Minggu, 28 Januari 2018

Kita

Kita memang bukanlah sepasang kekasih, tetapi ingatlah bahwa bukan berarti kita adalah dua lawan.
Dengan tidak sengaja, kita saling menyakiti. Saling menyerang dengan perasaan yang salah. Membabi buta dengan sikap yang tak tentu arah. Memberikan efek kecewa dalam kesedihan dan duka mendalam.

Kita memang bukan kekasih, tetapi.. Tidakkah sebaiknya kita baik-baik saja? Kenapa malah saling termotivasi untuk sama2 melukai?
Aku yakin, dengan tidak sengaja, tanpa kusadari, telah banyak rasa sakit yang tertanam di hatimu karena sikapku. Kekanak-kanakan, keegoisan, kegengsian, kejutekanku membawakanmu perasaan luka.
Kamu juga mungkin tanpa sadar, tidak sengaja telah menjadi sembilu di hatiku. Melambungkanku tinggi, membuatku berharap, membuatku menunggu, kemudian menghilang tanpa jejak langkah yang jelas. Tidak adanya kata perpisahan dan pertanda akan kembali bertandang.

Bersamaan dengan diriku yang kamu kecewakan, dan kesadaranku telah melukaimu, aku jadi membenci dengan menyakiti diriku sendiri. Seakan aku tidak punya lagi kepemilikan atas rasa bahagia untuk hidupku sendiri. Aku membuatnya lebih menderita lagi. Bagaimana denganmu?

Tidakkah kita memilih jalan yang salah?
Bukankah seharusnya kita saling menyemangati dan memberikan dukungan?
Haruskah kita mengakhiri kesalahan ini dengan saling melukai?

Jumat, 19 Januari 2018

,








   Maaf, aku bosan. Dan mulai terpikirkan untuk menyerah.

Jumat, 15 Desember 2017

Hari Ibu

Siapa sih yang nyiptain tanggal 22 sebagai hari ibu? Andai tidak pernah ada tanggal yang dikhususkan untuk merayakan hari ibu. Tentu air mata ini tidak keluar lagi –seperti tahun-tahun lalu–.
*
Aku merunduk mencari sendalku di tumpukan rak sepatu. Pagi itu aku ingin keluar membeli gula. Persediaan gulaku sudah habis. Sedangkan hasrat untuk ngopi tidak terbendung lagi. Di warung aku bertemu anak-anak tetangga yang tengah asyik bercakap-cakap.
“Jadi nanti malam kamu bakal ngajak mama kamu makan di restoran sama papa kamu?”
“Iya dong. Kalau kamu? Bakal ngerayain hari ibu ke mana?”
“Aku sih cuma di rumah sambil potong kue dan berfoto bersama, tidak lupa berdoa untuk ibu. Trus, kamu kasih kado apa buat mamamu?”
“Aku sama papa beliin mama baju. Hehe… kalau ibumu?”
“Foto kami sekeluarga bersama ibu, kubingkai dalam bingkai yang besar sekali. Nah… itulah kado spesialku untuk ibu.” Keduanya tertawa bersama. Kemudian mereka mulai sadar kehadiran mataku yang tak lepas menatap mereka. Seketika mereka terdiam. Seperti salah tingkah, dan tak lama memutuskan untuk pergi. Aku hanya menghela nafas.
Tidak hanya di warung, di seluruh akun jejaring sosial, setiap aku membuka halaman home, selalu terbaca “Selamat hari ibu. Hari perempuan hebat yang cintanya tak pernah palsu.” Begitulah kira-kira kalimatnya. Entah kenapa, rasanya aku (lagi-lagi) merasa tersindir dan tersisih sendiri.
*
“Dinda, ada orang tua kaya ingin bertemu kamu. Mungkin kali ini giliranmu.” Aku bangkit dengan ogah-ogahan memenuhi panggilan Kak Fatimah, kakak yang menjadi kakak anak-anak di panti ini. Meski giliran yang ia maksud adalah impian sebagian besar anak di panti ini, tapi aku merupakan salah satu anak yang enggan untuk diadopsi.
Ketika aku sampai di ruang tamu, kedua suami-istri muda itu menatapku sambil tersenyum, membalas wajah cemberutku.
“Dinda berapa umurnya?”
“13” jawabku jutek. Perempuan yang lebih pantas kupanggil kakak itu bertanya lagi.
“Dinda sekolah di mana?” sebelum menjawab, kualihkan pandangan ke arah Bu Siti, meminta penjelasan kenapa aku yang dipanggil ke ruang tamu ini, namun Bu Siti hanya diam menatapku.
“SMP Pamungkas”
“Juara ya, di sekolah?” aku hanya mengangguk dan menunduk. Khawatir kalau memang suami-istri muda ini menginginkan aku sebagai anak angkatnya.
“Dinda, tau, ini hari apa?”
“Minggu.” Jawabku. Keduanya tertawa.
“Iya, tapi ada peristiwa apa yang diperingati di hari ini?” sudah pasti maksudnya adalah hari ibu. Tapi aku enggan menjawab.
“Gini sayang, bunda sama ayah mau ngajak Dinda jalan-jalan buat memperingati hari ibu. Bu Siti udah ngizinin. Dinda mau ya?” aku menatap mata perempuan yang menamai dirinya bunda itu. Terlihat tulus. Atau memang disetting begitu oleh riasan tebalnya? Entah… kemudian kulihat Bu Siti mengangguk. Aku kembali tertunduk. Kemudian memutuskan…
*
Ibu? Mama? Atau siapapun panggilan untuk perempuan yang melahirkan anak itu. Sama sekali aku tidak pernah tau sosoknya. Kelam. Tak ada gambaran. Tapi yang jelas, yang kutahu hanyalah…
Perempuan itu telah membuangku. Perempuan itu tidak menginginkan aku menemani hari-harinya. Perempuan itu… tidak mengakui aku.
Jadi, bagaimana bisa aku mengucapkan selamat hari ibu untuk perempuan yang entah di mana itu?
Iya. Aku cemburu dan sangat iri pada setiap kali ada pemandangan ibu menggandeng tangan anaknya atau ibu mencium kening anaknya, tapi hatiku selalu berpaling dari setiap kalimat setiap teman sekolahku.
“Ibu itu orang yang selalu ada untukmu bahkan ketika seluruh dunia berpaling darimu.” Kurasa mereka memang sangat mengagungkan sosok ibu mereka. Tapi mereka lupa. Pada setiap helaan kalimat pujiaan pada ibu mereka, ada hatiku yang teriris. Aku cemburu. Aku iri. Aku juga ingin merasakan hangatnya kasih ibu seperti mereka. Tetapi, di mana ibu kandungku saat ini saja aku tidak tahu. Mendapatkan pelukannya saja aku belum pernah, bagaimana kau bisa merindukan rasa pelukan yang tidak pernah ada?
Kuhapus tetesan terakhir air mataku. Kemudian meneruskan melipat baju bagus yang baru saja kukenakan untuk jalan-jalan dengan ayah dan bunda tadi.

Kamis, 09 November 2017

Jadilah si "Tidak Peduli" daripada Pembenci

Seberapa banyak kita memiliki orang lain di hati kita, masuk dalam kategori orang-orang yang tidak kita sukai? Kurang dari 5? Lebih dari 5? 10? 20? Tahu persiskah kita apa alasan kita menempatkan mereka pada golongan orang yang kita tidak sukai? Logiskah alasan itu?

Kehidupan seperti apapun, tentu ada saja konflik dan masalah yang terjadi, meskipun dengan bersusah payah kita hindari untuk bermasalah dengan orang lain. Namun, pilihan kita untuk menempatkan perasaan kita pada orang tersebut. Apakah kita harus membencinya atau tidak? Kadar kebenciannya tinggi atau tidak? 

Ada saja, seseorang yang baru mendengar nama orang yang dibenci saja sudah langsung badmood. Ada juga, walaupun bertemu dengan orang yang tidak disukai, ia masih bisa bersikap normal dan biasa saja, memperlihatkan seolah hatinya berdamai dengan orang tersebut.

Jadilah si tidak peduli daripada pembenci. Sengaja tulisan ini ditulis hari ini. Barusan, ada kejadian di samping saya, seseorang yang di hatinya menyimpan kebencian yang dalam terhadap seseorang, mencak-mencak begitu mengetahui yang dibenci tengah berbahagia, padahal tidak membuatnya terlukai sedikitpun. Namun, hati yang membenci, tetap mencari celah untuk tidak menyukai. Hampir setiap hari peduli, mencari tahu, tentang orang yang tidak disukai. Dapat apa? Hati yang semakin keras dengan kebenciannya. Lelah dengan kebencian yang menguras kalori, tidak kenyang.

Untuk apa kita terlalu peduli? Bukankah lebih baik kita tak acuh dengan orang yang tidak kita sukai, ketimbang menyediakan waktu kita untuk memperhatikan hidupnya? Jadilah tidak peduli daripada pembenci, karena lebih aman, tentram, dan mengurangi potensi dosa.

Selasa, 31 Oktober 2017

Hey! Kamu...

Hey! Kamu...
Sudah berapa lama hingga saat ini? Kepura-puraan yag nyaris tanpa cela, terlihat begitu sempurna dan natural.
Kurasa, kita adalah pelakon yang baik. Melakoni peran kita masing-masing seperti mereka yang sangat baik-baik saja. Tapi, aku yakin, kita tidak baik-baik saja, kan? Paling tidak, aku tahu, kalau bukan hanya aku yang merasakannya. Tentu kamu juga merasakan keanehan atas image kita ini. Benar begitu, kan?

Hey! Kamu...
Seseorang yang "mereka" anggap adalah bagian dari hidupku. Apakah kamu tahu dan peduli, sedikit saja dengan aku, seperti kelihatannya? Ya, kelihatan dari luar kita adalah wujud sempurna dari kepedulian dua kutub. Namun, kurasa, kita sangat berbeda dari kelihatannya, kan?
Apakah kamu pernah mendukungku? Kurasa tidak. Yah.. Walaupun aku pernah berpura-pura menjadi pendukungmu yang tulus, rasanya tidak sekalipun kamu memotivasi langkahku yang sering terseok. Kamu hanya diam. Di saat mereka bertanya, kamu melemparkan kesalahan padaku, bahwa aku tidak ingin dicampuri urusannya. Benar begitu, kan?
Nyatanya selama ini, aku selalu berjalan dengan kakiku, kamu melangkah dengan rodamu.


Hey! Kamu...
Sejujurnya aku pernah mencoba untuk menjadi separuhmu. Hanya saja, hmm... Tidakkah kamu merasa ada kecanggungan di antara kita? Rasa kikuk yang seringkali kurasakn bila memainkan peran sebagai perempuan terbaikmu. Oke, aku adalah seorang yang kaku, namun kakunya aku berbeda dari rasa canggung yang mengelilingi kita.

Hey! Kamu...
Aku tidak paham dengan diriku sendiri, masih rela dan bertahan dengan kepura-puraan yang tidak nyaman ini. Padahal aku tahu, seringkali aku gelisah bila berada di dekatmu. Tidak jarang aku risih pura-pura peduli padamu. Kuharap semoga kamu masih bisa memahami dirimu setidaknya, jangan seperti aku yang payah ini. Jangan!

Hey! Kamu yang semestinya sering aku banggakan, seharusnya selalu membuatku bersemangat bila bersamamu, jika saja kita dipertemukan kembali, ingin aku bertemu dalam rasa yang damai, menerimamu menjadi bagian dariku, menyayangimu setulus yang aku mampu.

Rabu, 11 Oktober 2017

Lembaran

Aku sedang menikmati pagi, menikmati setiap lembar buku yang kubolak-balik sesekali. Sesekali menyeruput teh hangat di atas meja. Hari yang berbeda, waktu yang berbeda, namun tetap dengan hati yang masih sama. Santai menunggu ucapan "selamat pagi" di layar ponselku yang akan menambah semangat pagi hariku. Tetapi kali ini tidak lagi ada.

Lembaran terakhir buku yang masih kupegang sudah selesai kubaca. Aku jadi tertegun sambil mengingat isi buku yang baru saja kuakhiri. Hidup ternyata seperti membaca buku. Kita harus menyelesaikan lembarannya, untuk bisa lanjut ke halaman selanjutnya, jika tidak? Maka tidak akan ada kemajuan. Stagnan. Namun entah rasanya hidupku tidak seperti sedang membaca buku. Tidak ada lembaran berikutnya karena aku masih belum menyelesaikan halaman sebelumnya. Aku terpaku di satu halaman. Berhenti. Tidak bergerak. Cerita yang hampir sama setiap hari, penuh kebosanan.

Kemudian, pagi beranjak petang. Repetisi membosankan yang masih harus aku jalani. Terkungkung dalam imajinasi bahwa aku mungkin masih bisa bersamamu. Kamu mungkin akan kembali menemuiku lagi. Seperti petang lalu, kamu berdiri di bawah jingganya mentari yang hendak pergi, memantulkan siluet wajahmu yang sepertinya tengah tersenyum bahagia.

Ketika mulai gelap...
Lagi-lagi aku menantimu dengan cahaya. Entah mengapa sepertinya ada keyakinan bahwa kau pasti akan datang kembali, membuat repetisi-repetisi kehidupanku, tidak lagi mebosankan. Dan aku bisa membalik lembaran kehidupanku yang baru. Tidak berhenti di halaman kosong yang hampa cerita.

Selasa, 19 September 2017

Pengelana








               = Setelah lelah berkelana di luar sana
                  Kamu kembali ke rumah
                  Namun ternyata aku bukanlah tuan rumah yang ramah
                  Sehingga kamu tidak pernah betah
                  Kamu bergegas berkemas untuk melangkah
                  Meninggalkanku yang tak bisa marah *







                                                                                                              .