Kamis, 31 Januari 2019

Jika Engkau Ingin Bertanya Tentang Hujan

Jika engkau ingin bertanya
Tentang bagaimana mengukur derasnya air hujan
Maka tanyakan pada hatimu
Seberapa dalam luka kau gores di dadaku
Maka sedalam itulah hujan tumpah dari langit
Ke ladang-ladang yang tak pernah sungguh
Engkau tanami dengan kesetiaan pun kejujuran
Jika engkau ingin bertanya
Tentang seberapa asin laut yang jauh menghampar
Maka tanyakan pada hatimu
Seberapa banyak air mata telah kau buat tumpah
Maka seasin itulah laut mengepung kedua mataku
Membanjir di lekuk pipi yang tak lekang merawat setia
Meski engkau selalu saja bersilat asmara
Dan jika engkau masih ingin bertanya
Mengapa hujan masih saja deras mengguyur
Walau sekarang sudah masuk bulan November
Maka aku ingin bilang padamu padanta,
Barangkali musim juga akhirnya mengerti
Bahwa luka yang engkau gores di waktu lalu
Belum sembuh. Benar-benar belum sembuh

Kamis, 05 April 2018

Rasanya Wajar,

Rasanya wajar, aku mengingatmu lagi sekarang.
Kamu yang dulunya selalu menemaniku saat aku memulai semuanya.
Kamu yang mendukung dan menyemangati aku menjalani ini semua.
Kamu yang membersamaiku berjuang dari awal.
Tempat membuang keluhku, tempat menertawakan kekeliruanku, tempat mendukung aktivitasku.
Kamu selalu ada waktu terpuruk terparah sekalipun di kehidupanku. Kamu selalu hadir di masa-masa sulit aku merangkak menyelesaikan ini semua. Menemani begadang, menemani kala bosan menunggu, menghibur kala yang aku selesaikan ternyata harus diperbaiki lagi, dan lagi.
Saat aku mulai bosan dan ingin menyerah? Kamu pun yang mengingatkan aku untuk tidak berhenti di tengah jalan.
Aku selalu ingat itu, hingga saat mengetik tulisan ini, dan mungkin sampai nanti tulisan ini masih bisa dibaca ulang berkali-kali.
Kamu masih ingat? Kurasa kamu pun tidak mudah melupakannya. Karena waktu yang kita lalui bersama itu tidaklah singkat; panjang dan penuh liku.

Rasanya wajar, aku mengingatmu lagi sekarang.
Kamu yang tiba-tiba menjadi asing.
Kamu yang kemudian menjauh, perlahan menghindar, dan pergi tanpa salam perpisahan.
Memang kamu tidak menemaniku sampai perjuangan terakhirku di sini. Kamu sudah menyerah lebih dulu sebelum aku menyelesaikannya. Namun tentu saja hasil yang kudapat sekarang ini, tidak terlepas dari peranmu di awal perjalanan dulu.
Ada yang asing rasanya ketika aku selesai, tanpa memberitahukanmu cerita melegakan ini. Aku ingin mengabarimu, tapi aku tak tahu harus bagaimana.
Ada yang kurang rasanya, dari sederet orang yang menyalamiku, tidak kutemukan kamu yang dulu mengulurkan tangannya menarikku yang terpeleset.

Orang yang menemaniku berjuang dari awal, sekarang tidak bisa merangkulku lagi, di kala aku telah berhasil menyelesaikannya. Rasanya wajar, aku mengingatmu lagi sekarang. Kamu masih temanku, kamu masih sahabatku, kamu masih orang yang berarti bagiku.

Jumat, 16 Februari 2018

Aku Maafkan Janjimu Dulu

Aku hanyalah tepian yang berdiri memandangi aliran sungai dan menikmati semilir angin. Diam, dan sendiri.
Kemudian beberapa orang datang, kamu salah satunya.
Kamu datang dengan menawarkan sebuah masa depan yang indah di saat aku sedang berusaha ingin fokus dengan pendidikanku. Mengganggu konsentrasiku? Tidak bisa di “judge” begitu, tapi tidak kupungkiri juga kalau tawaran itu sedikit mengusikku. Ya, sederhananya, perempuan mana yang tidak “terpikirkan” ketika ada seorang yang dengan serius menawarkan komitmen −Bukan hal main-main− padanya?
Pernah kamu berkata bahwa perempuan sepertikulah yang kamu inginkan menjadi ibu anak-anakmu, bagaimana itu tidak sebuah pujian untukku?
Namun aku yang sedang tidak memiliki kemampuan ini memberikan isyarat bahwa aku belum mampu dalam hal kesiapan saat itu, aku tidak memintamu menunggu, namun kalau kamu ingin memilih menungguku, itu hakmu. Dan dengan gagah saat itu kamu berkata “Aku tetap menginginkan perempuan sepertimu yang mendidik anak-anakku, jadi aku akan menunggumu siap, meskipun bukan atas permintaan dan keinginanmu.”
Yah, aku hanya mengingat itu sebagai sebuah janji, mungkin? Namun memang setelah itu kita tidak pernah lagi berkomunikasi, menjaga jarak dari fitnah yang mungkin mengelilingi kita. Sampai suatu waktu, belum lama ini, kamu kembali bertanya “bersediakah kamu melengkapi separuh agamaku, saat ini?” hingga saat itu kamu masih memegang janjimu. Namun tetap, aku masih belum bisa memberikan jawaban seperti keinginanmu, dan kamu kembali berjanji akan menungguku tahun depan (tahun ini) karena studiku akan selesai di tahun ini.
Dan, di saat aku sedang menikmati kesibukanku menyelesaikan pendidikan, kamu tiba-tiba kembali menyapaku, bertanya apakah undangan pernikahanmu sudah sampai padaku? 

***
Aku mempercayai Allah, adalah pengatur yang baik di atas hidup kita. Allah telah memisahkan kita dengan caranya, cara yang baik sekali. Aku yakini memang kita bukanlah berjodoh. Sehingga, kamu mendahuluiku, dipertemukan dengan jodohmu di waktu yang tepat. Kecewakah aku? Tidak sama sekali, karena keyakinanku akan Allah seperti pasrahku atas kehendakNya mengatur hidupku selama ini.
Untukmu, selamat menempuh status baru, menjadi imam dalam keluarga barumu, pergaulilah dengan baik bidadarimu, sayangi ia, bimbing ia dengan kelembutan, semoga kalian berada dalam bahtera yang sakinah, mawaddah, wa rahmah... berbahagialah...
Untuk janjimu kepadaku sebelum ini, telah kumaafkan dan sudah kulupakan.

Minggu, 28 Januari 2018

Kita

Kita memang bukanlah sepasang kekasih, tetapi ingatlah bahwa bukan berarti kita adalah dua lawan.
Dengan tidak sengaja, kita saling menyakiti. Saling menyerang dengan perasaan yang salah. Membabi buta dengan sikap yang tak tentu arah. Memberikan efek kecewa dalam kesedihan dan duka mendalam.

Kita memang bukan kekasih, tetapi.. Tidakkah sebaiknya kita baik-baik saja? Kenapa malah saling termotivasi untuk sama2 melukai?
Aku yakin, dengan tidak sengaja, tanpa kusadari, telah banyak rasa sakit yang tertanam di hatimu karena sikapku. Kekanak-kanakan, keegoisan, kegengsian, kejutekanku membawakanmu perasaan luka.
Kamu juga mungkin tanpa sadar, tidak sengaja telah menjadi sembilu di hatiku. Melambungkanku tinggi, membuatku berharap, membuatku menunggu, kemudian menghilang tanpa jejak langkah yang jelas. Tidak adanya kata perpisahan dan pertanda akan kembali bertandang.

Bersamaan dengan diriku yang kamu kecewakan, dan kesadaranku telah melukaimu, aku jadi membenci dengan menyakiti diriku sendiri. Seakan aku tidak punya lagi kepemilikan atas rasa bahagia untuk hidupku sendiri. Aku membuatnya lebih menderita lagi. Bagaimana denganmu?

Tidakkah kita memilih jalan yang salah?
Bukankah seharusnya kita saling menyemangati dan memberikan dukungan?
Haruskah kita mengakhiri kesalahan ini dengan saling melukai?

Jumat, 19 Januari 2018

,








   Maaf, aku bosan. Dan mulai terpikirkan untuk menyerah.

Jumat, 15 Desember 2017

Hari Ibu

Siapa sih yang nyiptain tanggal 22 sebagai hari ibu? Andai tidak pernah ada tanggal yang dikhususkan untuk merayakan hari ibu. Tentu air mata ini tidak keluar lagi –seperti tahun-tahun lalu–.
*
Aku merunduk mencari sendalku di tumpukan rak sepatu. Pagi itu aku ingin keluar membeli gula. Persediaan gulaku sudah habis. Sedangkan hasrat untuk ngopi tidak terbendung lagi. Di warung aku bertemu anak-anak tetangga yang tengah asyik bercakap-cakap.
“Jadi nanti malam kamu bakal ngajak mama kamu makan di restoran sama papa kamu?”
“Iya dong. Kalau kamu? Bakal ngerayain hari ibu ke mana?”
“Aku sih cuma di rumah sambil potong kue dan berfoto bersama, tidak lupa berdoa untuk ibu. Trus, kamu kasih kado apa buat mamamu?”
“Aku sama papa beliin mama baju. Hehe… kalau ibumu?”
“Foto kami sekeluarga bersama ibu, kubingkai dalam bingkai yang besar sekali. Nah… itulah kado spesialku untuk ibu.” Keduanya tertawa bersama. Kemudian mereka mulai sadar kehadiran mataku yang tak lepas menatap mereka. Seketika mereka terdiam. Seperti salah tingkah, dan tak lama memutuskan untuk pergi. Aku hanya menghela nafas.
Tidak hanya di warung, di seluruh akun jejaring sosial, setiap aku membuka halaman home, selalu terbaca “Selamat hari ibu. Hari perempuan hebat yang cintanya tak pernah palsu.” Begitulah kira-kira kalimatnya. Entah kenapa, rasanya aku (lagi-lagi) merasa tersindir dan tersisih sendiri.
*
“Dinda, ada orang tua kaya ingin bertemu kamu. Mungkin kali ini giliranmu.” Aku bangkit dengan ogah-ogahan memenuhi panggilan Kak Fatimah, kakak yang menjadi kakak anak-anak di panti ini. Meski giliran yang ia maksud adalah impian sebagian besar anak di panti ini, tapi aku merupakan salah satu anak yang enggan untuk diadopsi.
Ketika aku sampai di ruang tamu, kedua suami-istri muda itu menatapku sambil tersenyum, membalas wajah cemberutku.
“Dinda berapa umurnya?”
“13” jawabku jutek. Perempuan yang lebih pantas kupanggil kakak itu bertanya lagi.
“Dinda sekolah di mana?” sebelum menjawab, kualihkan pandangan ke arah Bu Siti, meminta penjelasan kenapa aku yang dipanggil ke ruang tamu ini, namun Bu Siti hanya diam menatapku.
“SMP Pamungkas”
“Juara ya, di sekolah?” aku hanya mengangguk dan menunduk. Khawatir kalau memang suami-istri muda ini menginginkan aku sebagai anak angkatnya.
“Dinda, tau, ini hari apa?”
“Minggu.” Jawabku. Keduanya tertawa.
“Iya, tapi ada peristiwa apa yang diperingati di hari ini?” sudah pasti maksudnya adalah hari ibu. Tapi aku enggan menjawab.
“Gini sayang, bunda sama ayah mau ngajak Dinda jalan-jalan buat memperingati hari ibu. Bu Siti udah ngizinin. Dinda mau ya?” aku menatap mata perempuan yang menamai dirinya bunda itu. Terlihat tulus. Atau memang disetting begitu oleh riasan tebalnya? Entah… kemudian kulihat Bu Siti mengangguk. Aku kembali tertunduk. Kemudian memutuskan…
*
Ibu? Mama? Atau siapapun panggilan untuk perempuan yang melahirkan anak itu. Sama sekali aku tidak pernah tau sosoknya. Kelam. Tak ada gambaran. Tapi yang jelas, yang kutahu hanyalah…
Perempuan itu telah membuangku. Perempuan itu tidak menginginkan aku menemani hari-harinya. Perempuan itu… tidak mengakui aku.
Jadi, bagaimana bisa aku mengucapkan selamat hari ibu untuk perempuan yang entah di mana itu?
Iya. Aku cemburu dan sangat iri pada setiap kali ada pemandangan ibu menggandeng tangan anaknya atau ibu mencium kening anaknya, tapi hatiku selalu berpaling dari setiap kalimat setiap teman sekolahku.
“Ibu itu orang yang selalu ada untukmu bahkan ketika seluruh dunia berpaling darimu.” Kurasa mereka memang sangat mengagungkan sosok ibu mereka. Tapi mereka lupa. Pada setiap helaan kalimat pujiaan pada ibu mereka, ada hatiku yang teriris. Aku cemburu. Aku iri. Aku juga ingin merasakan hangatnya kasih ibu seperti mereka. Tetapi, di mana ibu kandungku saat ini saja aku tidak tahu. Mendapatkan pelukannya saja aku belum pernah, bagaimana kau bisa merindukan rasa pelukan yang tidak pernah ada?
Kuhapus tetesan terakhir air mataku. Kemudian meneruskan melipat baju bagus yang baru saja kukenakan untuk jalan-jalan dengan ayah dan bunda tadi.

Kamis, 09 November 2017

Jadilah si "Tidak Peduli" daripada Pembenci

Seberapa banyak kita memiliki orang lain di hati kita, masuk dalam kategori orang-orang yang tidak kita sukai? Kurang dari 5? Lebih dari 5? 10? 20? Tahu persiskah kita apa alasan kita menempatkan mereka pada golongan orang yang kita tidak sukai? Logiskah alasan itu?

Kehidupan seperti apapun, tentu ada saja konflik dan masalah yang terjadi, meskipun dengan bersusah payah kita hindari untuk bermasalah dengan orang lain. Namun, pilihan kita untuk menempatkan perasaan kita pada orang tersebut. Apakah kita harus membencinya atau tidak? Kadar kebenciannya tinggi atau tidak? 

Ada saja, seseorang yang baru mendengar nama orang yang dibenci saja sudah langsung badmood. Ada juga, walaupun bertemu dengan orang yang tidak disukai, ia masih bisa bersikap normal dan biasa saja, memperlihatkan seolah hatinya berdamai dengan orang tersebut.

Jadilah si tidak peduli daripada pembenci. Sengaja tulisan ini ditulis hari ini. Barusan, ada kejadian di samping saya, seseorang yang di hatinya menyimpan kebencian yang dalam terhadap seseorang, mencak-mencak begitu mengetahui yang dibenci tengah berbahagia, padahal tidak membuatnya terlukai sedikitpun. Namun, hati yang membenci, tetap mencari celah untuk tidak menyukai. Hampir setiap hari peduli, mencari tahu, tentang orang yang tidak disukai. Dapat apa? Hati yang semakin keras dengan kebenciannya. Lelah dengan kebencian yang menguras kalori, tidak kenyang.

Untuk apa kita terlalu peduli? Bukankah lebih baik kita tak acuh dengan orang yang tidak kita sukai, ketimbang menyediakan waktu kita untuk memperhatikan hidupnya? Jadilah tidak peduli daripada pembenci, karena lebih aman, tentram, dan mengurangi potensi dosa.