada lembaran berikutnya karena aku masih belum menyelesaikan halaman sebelumnya. Aku terpaku di satu halaman. Berhenti. Tidak bergerak. Cerita yang hampir sama setiap hari, penuh kebosanan.

Kemudian, pagi beranjak petang. Repetisi membosankan yang masih harus aku jalani. Terkungkung dalam imajinasi bahwa aku mungkin masih bisa bersamamu. Kamu mungkin akan kembali menemuiku lagi. Seperti petang lalu, kamu berdiri di bawah jingganya mentari yang hendak pergi, memantulkan siluet wajahmu yang sepertinya tengah tersenyum bahagia.

Ketika mulai gelap...
Lagi-lagi aku menantimu dengan cahaya. Entah mengapa sepertinya ada keyakinan bahwa kau pasti akan datang kembali, membuat repetisi-repetisi kehidupanku, tidak lagi mebosankan. Dan aku bisa membalik lembaran kehidupanku yang baru. Tidak berhenti di halaman kosong yang hampa cerita.

Rabu, 19 Juli 2017

Permintaan maaf pada pemberi berita bahagia

Sungguh, aku baru ingin mempersilahkan bahagia membingkai senyum di wajahku, namun tahukah kamu? Kadang kabar datang begitu saja menarik kembali garis senyum yang padahal baru beberapa saat tertata di sana. Berganti mulut menganga akan ketidakpercayaan diri ini atas apa yang baru saja didengarnya.

Sempat aku negosiasi dengan Tuhan, memintaNya mengulang kembali semuanya, di hari ketika kamu datang membawa kabar gembira, harusnya hari itu aku tidak terbawa suasana, tidak berharap banyak, bersikap biasa saja. Maka tentulah ketika hari ini, mendengar sebuah cerita yang tak kusangka sebelumnya, aku tidak akan se terkejut ini. Aku baru saja mulai berharap, Tuhan... kenapa malah begini rumitnya? Ternyata, kalimat yang pernah kuselorohkan pada teman: "Untuk merasakan bahagia saja, kamu memang harus berjuang dan melawan bahagia yang lain dulu." itu kini kurasakan benarnya.

Tidak, aku tidak menyalahkanmu sebagai pemberi berita bahagia yang semu. sesungguhnya, kamu berhak menentukan. Berpindah tempat, setelah tempat pertama ternyata tidak baik bagimu. Bukan salahmu kalau ternyata aku adalah tempat kesekian yang kau datangi, aku terlambat kau temui. Aku tidak peduli bagaimanapun masa lalumu. Aku tidak berhak menghakimimu, karena aku juga memiliki masa lalu yang sama buruknya denganmu. Hanya saja, mengapa di antara tempat singgahmu terdahulu, tertulis nama seseorang yang tidak asing bagiku? Mungkin itupun tidak jadi masalah kalau seandainya tempat itu sudah ada tuan yang baru dan merelakan kepergianmu. Tapi... ah sudahlah, bahkan untuk menuliskannya jariku tidak sanggup melakukannya.

Harusnya teori yang mengatakan "rezeki kita tak akan pernah tertukar" itu bisa dengan mudah kuterima. Namun percayalah, teori atau kalimat motivasi yang terbaca bagus, kadang akan sulit dimengerti bila kita sendiri sudah mengalami dan merasakan sendiri terjebak di kisah yang sama.

Maafkan aku, memilih mundur dan menolak kebahagiaan yang kamu tawarkan pada kami. Aku tidak sanggup kehilangan lagi...

Jumat, 19 Mei 2017

Bacalah

Pernahkah kamu berada di posisi, dunia begitu kelam, dan kamu rasanya ingin segera pergi meninggalkan kegelapan yang membuatmu berjalan tersandung, berlari terjatuh, diam ketakutan? Bagian mana yang membuatmu bisa bangkit dari situasi itu dan akhirnya bisa bertahan sampai sekarang? Bagaimana caramu menata kembali hatimu, dan menghiburnya bahwa semua akan baik-baik saja ke depannya? Apa yang membuatmu bisa kuat? Dapatkah kau bocorkan rahasiamu padaku?

Bacalah ini, pertanyaan yang mungkin semrawut telah kutumpahkan pada sebaris kertas usang luapan kekacauan isi hatiku belakangan. Tidak tahu kemana lagi akan kulayangkan pertanyaan ini selain padamu. Padamu yang kutahu, pernah berhasil membawa kabur hidupmu dari lingkar kelam ketakutan akan dunia yang kelam.

Bacalah ke dalam mataku yang mulai kosong, ada setitik harapan yang tak ingin redup. Berharap semuanya akan kembali baik-baik saja seperti sedia kala. Padamu yang kutahu  pernah mati terpuruk kemudian berjalan gagah berani memerangi emosi, aku punya pertanyaan padamu, bacalah...

Selasa, 02 Mei 2017

Untuk Sipenggores Warna Ungu

Setiap orang yang datang dan mengisi hidup kita, punya warna dan aroma berbeda. Rasa yang ditimbulkan pun tak sama. Pahitnya perpisahan dan manisnya pertemuan, dengan saling berbagi emosi dengan orang-orang di sekeliling kita. Ada yang kita kenal dari awal, dan memilih menetap sampai sekarang, mungkin sahabat dari kecil, atau bakan mungkin hanya tinggal keluarga (di saat teman yang lain sudah memilih menjalani kehidupan barunya di tempat lain). Ada yang kita kenal lama namun memilih pergi, dan ada yang baru saja datang mencoba peruntungan sebagai orang dekat kita.

Kenal dan dipertemukan secara tidak sengaja denganmu, aku jadi memiliki banyak pemahaman. Mengerti bahwa yang introvert jauh lebih perhatian akan hal-hal kecil. Mengerti bahwa manusia kaku ternyata bisa bercanda. Paham kalau kekaguman bisa datang karena kebaikan-kebaikan kecil. Paham kalau yang sabar ternyata bisa mundur dan memilih pergi dengan perlahan.

Ya, kamu adalah bagian dari yang pernah hadir di hidupku, kemudian memilih mundur menjauh daripada terus-terusan harus diuji kesabaran dengan sikapku. Pergi dengan menyeret langkah kaki diam-diam, tanpa salam perpisahan. Entahlah... Mungkin kamu punya rencana dengan kepergian yang tidak pernah kusangka sebelumnya.

Sejak ditinggal olehmu dengan rasa kecanggungan, aku memilih untuk tetap seperti ini, tidak berubah. Dengan keegoisanku, kekanakanku, dan kesinisanku. Kita yang belum pernah bertemu, mungkin saja suatu saat bisa bertemu secara tidak sengaja. Jadi, kuyakin kamu akan dengan mudah mengenali siapa aku karena tidak ada yang kuubah.

Terima kasih telah pernah memberikan warna ungu di hidupku. Terima kasih selama ini menjadi inspirasi tulisan-tulisanku. Kamu jagan khawatir, tidak ada yang berubah, termasuk menjadikan dirimu abadi, di setiap tulisanku.

Minggu, 30 April 2017

Keentahan

Ada keentahan yang membuat rasa gelisah tidak bisa kusimpan rapi sendiri dalam sanubari. Rasanya ia ingin keluar, tumpah ruah bersama deguban jantung yang semakin kacau. Ah.. Kenapa aku harus menanti? Padahal seharusnya tidak ada yang ditunggu. Namun serapi apapun kucoba tata kembali resah ini, tetap saja ia memang tidak baik-baik saja. Gelisah tidak tenang.

Ah... Kenapa seperti ada yang kurang kalau hal biasa yang kulakukan tiap hari, kini tidak seperti dulu lagi? Tidak ada yang benar-benar pergi sebenarnya. Hanya saja, sesuatu yang dari dulu sudah menjadi kebiasaan, kesukaan, yang menyamankan kualami dan kudapati setiap hari, tiba-tiba berganti sudah tidak lagi.

Ada keentahan, ketika rasa yang hilang ini tidak bisa terungkapkan dengan hati-hati. Jauh dari lingkungan familiar bukan hal yang mudah, melepaskan keterikatan dengan orang tersayang bukan perkara gampang.

Setelah debar yang entah keberapa, aku masih saja terdiam, berpikir mungkin rasa ini hadir karena 'kebiasaan' yang sudah tercipta dulu, yang kini tidak terjadi lagi. Tentang cerita-cerita yang setiap hari kudapati, tentang keceriaan yang hinggap disetiap nada-nada mulai berbunyi, tentang pengharapan yang secara tidak sengaja kutitipkan dalam hati.

Minggu, 23 April 2017

Hey!

Hey!
Mungkin kita tidak sedang berada di suasana yang sama saat ini. Aku dengan kekhawatiranku, kamu dengan kesibukanmu (sehingga tak sempat untuk merasakan kekhawatiran).
Bilamana kesibukan adalah mata pencaharianmu, maka khawatir adalah selimut di tidurku. Tapi tenanglah, bukan khawatir ini membawaku menjadi buruk. Justru, ia akan membawaku semakin sering lagi berdoa padaNya untukmu. Ya, tentu saja untukmu, yang mungkin, karena kesibukanmu, jangankan untuk mendoakanku, bahkan mengingatku saja mungkin tidak. Tak apa. Kita sudah berada di porsi kita masing-masing. Tinggal kita jalani saja peran, apakah sebagai perindu, atau sebagai yang menghilang dan mengabaikan.

Hey!
Aku tidak apa-apa di sini. Hanya sedikit merasa sepi. Tapi semoga ini tidak berlangsung lama. Sebentar lagi juga aku akan lupa, atau mulai terbiasa. Jadi tidak perlu memaksakan diri berobah menjadi peduli. Justru itu akan asing sekali. Akan terlihat, itu bukanlah kamu yang hanya 'kan membuatku risih.

Hey!
Memang kita masih di negeri yang sama meski beda kota. Semoga suatu ketika, ada kebaikan semesta yang menemukan jalan kita kembali bersua, meski tidak untuk bersama.

Jumat, 07 April 2017

Tersentak Dini Hari

Aku tersentak. Sekilas nampak jam dinding menunjukkan pukul tiga dini hari
Masih meraba-raba perihal mimpi barusan
Apakah kamu masih menghantui, Ataukah aku yang tak pernah benar-benar beranjak pergi?

Malam ini aku sadari, -lagi. Bahwa aku memang benar-benar sendiri. Tergopoh menanggung rindu dan luka tanpa teman sepenanggungan. Tanpa kamu. Tanpa dekap yang dulu membuatku tenang saat menggigil kedinginan. Tanpa teduh wajahmu yang menenangkan saat kepalaku begitu sesak dengan sepi dan kebosanan.

Sudah berapa lama hingga kini? Rasanya baru kemarin kamu pergi, membawa koper dengan terseok sambil melangkah hati-hati sekali. mungkin yang dalam pikiranmu saat itu, rasa sakitnya akan berkurang dengan melangkah hati-hati. Sembari menatap punggungmu, mataku yang sudah sembab, enggan untuk tak membasah. Entah air mataku akan kering setelah itu, aku tidak peduli. Pokoknya hanya air mata rasanya yang bisa mengerti, bagaimana perihnya kehilangan karena ditinggal pergi.

Apakah hingga kini, kamu masih tetap menghantui, Ataukah aku yang tak pernah benar-benar pergi?
Hingga hadirnya mimpi, kembali membawaku menikmati hangatnya kehadiranmu kembali mengisi cerita-cerita di setiap lembaran hari-hariku beberapa saat ini.




Jumat, 31 Maret 2017

Teruntuk Kekasih Sahabatku

Sejujurnya, aku masih tidak begitu yakin, apakah yang kuinginkan itu, tulisan ini bisa bertemu dengan panca inderamu atau tidak, tetapi jemariku rasanya greget ingin menulisnya beberapa waktu belakangan, jadi ya... kutulis saja, jadi biar semesta yang menentukan, apakah tulisan ini akan sampai padamu, atau tidak.

Aku tahu, bahwa dari segi penampilan wajah, aku ini adalah sosok antagonis yang mungkin ingin dihindari sebagian besar orang. Ya, anggaplah aku memang perempuan yang tidak baik bagimu di hidupmu, tapi tunggu, kurasa tidak begitu bagi sahabatku, setidaknya, jauh sebelum ia mengenalmu.

Belakangan, jujur tentangmu sedikit banyaknya sudah mengganggu pikiranku. Betapa tidak, hampir setiap hari aku mendapatkan pengaduan yang rasanya membuatku mual ingin memuntahkan amarahku, tapi entah mendapatkan kesejukan dari mana, aku yang sejatinya adalah seorang yang emosional, masih bisa menahan gejolak ingin berontakku. Aku beruntung masih bisa diam ketika harus berhadapan denganmu, tapi tidak di depan sahabatku.

Wahai laki-laki yang baru saja berhubungan dengan sahabatku.
Kamu tahu? Gara-gara kamu akhir-akhir ini aku jadi sering memarahi sahabatku. Betapa bodohnya ia, sungguh! kukatakan ia sangat bodoh. Kamu yang masih seumur jagung dekat dengan sahabatku, tetapi sudah lebih dari seorang bapak. Kamu berlebihan kalau semua yang dilakukan sahabatku harus berdasarkan izin darimu. Kamu berlebihan kalau lama-lama kamu jadi melarang sahabatku menemuiku. Kamu berlebihan karena kamu membuat kami para sahabatnya jadi orang asing bahkan di saat kami berkumpul bersama. Kuingatkan, kamu keterlaluan, sungguh!

Aku bersalah, memang. Seharusnya aku marah padamu, aku tidak meluapkan kekesalanku atas kesalahan hubungan kalian ini padanya yang sangat lemah, yang apa-apa hanya bisa menangis. Padahal selama ini, ia adalah perempuan yang tegar. Bahkan ketika ibunya meninggalkannya untuk selama-lamanya, walaupun dengan berat, tapi ia bisa menjalani semua itu, dengan kami selalu berada di sampingnya. Kini? Dia harus menangis, setelah kau marahi hanya karena dia pergi ke pasar denganku, kamu memarahinya, di dekatku, kamu memarahinya? Dia hanya pergi denganku, sahabatnya yang jauh sebelum kalian kenal kami sudah menjadi saudara. Bukan pergi dengan laki-laki lain. Bahkan ketika salah seorang dari kami membicarakan ini padamu, kamu membela diri dengan memfitnahku! oh, sorry... tolong jangan bawa-bawa kerudungku ke dalam masalah ini, apalagi ini hanya kalimat fitnah yang kau lontarkan.

Wahai laki-laki yang menduduki peringkat teratas di hati sahabatku kini.
Tidak apa kalau kalian memang sebentar lagi akan menikah. Aku justru senang jika sahabatku yang baru saja diwisuda akan menikah. Izinkan aku memberitahumu sesuatu yang mungkin kamu tidak mengerti bagaimana terlukanya kami, para sahabat kekasihmu melihat dia terus-terusan menangis setiap kali selesai kau hardik. "Bahwa perempuan sejatinya hanya ingin disayang, diperlakukan lembut. Marahlah dengan bijak kalau memang sahabatku memiliki kesalahan, tidak haruslah kau menghardiknya sampai membuatnya memompa matanya sampai bengkak. Semoga status Magister Pendidikanmu yang baru saja kau peroleh bisa membuatmu lebih dewasa secara emosional, sebagai calon kepala rumah tangga. Kalau memang kau berjodoh dengan sahabatku, aku hanya bisa mendoakan semoga sahabatku bahagia dan menjadi istri yang baik untuk suaminya, tapi tolong, jangan beri jurang pemisah antara kami dengan dia, karena... semenjak ibunya tiada, kepada siapa lagi ia akan bercerita kalau tidak kepada kami sahabat perempuannya?"



Rabu, 01 Maret 2017

Jadi...

Teruntuk perempuan yang beberapa saat lalu datang dan duduk manis di hadapanku
Asing ya? Kita duduk bersama tapi saling diam
Aneh ya? Kita berdekatan tapi terasa berjauhan
Bukannya aku yang berubah menjauh, tapi kamu yang terlebih dahulu menghindariku.
Bukannya aku yang sudah tidak ada bahan lagi bercerita padamu, tapi kamu yang lebih dulu tidak mau berbicara padaku.
Bukannya aku enggan berbagi padamu, tapi kamu yang sudah lebih dulu tidak lagi mengikutsertakanku.
Lantas, bagaimana mungkin aku masih bisa bersikap akrab, dekat, hangat, sedangkan kamu telah menciptakan jarak?
Bukan hanya kamu, aku, kita yang merasakan adanya kecanggungan. Tapi semesta pun sudah mulai menyadarinya.
Bahwa yang akan pergi meninggalkan, terkadang memang senang menggores jarak terbentang.
Mungkin, agar tiada begitu terasa saat pisah benar-benar kan jadi nyata.

Jadi… apa lagi yang bisa kulakukan selain mengikhlaskan?

Jumat, 17 Februari 2017

Setelah 18 tahun

Hidup kita di hari ini, tak lepas dari masa lalu yang telah terukir indah menggores apik dalam tinta kenangan yang tersusun rapi di buku harian yang tersimpan di kotak harta karun kita.

Bicara masa lalu, aku mengenal sahabat kecil yang pernah menjadi alasan kenakalan masa kecil menjadi menyenangkan. Hidup bersama di lingkungan tempat tinggal yang berdekatan. Ya, kita mulai dekat kala itu, kamu baru pindah ke rumah di depan rumahku. Rasanya menyenangkan, punya tetangga baru seusiaku.

Kapan kita mulai akrab? Aku lupa persisnya seperti apa. Yang masih kuingat sampai sekarang, kenakalan-kenalakan kita yang masih tersisa giresannya sampai sekarang. Kita pernah menggores dinding luar belakang rumah Yulia dengan ukiran nama kita, yang tentu saja membuat murka orang tua kita yang dapat pengaduan dari tante Widya. Namun anehnya, semarah-marahnya tante Widya kala itu, goresannya malah dibiarkan begitu saja sampai hari ini. Kita juga sering menghabiskan setoples astor jualan mamaku di kolong kasur kamar orang tuamu.
Ahh.. Kejadian-kejadian menggemaskan itu kini terekam lagi di ingatanku.

Kemarin, setelah 18 tahun tidak bersama lagi, kita bertemu. Jujur, aku sudah lupa dengan wajahmu, namun tidak dengan namamu. Aku yakin, Robbyansha Panca itu nama sahabat kecilku yang kini tumbuh gagah dan kharismatik. Kita bertemu tidak sengaja di sebuah acara. Meski membalas senyumku, namun sepertinya kamu lupa dengan namaku yang kuyakin juga kamu pasti dengar. Atau, mungkin lengan mungil seorang gadis cantik yang selau berada di sisimu itu yang menahanmu untuk sekadar 'say hello' padaku. Apapun alasannya, aku lumayan kecewa dengan sikap dinginmu itu. Bukankah seharusnya kita bisa saling bercerita seru tentang belasan tahun masing-masing?

Dear, sahabat kecilku... Aku merindukanmu.

Jumat, 06 Januari 2017

Berita Bahagia itu...

Dunia ini terasa tenang, kalau tidak pernah ada kabar mengejutkan yang tiba-tiba bisa menjadi moodbreaker. Yap, berita mengejutkan yang bahagia sekalipun, kalau dilihat dari sudut pandang berbeda, kamu tau, kadang bisa menjadi berita paling menyedihkan.

Aku sedang merasa tenang di depan laptop untuk menyelesaikan pekerjaanku, dan entah kenapa rasanya bosan mulai menggangguku. Iseng, kubuka salah satu sosial media yang sudah mulai jarang kudatangi belakangan. Sampai, ketenanganku tadi tergantikan dengan ketercengangan, sesaat menghentikan indera pernapasanku, menghentikan kerja jantungku, dan pandanganku, perlahan gelap.

Lama mulutku ternganga mencerna apa yang baru saja kulihat. Sebuah foto yang dikirimkan temanku, meski berwarna hitam-putih, dengan jelas menampakkan tawa bahagiamu berdampingan dengan seorang perempuan yang tak kalah bahagianya. Aku berusaha menenangkan diriku sendiri. Membuat seoalh semuanya biasa saja, mencoba ikut bahagia dengan berita bahagia yang kuterima. Kulihat, tanggal pengiriman foto itu di hari pertama tahun ini. Artinya aku sudah terlambat tiga hari mengetahuinya. Aku tidak mungkin berteriak histeris, karena seisi perpustakaan akan menatap sinis ke arahku. Satu hal, sebenarnya begitu hebat gejolak di dadaku.

Mataku mengerjap-ngerjap. Memastikan tak ada yang akan jatuh dari sana. Reflek tanganku mendarat di dadaku, memastikan detakannya masih berirama. Hembusan nafasku panjang melepaskan gugu yang tertahan.

Terakhir yang masih kupercaya, kamu adalah orang yang paling peduli dengan orang tuaku. Kupikir, kebaikanmu selama ini mungkin memiliki niat kelak akan hidup bersama denganku. Ternyata aku Cuma ngigau. Lantas, kenapa tidak ada undangan yang datang padaku? Kenapa kamu tidak memberitahuku saja sebagai seorang kakak kepada adiknya?

Ahhh…Tidak semua yang ditinggal mendapat ucapan selamat tinggal, kadang sepahit itu memang, dan aku harus menyadari itu tengah terjadi padaku. Oke. Semoga kamu selalu bahagia di sana, dengan keluarga barumu, senior.

Senin, 28 November 2016

Masih

Masih berdiri di dalam kotakku. Menatap perlahan ke arah jendela kaca yang memburam karena embun yang terkena efek hujan dari pagi. Pertanda baru bangun, sesosok dengan mahkota kusut membayang dari sana. Segera kusapu uap itu agar tidak melihat pemandangan kusam itu lagi. Tidak enak dilihat tengah malam begini.

Bukannya lupa. Di akhir tahun seperti ini, hujan memang lebih rajin mendatangi kotaku setiap harinya. Dan akibatnya, aku jadi terkurung dalam kotak peraduanku, seharian. Tidakkah ia rindu untuk pulang barang sebentar bertemu awan?

Tidak ada yang menyakitkan dari hujan yang datang memang. Dengan aroma tanah dan hawa sepi yang dibawanya sesampainya di bumi, Ia hanya berusaha setia. Hujan terjatuh berkali-kali, tetapi tak pernah enggan untuk kembali, meskipun itu untuk terjatuh lagi. Ia selalu datang lagi. Terjatuh pada tempat yang tepat.

Pelajaran yang diberikan hujan, tentu saja bagaimana ia menunjukkan kesetiaan. Setelah pulang, ia menjanjikan untuk kembali. Tentu saja, dengan jaminan usianya yang semoga masih panjang.

Hawa dingin mulai menembus kaca yang masih kusentuh, menyadarkanku. Hujan yang enggan berhenti, membangunkanku yang merasa sangat lapar. Ternyata hujan masih saja berbaik padaku, meski aku tidak pernah berterima kasih padanya, atau sekadar menyambutnya kala ia datang mengunjungi. Sambil menikmati sisa roti yang kubeli tempo hari, aku masih menatap ke luar jendela, menembusnya untuk dapat menyapa sang hujan. Mencoba menggenggam butirannya yang terjatuh, agar tidak begitu sakit.


Kurasa, hujan tengah tersenyum dengan usahaku itu. Bukan apa-apa, aku tidak lagi berbaik hati padanya. Hanya ingin menyampaikan surat yang kuselipkan di antara jemariku padanya. Barangkali hujan berkenan, menyampaikannya pada sang Illahi, bahwa aku masih menanti.

Senin, 14 November 2016

Ada

Ada orang yang memilih untuk tidak mengeluhkan kesahnya, karena tidak ingin melihat kecemasan terpantul dari wajah orang lain karenanya, atau tidak ingin terlihat lemah, atau mungkin ia tak percaya bahwa benar-benar ada orang yang peduli akan sakitnya.

Ada orang yang memilih lebih terbuka dengan terdekatnya. Membagi kesah hanya kepada orang-orang sekitar yang benar-benar mendapati kepercayaan darinya. Tujuannya? Mungkin dengan hanya membagi kesah, hatinya sedikit lega.

Ada orang yang memilih terbuka dengan siapa saja yang dikenalnya. Menceritakan keluhannya, membagi kesahnya, tanpa beban dan kekhawatiran. Karena baginya, ia telah melepaskan sebagian bebannya dengan keterbukaannya.

Apapun keluhannya, bagaimana pun wujud kesahnya, setiap yang bernyawa pasti pernah terkurung di dalamnya. Merasa sedih, sepi, seakan mati. Ada yang berat sampai tidak kuasa berdiri, ada yang masih bisa diatasi oleh lapang hati. Aku pun, dan kamu juga.

Kamu, yang entah sedang apa dan di mana saat ini, yang masih kusebut dalam doaku pada Illahi, semoga kelak hatimu yang mungkin sedang tersakiti, bisa kembali berdiri. Tegar menjalani aktivitasmu sebagai makhluk Illahi Robbi.
Dan, entah dengan cara apa,
aku selalu mengharap padaNya, segera bisa dipertemukan dalam rangkaian kita.
Sehat dan selalulah berbahagia di sana. 😊
Ingatlah aku di sini ada!

Kamis, 10 November 2016

tidak akan

Katakanlah,
Apakah aku memang lebih pantas untuk pergi, atau masih ada yang berharap aku masih di sini.

Kalau ditanya pilihanku? Kamu dan hal-hal yang pernah kita lalui adalah alasan untukku agar bisa menetap lebih lama lagi. Bukan karena takut tidak terbiasa dengan tempat yang baru, karena bagiku mudah saja untuk menyesuaikan diri dengan rasa sunyi yang mungkin akan sama. Hanya saja, rasanya, segala yang pernah ada menjadi kasur empuk yang sudah melekat dengan hobi tidurku –sayang, jika harus ditinggalkan begitu saja.

Aku masih ingin bertahan di sini, menanti kemungkinan sekali lagi untuk bisa menjadi satu genggaman denganmu. Genggaman yang beriring, bersisian, tentu dengan visi yang satu.

Aku sudah memperjuangkannya sepenuh hatiku. Melakukan hal-hal yang mungkin gila, agar tak pernah kamu menginginkan jauh dariku. Karena sangat tidak mudah untuk jauh darimu. Canggung.

Berkali-kali aku jatuh dalam perjuanganku, aku mencoba menghibur diriku. “Jangan sedih, jika semesta sedang mencoba membuat semangatmu patah” dan itu berkali-kali berhasil. Namun sekarang, sepertinya itu tidak mempan lagi. Ada yang membuatku tersadar akan suatu hal, ternyata aku terlalu percaya diri bahwa aku masih penting di sini. Entahlah, kamu yang sepertinya sudah terlebih dahulu ikhlas jika kepergianku adalah nyata, membangunkanku.


Jika nanti pada akhirnya memang aku harus pergi, percayalah bukannya aku ingin meninggalkanmu di sini. Kau dan segala yang pernah ada selalu kubawa. Karena bagaimana pun jauhnya, jarak tidak akan pernah menghapus tentang kita.

Selasa, 25 Oktober 2016

Mimpi

Memiliki mimpi dalam tidur sendirimu, menjadi teman istirahat malam panjang, tempat menyandarkan lelah hari sebelumnya dan menggantungkan harapan untuk hari selanjutnya.

Mimpi semalam, mengingatkan aku bahwa kamu masih ada di sudut tak terlihat dalam hati ini. Bahwa ternyata masih saja aku punya harapan untuk dapat melihatmu bersamamu lagi.

Tiada yang salah dengan memiliki mimpi, meski aku selalu takut setiap kali mimpi datang lagi, aku tetap saja menikmati, apalagi itu mimpi tentang kamu.
Tentang harapan yang lama kugaungkang ke langit dalam barisan doaku menuju Ilahi. Harapan tentang masa panjang yang masih jadi teka-teki.

Aku menikmati, pun juga terselip rasa takut akan kesenangan sesaat yang muncul, akan kembali hilang bersama bayang-bayang mimpi yang segera lenyap begitu terbangun.

Terima kasih mimpi, kau hantarkan ia masuk dalam mimpiku, memberi kesempatan beberapa menit untukku melihat kembali senyuman renyah khas miliknya.
Membawa otakku memerintahkan bibirku untuk tersenyum senang.
walau sesaat.
Walau hanya mimpi.

Rabu, 31 Agustus 2016

Sewajarnya

Ketika kamu merasa bahagia memiliki kehidupan yang sempurna, –dengan begitu banyak orang yang benar-benar peduli berada di sekelilingmu, Pernahkah kamu mencoba membuka mata lebih lebar lagi? Keluar dari lingkaran lingkungan yang mengerubungimu. Menebas dinding tinggi yang menghalangi pandanganmu. Mungkin, ada di luar sana, di sekitarmu yang tidak pernah mendapat perhatianmu, ada sosok yang tengah sepi dan terasingkan.
Apa yang kamu pikirkan ketika mendapati pemandangan demikian?

Mereka tentu dapat melihat dengan jelas bagaimana kamu begitu bahagianya, tertawa lepas dan melayang sambil menari-nari, karena tidak ada sekeliling yang melingkarinya untuk menghalangi pandangannya menujumu. Kamu tahu, apa yang mereka pikirkan ketika meihatmu terlalu nyaman dengan lingkungan sempurnamu? “Mungkin orang yang terlalu bahagia menunjukkan kebahagiaannya lupa, di sekitarnya ada orang lain yang sedang berusaha dengan keras untuk tidak ketahuan dengan luka di hatinya”.

Kembali lagi, bagaimana perasaanmu? Apakah masih ingin menunjukkan pada dunia betapa bahagianya dirimu dengan kehidupanmu yang tanpa cela?
Layaknya kesedihan dan kesusahan yang akan segera berlalu. Berbahagialah sewajarnya, mungkin kau bisa lebih bijak demi memikirkan perasaan orang-orang yang tidak sengaja terluka hatinya melihatmu tertawa begitu bahagia.

Jumat, 19 Agustus 2016

Mungkin

Mungkin kita pernah sama-sama merasakan hidup yang panjang melelahkan yang kita lalui dengan begitu banyak aktivitas, ternyata tak berpihak pada kita.
Saat sebuah keinginan kecil tak jadi kenyataan
Saat memiliki harapan berujung kekecewaan
Saat semua yang dimiliki perlahan menghilang
Laksana berada di tengah padang di terik siang,
Diam tak memberimu apa-apa, berteriak meminta pertolongan malah membuat semakin dahaga
Atau ketika kita berlarian penuh ceria di bibir pantai, namun tiada teman untuk berbagi keindahan.
Apalah arti sedih pun bahagia, jika tak ada satu orang pun untuk berbagi akan nya?

Mungkin kita pernah sama-sama merasakan, merasa begitu sepi di dalam benak sendiri. Membuat lupa cara tersenyum karena dirasa rugi tak ada juga tempat untuk berbagi. Duduk tersudut memangku kaki, menekur, membenam duka dalam sunyi.

Atau... berdiri di samping bangku dekat jendela, kemudian melangkah memunggungi kaca yang berembun terkena tempias hujan. berjalan pelan menuju kamar yang digerogoti kesunyian. Berharap bisa menuliskan catatan tentang hujan di bulan ini: perihal aku, kamu, dan kehilangan tanpa salam perpisahan.

Kepergian dan kehilangan adalah bagian paling menjemukan.
Aku sudah terlalu bosan menjalani malamku dengan cerita-cerita kesedihan, hingga air mataku rasanya sudah jenuh untuk menetes.
Maka inilah yang aku lakukan sekarang, menuliskan setiap kenestapaan dalam menghadapi kehilangan.
Mencoba menghapus jejak kekecewaan, berpaling mengikhlaskan.